Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli dalam “Il Principe”

Machiavelli Il Principe

Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli dalam “Il Principe”

 

Kutipan saran Machiavelli kepada penguasa:

“Dan harus dipahami bahwa, khususnya pangeran yang baru, tidak dapat melihat semua hal yang dianggap baik untuk dimiliki oleh seseorang, karena sering diharuskan untuk mempertahankan negara, untuk bertidak bertentangan dengan kepercayaan, derma, kemanusiaan dan agama, dan karenanya harus memiliki pikiran yang fleksibel seperti angin…. Tidak menyimpang dari apa yang baik, apabila mungkin, namun dapat melakukan kejahatan apabila diharuskan” (Machiavelli, 2014: 126).

Il Principe Machiavelli
(Cover Buku “Il Principe” karya Machiavelli dalam versi terjemahan bahasa Indonesia, Penerbit Narasi)

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Jika hanya karena anjurannya terhadap penguasa agar bersedia menghapus moralitas dalam mencapai tujuan politik, rasa-rasanya karya Niccolo Machivalli, utamanya dalam “Il Principe”, tidak begitu penting untuk senantiasa diperbincangkan dalam diskusi Filsafat.

Salah satu sarannya yang populer misalnya menghianati teman, mengingkari janji, berbohong, membunuh, dan sederet nasihat lainnya menjadikan sosok Machiavelli sebagai “teoritis kejahatan politik”.

Jangankan di era sekarang dengan seperangkat sistem moral yang membuat kita mudah bersikap sinis terhadap Machiavelli, di zaman ketika Machiavelli hidup pun perundungan karena anti-moral semacam itu sudah berlangsung.

Bahkan dalam “Il Principe” sendiri, Machiavelli menuturkan berbagai kualitas moral utama seperti taat beragama dan kejujuran adalah anjuran utama. Ia sepenuhnya menyadari bahwa bagaimana mencapai tujuan politik dengan cara-cara luhur adalah nasihat terbaik.

Namun kenapa Machiavelli memberi arahan sebaliknya?

Ia menyadari bahwa guna mencapai tujuan-tujuan luhur politik (kejayaan dan kehormatan negara) melalui sarana-sarana kebajikan moral adalah tidak realistis. Terdapat situasi yang mendorong penguasa, terutama penguasa baru, agar memiliki kerendahan hati melakukan perbuatan-perbuatan sebaliknya demi kepentingan politik yang lebih besar.

Ulasan ini sekaligus menjelaskan bahwa Machiavelli membawa diskusi politik ke dalam ranah yang realistis, dan tidak mengawang-awang layaknya Plato tentang pemikiran politik utopisnya. Machiavelli mengajak untuk melihat realitas politik sebagaimana adanya (realisme), bukan sebagaimana seharusnya (normatif).

Seturut dengan pembacaan sejarah dan pengalamannya sebagai diplomat, ia menyaksikan langsung bahwa terdapat ketegangan serius antara praktik politik dan moralitas, sebagaimana ia tuangkan dalam “Il Princip”. Gamblangnya, ada sekumpulan kondisi yang membuat penguasa tidak bisa berperilaku baik dan harus sebaliknya demi keutuhan politik.

Lantas bagaimana cara menyikapinya?

Pertanyaan di atas mengarah pada inti pemikiran Machiavelli tentang virtue dan fortune. Virtue adalah obyektivitas moral tergantung kondisi dan kelihaian bagi penguasa untuk tetap bisa mempertahankan kekuasaannya dalam menghadapi kekuatan fotune.

Sederhanya, fortune adalah kekuatan di luar diri manusia yang turut mempengaruhi keberhasilan kekuasaan politik.

Di sini kemudian pelajaran penting dari Machiavelli bagaimana memanfaatkan sejarah dan kemudian berusaha mendekteksi hukum kausalitas bagi tindakan politik yang efektif. Dari virtue dan fortune ini kemudian Machiavelli memberikan pondasi bagi teori tindakan untuk keberhasilan politik.

Jika ada sebuah kekuasaan seperti Romawi yang berjaya ratusan tahun, pertanyaan yang patut diajukan adalah bagaimana cara mereka menata politiknya sehingga kita bisa meniru kesuksesan yang sama bagi politik hari ini. Tentu, Machiavelli menyadari bahwa tidak selalu hasil telaah kausalitas sejarah menjadi faktor determinasi bagi sejarah berikutnya.

Hal ini lantaran ada fortune yang bisa ikut campur dalam menggagalkan pengulangan sejarah. Namun hanya dengan itu adalah cara paling tepat bagi manusia dalam menghadapi kekuasaan alam atau Tuhan.

Sepanjang buku “Il Principe”, Machiavelli menekankan terdapat dua anjuran utama bagi virtue seorang penguasa agar bisa mempertahankan kekuasaan: sistem hukum yang baik dan kekuasaan militer.

Keduanya sama-sama penting dan tidak bisa dihilangkan salah satunya. Sistem hukum yang baik tapi tidak didukung oleh aparat koersif militer tidak akan terealisasi dengan baik, begitu pula pasukan yang hebat tapi tidak memiliki aturan juga sama saja.

Sepanjang buku “Il Principe”, Machiavelli memaparkan panjang lebar betapa pentingnya peran militer dalam sebuah bangunan kekuasaan. Ia juga mengatakan para nabi yang sukses adalah mereka yang memiliki bala tentara yang kuat.

Ia juga menyarankan untuk tidak menggunakan tentara bayaran (sewaan) dan tentara bantuan (dari negeri lain). Tentara harus dari unsur rakyat sendiri. Bahkan Machiavelli terlihat sangat berlebihan ketika mengatakan tugas penguasa yang sejati adalah menguasai teknik militer, dan tidak fokus ke hal lain kecuali disiplin militer. Bagi Machiavelli, penguasa yang tidak paham militer akan tidak dihargai oleh pasukan militernya.

Dalam “Il Principe”, ia juga menyarankan bahwa penguasa harus memiliki sifat layaknya singa dan rubah. Kadang harus kejam dan kadang harus bisa berpura-pura.

Kiranya saya tidak merasa perlu memerinci lebih jauh tentang sekumpulan nasihat-nasihat Machiavelli kepada penguasa. Silahkan baca sendiri!

Poin penting yang ingin disampaikan adalah segala tindakan yang dilakukan penguasa hendaknya adalah wujud dari virtue-virtue dari penguasa-pengusa sebelumnya yang dianggap telah sukses, meski karena kebutuhan harus bertindak keji dan penuh kebohongan.

Sesampai pada bab terakhir buku “Il Principe”, kita bisa merasakan suasana batin dan harapan Machiavelli bagi persatuan dan kejayaan Italia seperti Roma tempo dulu. Sejarah telah mancatat setelah serbuah dari Charles VIII, raja Prancis, menginvasi Italia, bisa dibilang negara-kota di semenanjung Italia selalu berada dalam perebutan pengaruh asing, baik dari Francis dan Spanyol.

Italia benar-benar kehilangan harga dirinya di tengah nasib yang tidak menentu. Anjuran Machiavelli dalam Il Principe ditujukan kepada penguasa Medici.

Kala itu penguasanya adalah Giovanni de Medici setelah berhasil merebut kekuasaan dari Soderini dan mendapatkan berkah sebagai Paus Leo X.. Machiavelli berharap dengan keberuntungan (fortune) berlapis-lapis tersebut adalah wajar cita-cita persatuan dan kejayaan Italia kembali terwujud melalui Medici.

Dengan konteks kesejarahan di atas, meski Machiavelli terkenal menganjurkan penghapusan moral secara total dalam praktik politik, tujuan bagi upaya mempertahankan kekuasaan dan mencapai kemuliaan adalah paling utama. Tujuannya baik dan meski dengan cara-cara yang dianggap kurang baik, itu yang realistis dilakukan.

Konsekuensi dari pemahaman di atas, Machiavelli menghendaki kebijakan yang tidak bermoral harus tetap memperhatikan tujuan mulia politik bagi negara, dan bukan bagi kepentingan pribadi dan golongan. Alasan itu yang membuat Machiavelli membenci perilku korup pejabat karena tindakan itu adalah tindakan egois semata, bukan demi kepentingan bersama.

Agaknya sebagian besar dari kita ingin tujuan baik dengan cara yang baik pula.

 

 

Baca Juga:

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

Perjalanan Singkat Pemikiran Stoisisme: dari Zeno hingga Epictetus dan Marcus Aurelius

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments