lang="en-US"UTF-8"> Pengertian "No bourgeois, No Democracy" Menurut Barrington Moore - Pojokwacana.com
singlearticle

Pengertian “No bourgeois, No Democracy” Menurut Barrington Moore

Setelah pada bagian sebelumnya saya telah mendiskusikan pemikiran Lipset dan Vanhanen, kali ini kita akan beralih pada satu tokoh lain yang juga berbicara basis ekonomi dan kekuatan sosial dalam proses terwujudnya demokratisasi. Ia adalah Barrington Moore.

Baca tulisan sebelumnya: Hubungan Demokrasi dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut Seymour Martin Lipset

Melalui bukunya yang berjudul “Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasent in the Making of the Modern Word” (1974), ia ingin memberikan penjelasan tentang proses transformasi masyarakat agrikultural menuju masyarakat industri modern. Pendekatannya lekat dengan perspektif Neo-Marxian sehingga ia lebih melihat pada pergulatan sejarah dalam aspek relasi antar kelas.

Dalam kesimpulannya, ia menyatakan ada tiga rute perjalanan sejarah (historical route) yang ditinjau dari relasi antar kelas: dari masyarakat yang bercorak pertanian menuju masyarakat industri modern. Tiga lintasan sejarah itu adalah: demokrasi kapitalis atau kapitalis demokratis (capitalist democratic), kapitalis reaksioner (capitalist reactionary), dan komunis (communism). Kita akan bahas satu-persatu dengan ringkas saja.

Capitalist democratic merupakan model dari transformasi di Inggris, Prancis dan Amerika Serikat yang menimbulkan terwujudnya demokrasi parlementer. Model rute ini digambarkan bagaimana petani berada pada posisi tertekan oleh kekuasaan ekonomi dan politik di bawah para borjuis dan para tuan tanah yang bekerjasama menindas petani.

Para borjuis muncul sangat kuat di negara-negara tersebut dan aristokrasi tidak melakukan upaya demokratisasi untuk menghancurkan borjuis dan bahkan bekerjasama. Aliansi yang terbentuk antara borjuis dan para aristokrat atau tuan tanah ini berlangsung begitu mesra untuk bekerjasama mendorong terwujudnya proses peralihan masyarakat agraris yang komersil menuju industrialisasi. Dengan kerjasama antara borjuis dan aristokrat serta lemahnya para petani disana, maka terciptalah demokrasi kapitalis.

Capitalist reactionary  merupakan model dari transformasi masyarakat di Jerman dan Jepang dimana borjuis dan aristokrasi lebih lemah dari pada model sebelumnya. Sedangkan petani memiliki kekuatan untuk menekan dan mendorong kepentingan mereka. Akhirnya, para petani menjadi ancaman bagi borjuis dan aristokrat. Akibatnya, borjuis dan aristokrasi bekerjasama untuk mengamankan kepentingan ekonomi para petani.

Petani dan kelas sosial lainnya memiliki otonomi yang independen. Namun sayangnya, terjadi krisis ekonomi dalam negara-negara tersebut. Krisis itu memunculkan seorang pemimpin fasis melakukan revolusi dari bawah. Akhirnya, ketika pemimpin itu berhasil melakukan revolusi, maka sistem pemerintahannya adalah fasis dan diktator.

Communism merupakan model dari transformasi sosial yang berlangsung di Cina dan Rusia dimana para petani menjadi agen penting perubahan sosial. Tidak pula terdapat stratifikasi sosial diantara para petani sehingga mereka mudah untuk bersatu menggalang kekuatan. Sedangkan aristokrasi juga posisinya lemah.

Akhirnya tidak tercipta komersialisasi agrarian dan industri yang pesat sehingga borjuis tidak muncul. Petani lebih memiliki kendali atas negara dibanding aristokrasi. Singkat saja, petani melakukan revolusi dari bawah yang akhirnya memunculkan sistem komunis diktator.

Dari tiga model yang dipaparkan oleh Moore, jika dikaitkan dalam topik kita kali ini tentang terjadinya proses demokratisasi, maka dapat ditemukan di model yang pertama, yakni Capitalist democratic atau demokrasi kapitalis. Kondisi yang menentukan terciptanya suatu tatanan demokrasi, menurut Moore, adalah adanya persatuan dari kaum borjuis dan aristokrat. Tanpa ada borjuis yang kuat, seperti di model Capitalist reactionary dan Communism, maka demokrasi tidak akan terwujud.

(Sumber Gambar: IG/Pojokbookstore)

Jika sebelumnya Lipset berbicara tentang pertumbuhan ekonomi sebagai faktor bagi keberlangsungan demokrasi, Vanhanen berbicara tentang distribusi sumber daya kekuasaan yang menjadi penentu demokratisasi, kini Moore menyatakan bahwa tanpa munculnya suatu elit borjuis, maka demokrasi tidak akan ada. Intinya, keberadaan borjuis dibutuhkan untuk menciptakan tatanan negara demokrasi.

Suatu jargon yang populer dari Moore adalah “No bourgeois, no democracy”, jika borjuis tidak muncul, atau tidak ada revolusi yang dihasilkan borjuis, maka tidak akan tercipta tatanan demokrasi. Demokrasi tidak lebih dari sebuah hasil dari ekspresi kepentingan kaum borjuis.

 

Rujukan

Moore, Barington. 1974. Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasent in the Making of the Modern Word. Middlesex & Victoria: Penguin University Books.