Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

Plotinus Neoplatonisme

Pendiri mazhab Neoplatonisme adalah Plotinus (204-270 SM). Ia merupakan filsuf besar terakhir di zaman antik Yunani dan Romawi. Beberapa tahun menjelang kelahiran dan masa hidupnya, kondisi Imperium Romawi sedang berada di puncak kebobrokannya.

Para tentara menyadari kemampuan mereka dan bisa mengangkat kaisar dengan imbalan uang, dan bisa seketika menggulingkan kaisar agar menjadi kursi kosong untuk memperdagangkan Romawi.

Kondisi itu diperparah oleh serbuan tentara Jerman dari Utara dan Persia dari Timur. Selain perang, wabah penyakit juga menimpah Romawi yang mengakibatkan hingga sepertiga warga negaranya meninggal dunia.

Kebijakan perang dan atas dasar pemulihan kekuasaan menjadikan adanya pajak progresif yang lebih tinggi bagi rakyat. Bangsawan terkemuka lebih memilih meninggalkan Romawi yang semakin memburuk.

Selepas setelah kematian Plotinus, baru Imperium Romawi kembali ditegakkan oleh kebijakan-kebijakan tegas dari Deocetian dan Constatine.

Kondisi ini sekadar menggambarkan bagaimana konteks zaman Plotinus hadir yang diwarnai oleh kekacauan demi kekacauan.

Plotinus dalam karya-karyanya sama sekali tidak menyinggung hal-hal yang sudah kita bahas tentang kondisi Romawi. Plotinus nampaknya lebih memilih untuk memanglingkn perhatiannya dari hiruk-pikuk penuh penderitaan di dunia nyata kepada kebaikan dan imajinasi dunia yang ideal. Mungkin sama halnya Plato ketika berimajinasi tentang dunia ideal seperti dongeng negeri Atlantis.

Bagi pemikir yang serius sezamannya, apa yang dilakukan Plotinus untuk berkontemplasi adalah wajar belaka. Ajaran Plotinus untuk lebih memusatkan ke dalam diri dengan perhatian pada pada keselamatan menjadi pondasi yang turut mempengaruhi ajaran agam Kristen.

Bahkan Dean Inge menilai bahwa “Neoplatonisme adalah bagian dari struktur utama teologi Kristen”. Kristen maupun Pagan juga menilai dunia nyata tidak bisa memberikan harapan, dan kebaikan hanya ada di dunia lain dan menjadi satu-satunya yang patut untuk diberikan totalitas kesetiaan.

Sebagai pendiri neoplatonisme, Plotinus memiliku arti penting secara historis karena dia adalah awal dan akhir. Akhir karena ia adalah filsuf besar terakhir di zaman antik, sedangkan awal adalah karena ia yang menjadi filsuf bagi pondasi teologi Kristen di zaman Abad Pertengahan.

Santo Agustinus pernah mengungkapkan bahwa Plato adalah filsuf paling jernih pikirannya, dan melalui Plotinus, sosok dan ajaran Plato dihidupkan lagi.

Plotinus Neoplatonisme
(Plotinus. Sumber Gambar: Wikipedia)

Tentang kaitannya dengan Plato, ajaran dan sosok Plato sebenarnya tidak sepenuhnya hadir dalam Neoplotinus. Beberapa aspek Plato memang menonjol, misalnya tentang dunia ide, doktrin mistik dalam “Phaedo” dan “Republik”, topik cinta dalam “Simposium”, yang sangat kental membentuk corak pemikiran neoplatonisme yang termuat dalam “Enneads” (sebutan untuk buku-buku ajaran Plotinus).

Beberapa hal dari Plato tidak mendapatkan perhatian dalam neoplatonis seperti matematika, penghargaan besar tehadap individu dan utamanya karakter Plato yang ceria tidak tampil. Neoplatonisme mencirikan sebuah sikap muram yang menandai zamannya.

Konsep metafisika Plotinus atau mazhab neoplatonisme terdiri dari apa yang disebut sebagai “Trinitas Suci”, yang terdiri dari Yang Esa, ruh, dan jiwa. Jangan segera disamakan dengan konsep trinitas dalam Kristiani karena memiliki perbedaan.

Yang Esa kadang dikonsepsikan sebagai Tuhan, dan kadang adalah kebaikan itu sendiri. Segala sesuatu yang kita sebut “Ada“ sebenarnya berawal dari Yang Esa. Kita tidak diperkenankan memberi atau membumbui predikat apa pun kepada Yang Esa, kita hanya cukup menyebut dengan kata “Dia”.

Adalah keliru jika mengatakan bahwa Tuhan adalah segalanya, seperti pemahaman Stoisisme yang sudah kita bahas. Yang benar, Tuhan mengurusi segala hal dan senantiasa hadir, tanpa perlu ada kata tiba, dalam segala hal.

Mengenai diri-Nya yang tak terdefinisikan secara jelas mengakibatkan kita bisa lebih menemukan kebenaran yang terkandung dalam diam, daripada bentuk kata-kata apa pun yang mewakilinya.

Pribadi Kedua dari trinitas suci Plotinus adalah ruh. Asal kata sebenarnya adalah “nous”. Cukup rumit untuk mencari padanan yang bisa mewakili pemikiran metafisik Plotinus jika hanya menyandarkan pada kata Inggris sekarang.

Sinonim dari akal (mind). Kata yang cukup tepat, sebagaimana penjelasan dari Dean Inge, adalah ruh dengan catatan ia mengandung sebuah konotasi yang meliputi kehendak intelektual di dalamnya. Dengan demikian ruh sebagai terjemah dari “nous” tidak sebagaimana ruh yang kita pahami hari ini.

Ruh atau nous adalah citra dari Yang Esa. Ia tercipta dariNya di dalam upayanya pencarian diri sendiri. Wawassan tentang Kedirian Yang Esa akhirnya terkandung dalam nous. Ruh adalah sesuatu yang Ada tanpa terpecah melalui bagian-bagian serta memandang dan dipandang pada hal yang tunggal: Yang Esa.

Pembaca yang akrab dengan analogi matahari dalam dunia ide Plato tentu tidak asing dengan pemahaman nous ala Plotinus.

Plato menggambarkan bagaimana matahari mengeluarkan sinar yang menyinari alam semesta sekaligus memantulkan sinar itu sendiri kepada diri matahari. Sehingga nous ala Plotinus adalah cahaya yang dengan itu maka yang Esa memandang dirinya sendiri.

Jika seorang manusia mampu menyingkap tabir kepalsuan duniawi atau kenikmatan jasmani yang memenjarakan tubuh selama ini, kita bisa masuk ke dalam diri kita untuk bisa mencapai derajat ilham kekuatan ilahi.

Jika kita memperoleh ilham dan kekuatan ilahi kita tidak hanya mmelihat pada nous dalam diri manusia, tapi sekaligus juga melihat Yang Esa. Ketika kita bisa bersentuhan dengan ilahi, kita menjadi tidak bisa mengungkap bagaimana kebenaran sejati itu melalui kata-kata.

Visi utama manusia adalah bisa mencapai derajat agar bisa melihat Yang Maha Agung, dan bukan pandangan semu dari pengetahuan yang lain. Di sanalah kita bisa menemukan visi sejati kehidupan dan yang merupakan tujuan utama manusia untuk kembali pada Yang Esa. Jiwa yang terang. Di sanalah cahaya terang sejati manusia dari Yang Maha Agung berlangsung. Kita bisa melihat cahaya matahari sebagaimana matahari melihat dirinya sendiri.

Anggota Trinitas ketiga adalah jiwa (spirit) yang derajatnya paling rendah dibanding Yang Esa dan Ruh. Jiwa adalah pencipta dari segala sesuatu. Jiwa, meski berkedudukan paling rendah, ialah yang menciptakan matahari, bulan, bumi dan seluruh isi dunia yang kasat mata ini.

Alhasil, materi diciptakan oleh jiwa, dimana jiwa itu sendiri adalah bersifat mandiri. Ia memiliki momentum ketika sendiri, dan ada saatnya ia harus turun untuk memasuki tubuh-tubuh tertentu. bagi manusia, jiwa adalah esensi. Dan esensi jiwa bersifat kekal.

Menurut Plotinus, jiwa bersifat ganda. Ada bagian dalam jiwa yang mengarah pada nous, dan ada jiwa yang memandang ke wilayah eksternal. Bentuk kedua adalah kualitas yang menurun sehingga jiwa menciptakan citranya berupa alam dan dunia inderawi.

Pemahaman ini sekali lagi berbeda dengan filsafat stoisisme yang memandang bahwa alam semesta tak ubahnya jelmaan Tuhan dan takdir Tuhan itu sendiri. Sehingga, kedudukan alam semesta sama halnya dengan kedudukan Tuhan.

Plotinus bekeyakinan sebaliknya, alam semesta sebagai wujud terendah dari ciptaan jiwa (wilayah ekstrenal) karena ia tidak menghadap pada nous.

Senada dengan pandangan Plato, dunia kasat mata ini adalah tiruan atau salinan yang tidak sempurna dari jiwa.

Meski demikian, patut dicatat, Plotinus tidak menghardik dunia ini sebagaimana kaum Sinisime atau Gnos yang begitu menyepelehkan dan memandang rendah duniawi. Duniawi yang indah adalah tempat bagi ruh yang baik.

Plotinus tidak mencela dunia inderawi, namun hanya mendudukkannya sebagai lebih rendah daripada dunia intelek. Dimana dunia intelek (terkandung dalam nous) berada di antara Yang Esa dan jiwa sebagaimana sudah kita singgung.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Plotinus” hal. 387-404.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Filsafat Empedokles: Cinta dan Perselisihan Abadi, Alam Semesta yang Bersifat Kebetulan

Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments