Perjalanan Singkat Pemikiran Stoisisme: dari Zeno hingga Epictetus dan Marcus Aurelius

Kita telah membicarakan tentang prinsip-prinsip dasar filsafat stoisisme pada bagian sebelumnya, kini kita menguraikan secara sekilas perkembang filsafat stoisisme dari Zeno, selaku pendirinya, hingga sampai ke Romawi di tangan Epictetus dan Marcus Aurelius.

Zeno adalah orang Phoenica, yang lahir di Citium, wilayah Crypus, pada paruh terakhir abad ke-4 SM. Konon ia adalah anak saudagar yang kaya raya. Adalah sebuah keperluan bisnis yang membuat Zeno dan keluarganya pergi ke Athena.

Di kota para filsuf klasik tersebut, Zeno tertarik untuk belajar filsafat, utamanya ketika ia mempelajari tentang pandangan Socrates tentang kehidupan. Pada gilirannya sosok Socrates menjadi nabi bagi kaum stoa, utamanya penekanan pada keutamaan diri dan tidak terlalu memperdulikan persoalan-persoalan jasmani.

Beberapa pemikiran dasar Zeno, dan juga inti pemikiran stoa sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya, sehingga saya tidak merasa perlu mengulangi penjelasan yang sama tentang penekanannya tentang keutamaan.

Yang belum disinggung adalah bagaimana Zeno menjadi pengikut Heraklitos dalam segi pemikirann tentang terciptanya alam semesta bermula dari api yang bergerak terus-menerus.

Pada mulanya, dunia ini bermula dari api. Kemudian dari api melahirkan unsur-unsur lain: tanah, udara, air dan sebagainya. Cepat atau lambat terjadilan kebakaran kosmik , dan keseluruhan jagat menjadi api tanpa terkecuali.

Peristiwa ini bukan akhir dari dunia, berbeda dengan pandangan agama tentang kiamat. Zeno berpandangan bahwa akan muncul lagi siklus dunia yang terbakar dan dari api lahirlah kembali dunia. Alam semesta hari ini sudah pernah mengalami kejadian serupa dan akan mengulanginya kembali

Zeno berpandangan bahwa Tuhan adalah akal dunia dari api ilahiyah yang penuh gelora. Ia adalah substansi jasmani, dan seluruh alam semesta ini adalah hasil dari subtansi diri Tuhan. Tuhan (bisa juga akal mutlak atau Dewa) adalah penggerak materi di alam semesta ini.

Dan keseluruhan mekanisme terciptanya dunia yang bersifat materi ini berjalan seturut dengan hukum alam yang secara keseluruhan bekerja untuk kepentingan manusia semata.

Watak filsafat Zeno sangat kental materialis yang berlangsung pula pada upaya perobahan terhadap pemikiran Yunani yang cenderung metafisis.

Penerus ajaran stoa seletah Zeno adalah Cleanthes dari Assos. Ia terkenal karena dua pandangannya:

Pertama, Aristarchus dari Samos harus dihukum mati karena berpendapat bahwa matahari adalah pusat alam. Menurut Cleanthes, dan juga tidak langsung dari Zeno, bumi adalah pusat alam semesta karena di sanalah manusia hidup. Matahari hadir karena memenuhi kebutuhan manusia di bumi semata.

Kedua, penekanan untuk minta bimbingan Tuhan (Zeus) agar bisa memiliki kesesuaian dengan kehendaknya.

Cleanthes meyakini bahwa jiwa manusia setelah terjadinya kebakaran kosmik menyeluruh membuatnya kembali menyatu kepada Tuhan.

Penerus Cleanthes adalah Chrysippus menambahi bahwa jiwa yang kembali pada Tuhan hanya berlaku bagi orang baik saja.   Chrysippus adalah penulis yang sangat produktif. Ia berpandangan bahwa Zeus adalah Tuhan api yang tertinggi, sedangkan dewa-dewa lain seperti bulan dan matahari dibawahnya karena itu bisa mati dan tidak abadi.

Berbeda dengan kaum stoa lainnya yang hanya menekankan aspek etika yang berlebihan, Chrysippus mencakup pembahasan yang lebih luas bagaimana mempersepsikan pengetahuan empiris melalui kerangka logis. Ia juga menilai bahwa ada yang namanya consensus gentium, asas tentang kesepakatan umum untuk bekerja sebagai premis mayor dalam logika.

Terjadi perombakan besar dalam ajaran stoisisme ketika ditangan Panaetius dan Posidonius. Panaetius lebih bercorak platonik dan berangsur-angsur membawa stoisisme meninggalkan penekanan materalisme seperti ajaran Zeno.

Ia pulalah yang mempengaruhi Cicero yang membuat stoisisme populer di Romawi. Posidonius adalah guru langsung dari Cicero.

Panaetius, dekat dengan ajaran Plato, berkebalikan dengan pandangan stoisisme sebelumnya yang menyatakan bahwa jiwa manusia lenyap bersamaan dengan kebakaran kosmik, ia meyakini jiwa manusia akan tetap hidup di udara dan tetap abadi hingga kiamat mutlak terjadi.

Jiwa jahat kondisinya dekat dengan bumi yang berpeluang besar mengalami reinkarnasi menjadi hewan. Sedangkan jiwa baik terbang ke langit bersama bintang dan mengamati kosmik secara langsung. Jiwa yang baik juga bisa menolong jiwa buruk yang terdampar di bumi dan mengalami siklus reinkarnasi.

Dari sisi historis, perkembangan stoisisme mengalami perluasan pengaruh di tangan tiga tokoh besar dari Romawi: Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.

Seneca adalah politisi yang berasal dari orang Spanyol, dan ayahnya adalah kaum terdidik dari Romawi. Kendati memiliki keserupaan dengan pandangan stoisisme bahwa ia memandang rendah dunia, namun dikisahkan ia menimbun banyak harta benda dengan menjadi rentenir: meminjamkan uang di Inggris dengan bunga yang besar.

Meskipun demikian, sejarah setelah kematiannya hingga sekarang mengenang dirinya dalam petuah-petuah bijak Seneca, tanpa kita peduli perilakunya semasa hidup.

Epicetus adalah orang Yunani, ia diperkirakan lahir tahun 60 M dan meninggal kira-kira 100 M. Semula ia adalah budak dari Epaphroditus. Kakinya picang akibat siksaan yang ia terima semasa menjadi budak. Ada yang bilang ia lahir dengan kondisi yang kurang menguntungkan.

Epictetus Stoisisme
(Epictetus, tokoh besar stoisisime. Sumber Gambar: Wikipedia)

Epictetus tidak lelah untuk memberikan nasihat bagaimana manusia harusnya bersikap terdahap penderitaan. Ia menekankan untuk bisa memperoleh kebahagiaan, meski dalam kondisi prihatin adalah “keterbebasan dari nafsu dan gangguan, suatu perasaan bahwa urusan-urusanmu tidak tergantung lagi pada pada siapa pun”.

Sebagaimana pula tentang determinasi kosmik dan kebebasan manusia yang kita telah bahas pada tulisan sebelumnya, Epictetus menekankan bahwa diri kita ini hanyalah lakon yang perlu memainkan peran sesuai dengan naskah yang sudah disiapkan oleh hukum alam.

Marcus Aurelius, perkiraan lahir tahun 121 M dan meninggal tahun 180 M , adalah filsuf dari golong raja. Ia adalah putra angkat Kaisar Antoninus Pius yang setelahnya posisi kaisar dipegang oleh Marcus Aurelius.

Marcus Aurelius mengatakan bahwa hidup selaras dengan alam semesta merupakan hal yang sangat baik mencapai keutamaan; selaras dengan alam semesta sama halnya dengan menjalankan takdir Tuhan.

Marcus Aurelius juga menasehati manusia agar tidak meremehkan peristiwa sekecil apa pun, karena semuanya sudah ditentukan sejak zaman azali. Ia juga berpendapat bahwa setiap diri manusia memiliki satu setan yang selalu mengikuti.

Menjadi diskusi yang menarik bagaimana Epictetus yang berlatarbelakang budak, dan Marcus Aurelius adalah seorang raja ternyata memiliki pemikiran secara garis besar sama persis. Kendati faktor sejarah hidup mampu membentuk pemikiran yang membuat satu filsuf dengan filsuf yang lain bisa jadi sangat berbeda, tapi riwayat pribadi bisa diabaikan. Nyatanya, Epictetus dan Marcus Aurelius memiliki keserupaan.

Para filsuf adalah orang yang bisa bijaksana dan berpikiran luas sehingga mereka mampu menundukkan faktor kesejarahan pribadinya dalam membentuk pemikirannya. Namun hal yang tidak bisa mereka lampaui adalah tentang persolan seputar moral yang tidak bisa lebih jauh dari zaman dimana mereka hidup.

Doktrin menarik lainnya dari stoisisme adalah bahwa pada dasarnya manusia sederajat, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Marcus Aurelius mengandaikan adanya sebuah tatanan kekuasaan dimana raja menjunjung tinggi kebebasan setiap manusia yang setara.

Meski di imperium Romawi belum bisa terealisasi secara sempurna, namun hukum menjadi salah satu instrument menciptakan keadilan yang setara bagi setiap manusia, yang mampu meningkat derajat budak dan perempuan. .

Doktrin tentang kesetaraan dan beberapa topik besar lainnya dari stoa kemudian diambil alih oleh Kristen. Hingga menemukan momentumnya, doktrin-doktrin stoa tentang determinasi alam dan kesetraan natural bagi setiap individu manusia dipergunakan oleh teologi Kristiani untuk menggempur kekuasaan para raja yang despostik.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Stoisisme” hal. 344-367.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Protagoras, Pemimpin Kaum Sofis

Leucippus dan Demokritos, Pelopor Filsafat Atomis

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments