Pemikiran Filsafat Emanasi Al-Farabi

Al-Farabi

Emanasi merupakan pemikiran besar Al-Farabi yang berkaitan dengan aspek ontologis (realitas wujud). Ia adalah filsuf Islam pertama yang memperkenalkan konsep emanasi ke dalam ajaran filsafat Islam (Khudori, 2016).

Emanasi sendiri adalah sebuah pandangan bahwa alam semesta ini lahir berkat pancaran dari Yang Esa. Tentu sewajarnya pembaca masih ingat pemikiran ini awalnya dari Plotinus, pendiri mazhab Platonisme. Plotinus berargumen bahwa terdapat “trinitas suci” dalam kajian metafisikanya: Yang Esa, Ruh (nous), dan jiwa (Russell, 2021).

Yang Esa adalah sumber segala sesuatu yang memunculkan pancaran bagi ruh sehingga silau yang merupakan timbal-balik membuat Yang Esa mampu melihat dirinya sendiri. Pemahaman ini seperti analog Plato yang populer dalam “Republik” tentang matahari yang memancarkan dirinya melalui cahaya.

Berkat pantulan dari cahaya, yang sebenarnya adalah dari dirinya sendiri, maka matahari dapat terlihat dan bisa melihat dirinya sendiri. Sinar cahaya yang memantul itulah nous.

Penerjemahannya yang lebih pas memang “ruh”, namun di dalam kandungan ruh itu harus memuat pelbagai kualitas visi intelektual yang Esa di dalamnya. Tidak seperti ruh yang umum kita pahami.

Ketiga adalah jiwa (spirit) yang terbagi menghadap ke dua arah: ke internal dan eksternal. Jika ia melihat ke dalam nous (internal), maka ia memancarkan realitas Yang Esa dan mampu menyikap nous sekaligus yang Esa. Jika ia mengarah ke luar akhirnya mengaliri terciptanya segala realitas inderawi atau empiris (alam semesta).

Pandangan demikian yang nampak jelas mempengaruhi pemikiran emanasi AL-Farabi. Ia mengatakan bahwa Yang Pertama atau Sumber Pertama memancarkan cahaya layaknya api memancarkan panasnya.

Keseluruhan rangkaian dari pencahayaan yang bersumber dari Sumber Pertama mewujud menjadi seluruh bentuk alam semesta. Tidak ketinggalan setiap pancaran yang menghasilkan makhluk memiliki hierarkis tertinggi hingga ke rendah, sama persis dengan Plotinus.

Wujud yang pertama adalah tentu paling mulia karena paling dekat dengan Sumber Pertama. Al-Farabi memerinci 11 wujud dari pancaran tersebut. Pancaran pertama itu adalah sebuah esensi murni yang terbebas dari materi.

Pancaran ini hanya memikirkan Yang Esa dan dirinya sendiri. Aktifitas dari memikirkan yang pertama dan dirinya sendiri beruturut-turut melahirkan bentuk makhluk yang ada di level bawahnya (Khudori, 2016).

Kata Yang Pertama dan Sumber Pertama sebagai awal mula segala sesuatu juga mengindikasikan pengaruh Aristoteles tentang gerak yang tidak digerakkan. Dalam alam kebudayaan Islam, tentu Yang Pertama atau Sumber pertama merujuk pada Allah SWT.

Al-Farabi lebih jauh merinci terdapat tiga belas sifat yang wajib melekat di dalam Sumber Pertama atau Allah, diantaranya: tidak punya sekutu, tidak kenal istilah ada dan tiada, bebas dari materi dan bentuk dan sebagainya. Keseluruhan sifat yang melekat dalam Allah sebagai sumber pertama adalah konsekuensi logis yang melekat di dalam esensi bagi Yang Pertama (Khudori, 2016).

Sampai sini relatif tidak ada yang baru dalam pemikiran Al-Farabi, kecuali melunakkan pemikiran Plotinus dan Aristoteles untuk melakukan penyesuaiannya dengan ajaran Islam.

Yang rasanya perlu dikemukakan dalam perbincangan filsafat Islam kita kali ini, konsep emanasi sangat berpengaruh bagi generasi-generasi filsuf Islam selanjutnya.

Al-Farabi
(Lukisan sosok Al-Farabi. Seumber Gambar: Republika)

Emanasi yang bermula dari Plotinus dan kemudian diadopsi oleh Al-Farabi pada gilirannya mempengaruhi konsep wahdatul wujud (penyatuan manusia dan Tuhan) dalam Ibnu Arabi. Emanasi yang mendasarkan diri bahwa kita adalah bagian dari Tuhan mengarah pada kita bisa menyatu dengan Tuhan.

Pemahaman yang banyak menyita perhatian sepanjang khazanah pemikiran Islam. Di Indonesia sendiri, pemikiran ini juga terdapat dalam syair-syair Hamzah Fansuri dari Aceh hingga sosok misterius Syekh Siti Jenar melalui “Manunggaling Kawulo Gusti”.

 

Baca juga:

Filsafat Kebahagiaan Epicurus (Epikurus)

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments