Organizational Citizenship Behavior (OCB), Cara Sistem Kapitalisme Mengeksploitasi Kemanusiaan Pekerja

(Karl Marx. Sumber Gambar: Wikipedia)

Dalam diskursus Marxisme, sering kali terjadi perdebatan mengapa sistem sosialisme yang dicita-citakan Karl Marx tak kunjung terwujud di epos sejarah saat ini dalam fungsinya untuk menggantikan sistem kapitalisme? Hal ini mengingat corak produksi dominan kapitalistik sudah ada sejak lebih dari 300 tahun yang lalu.

Tulisan ini coba menelisik satu konsep teoritis mengenai OCB atau organizational citizenship behavior yang mungkin saja menjadi salah satu penyebab, dari banyaknya sebab-sebab kompleks lain, yang membuat sulitnya corak produksi kapitalistik ini tergantikan oleh corak produksi alternatif egaliter sosialisme atau juga bisa dikatakan ini salah satu cara kapitalisme mereproduksi dirinya sendiri.

OCB: Konsep Teoritis Kapitalisme Mengarahkan dan Memanipulasi Sifat Dasar Manusia

Dalam artikel yang ditulis Usmaini yang berjudul “Why Socialists Should Believe in Human Nature” (2017), Adaner Usmaini coba menjelaskan bahwa orang-orang yang berpaham sosialis seharusnya tidak meniadakan sifat dasar manusia, tetapi sebaliknya meyakini adanya sifat dasar manusia diantaranya cinta diri sendiri, kasih sayang dan empati.

Dengan menggunakan konsep The Blank Slate Thesis, Usmaini menjelaskan bahwa ada tiga permasalahan yang muncul ketika kita tidak meyakini keberadaan sifat dasar manusia yaitu masalah moral, analitis, dan politik.

Tetapi ada yang harus ditelisik lebih yaitu persoalan fakta sejarah bahwa kapitalisme bisa melakukan beberapa cara untuk tetap melanjutkan corak produksinya agar tetap menjadi corak produksi dominan.

Menjelaskan bahwa para sosialis harusnya meyakini keberadaan sifat dasar manusia belum cukup dan memadai, karena dalam perkembangan corak produksi kapitalistik, selalu saja bermunculan cara-cara yang dilakukan sistem kapitalisme.

Entah melalui represif ataupun persuasif ideologis, salah satunya dengan adanya konsep teoritis bernama organisasional citizenship behavior atau OCB, yang menurut hemat penulis adalah satu cara kapitalisme mengeksploitasi sifat dasar kemanusiaan pekerja.

Sifat dasar manusia bisa didefinisikan sebagai sifat yang inheren dan berlaku univerisal dalam diri setiap manusia, dengan tidak mengenal agama, kelas, ras dan identitas apapun itu. Selanjutnya saya akan menjelaskan terkait organizational citizenship behavior dan dalam menjelaskan permasalahan ini saya lebih memilih menggunakan singakatannya OCB. Ulasannya dimulai dari penjelasan tentang definisi, dimensi yang terdapat didalamnya, problem struktural yang dihasilkan, dan juga jalan menuju sosialisme

Sebagian besar teoritis bahkan mungkin keseluruhan yang menjelaskan konsep OCB selalu dalam pemaknaan yang bernada positif dalam keberlangsungan sustainable perusahaan atau bisa dikatakan secara langsung mempertahankan corak produksi relasi upahan dalam sistem kapitalisme.

Seperti pendapat dari Robbins dan Judge (2008) yang mendefinisikan OCB, dalam bahasa indonesia disebut perilaku kewargaan organisasi, adalah perilaku pilihan yang tidak menjadi bagian dari kewajiban formal seorang karyawan, namun mendukung berfungsinya organisasi secara efektif.

Penjelasan tentang OCB diatas akan lebih jelas ketika menyinggung dimensi yang terdapat didalamnya. Mengutip  Organ et al (2006) dalam Auliana et al (2017) membagi OCB kedalam lima dimensi yaitu:

Pertama, Altruism yaitu perilaku karyawan dalam menolong rekan kerjanya yang mengalami kesulitan baik mengenai tugas dalam organisasi maupun masalah pribadi orang lain. Kedua, yaitu Conscientiousness ialah perilaku yang ditunjukkan dengan berusaha melebihi yang diharapkan perusahaan dan bukan merupakan kewajiban atau tugas karyawan.

Ketiga, Sportmanship adalah perilaku yang memberikan toleransi terhadap keadaan yang kurang ideal dalam organisasi tanpa mengajukan keberatan-keberatan, ketika karyawan mempunyai spormanship yang tinggi karyawan akan lebih sopan dan bekerja sama dengan yang lain sehingga akan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan.

Keempat, Courtessy yaitu menjaga hubungan baik dengan rekan kerja agar terhindari dari masalah-masalah impersonal. Kelima, Civic Virtue adalah perilaku yang mengindikasikan tanggung jawab pada kehidupan organisasi contohnya merekomendasikan bagaimana operasi atau prosedur-prosedur organisasi dapat diperbaiki.

Apa yang dijelaskan diatas bisa disimpulkan bahwa keberadaan sifat dasar manusia juga tercermin dalam relasi upahan pada tindakan kelas pekerja, tetapi dengan dominannya gerak sistem ekonomi kapitalisme yang mewujud dalam konsep OCB, sifat dasar manusia yang juga berada dalam diri kelas pekerja dimanfaatkan oleh pemilik sarana produksi untuk terus menerus memaksimalkan keuntungan yang ia dapatkan.

Apakah dengan penjelasan itu kelas pemilik sarana produksi tidak mempunyai sifat dasar manusia? Tentunya kelas pemilik sarana produksi juga memiliki sifat dasar manusia tetapi dikondisikan dengan adanya hukum gerak sistem ekonomi modern kapitalisme, sifat dasar manusia dimanipulasi dan diarahkan agar sesuai dengan profit oriented khas kapitalisme.

Pemilik sarana produksi harus terus menerus mengeksploitasi kelas pekerja agar bisa memenangkan pertandingan dengan pemilik sarana produksi yang lain dalam menghasilkan komoditas yang murah dan menjualnya dalam mekanisme pasar. Salah satu caranya adalah memperbesar nilai eksploitasi atau nilai lebih termasuk mengeksploitasi kemanusiaan kelas pekerja.

Persoalan lain juga muncul ketika sifat dasar manusia berada dalam logika kapitalisme, yaitu sifat dasar manusia pada kelas pekerja tidak lagi bersifat alamiah, apa sebabnya? Karena dalam relasi upahan, para pekerja akan dituntut berkompetisi dengan para pekerja yang lain, dan itulah menjadi faktor bagaimana pekerja akan seolah-seolah melakukan pekerjaan-pekerjaan diluar tuntutan pekerjaannya tanpa mendapatkan kompensasi bayaran. Tujuan pekerja melakukan itu ialah agar  punya daya tawar lebih dibanding pekerja lain dan berharap dengan  itu pekerja mendapatkan promosi jabatan dan dengan sendirinya dalam jangka panjang menaikkan penghasilan yang ia dapatkan.

Tetap penting diketahui di sisi  lain ini akan menjadi angin segar  bagi pemilik sarana produksi, bayangkan saja ada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pekerja tanpa harus dibayar, itu yang akan menjadi  terakumulasinya keuntungan yang didapatkan dari kelas pekerja terkhusus dari sifat dasar manusia yang tidak lagi alamiah. Jelaslah bahwa sistem ekonomi kapitalisme memberikan dampak bukan hanya pada kelas pekerja tetapi juga pada kelas pemilik sarana produksi yaitu dengan mengarahkan  sifat dasar manusia sesuai tuntunan logika sistem ekonomi kapitalisme.

Dalam analisis marxisme, OCB ini sangat berkaitan dengan konsep alineasi Marx, dalam tulisan Musto (2020), ia menjelaskan terminologi alineasi yang digunakan marx berbeda dengan Hegel dan Feurbach, jika Hegel menggunakan terminologi alineasi untuk menjelaskan objektivita roh bukan lagi dirinya sendiri, sementara Feurbach menggunakannya dalam menjelaskan dalam keterasingan religius, dimana proyeksi manusia mengenai esensi dirinya sendiri kedalam imajinasi ketuhanan.

Marx sendiri menurut Musto (2020) menjelaskan perihal alienasi dalam karya Marx berjudul “The Economic Philosophical Manuscripts of 1844” yang ditemukan pada tahun 1932. Marx menyebut empat keadaan dimana buruh teralineasi dalam masyarakat borjuis yaitu:  1) oleh hasil kerjanya, yang menjadi “objek asing yang memiliki kekuasaan atas dirinya”; 2) terasing dari aktivitas kerjanya, dimana aktivitasnya justru ‘ditujukan untuk melawan dirinya sendiri’, seolah-olah aktivitas kerja itu ‘bukan miliknya’;

3) terasing dari ‘dirinya sendiri sebagai manusia/man’s species-being”, yang ditransformasukan menjadi ‘sesuatu yang keberadaannya asing baginya’; dan 4) oleh manusia lain, dan dalam hubungannya dengan ‘kerja mereka dan objek kerja’.

Terkhusus alineasi dengan hasil kerjanya Marx, Dalam “Magnum Opus”nya Das Capital bab I section 4, tentang fetisisme komoditi dan rahasianya, Marx menjelaskan bahwa dalam corak produksi kapitalistik dilupakannya hubungan-hubungan manusia secara sosial tertentu dan menggantikannya dengan  hubungan diantara benda-benda. Marx mengatakan:

“Disana produk-produk otak manusia muncul sebagai sosok-sosok otonom yang diberkati suatu kehidupan mereka sendiri, yang mengadakan hubungan-hubungan satu sama lain maupun dengan bangsa manusia. Maka ia adalah dunia komoditi dengan produk-produk tangan manusia, Saya menamakan ini fetishisme yang melekatkan dirinya pada produk-produk kerja segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditi, dan oleh karenanya tidak terpisahkan dari produksi komoditi”

Dari seluruh penjelasan diatas, tentulah bisa dikatakan bahwa corak produksi kapitalistik memanfaatkan bahkan memanipuilasi sifat dasar manusia diantaranya cinta kasih, empati, kerja sama, kepedulian sosial dengan rasa saling tolong menolong untuk dimanfaatkan menjadi pencapaian atas profit sebesar-besarnya, yang sifatnya hanya dimiliki individual.

Atas dasar itu ada potensi besar, potensi  menuju sistem egaliter sosialisme atau bisa dikatakan bahwa sistem ekonomi sosialisme mewadahi sifat dasar manusia sesungguhnya dengan tujuan sosial kolektif.  Penjelasan itu akan dijelaskan di bagian selanjutnya

Sifat Dasar Manusia: Potensi Besar Menuju Sosialisme dengan Kesadaran dan Gerakan Perjuangan Kolektif

Seperti yang sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa sifat dasar manusia mempunyai keberadaan yang nyata,  tetapi dibawah sistem corak produksi dominan kapitalisme, sifat dasar itu digunakan dan dimanipulasi untuk memperbesar akumulasi kekayaan yang bersifat individual pada hanya segelintir manusia tepatnya kepada yang menguasai akan kepemilikan sarana produksi.

Untuk itu diperlukan bangkitnya kesadaran murni kelas pekerja terlepas dari kesadaran palsu borjuis yang didapatkan dari realitas material kontradiksi internal dalam sisftem kapitalisme yaitu aspek dari  tujuan utama dan inheren didalamnya yakni aspek  eksploitatif.

Untuk mencapai kesadaran kelas pekerja diperlukannya gerakan kolektif dengan basis sifat dasar manusialah yaitu rasa kepedulian, tolong menolong dan kerja sama sebagai kelas tereksploitasi sebagai akibat dari corak produksi kapitalistik menjadi satu potensi besar yang dianugrahkan kepada setiap manusia terkhusus untuk kelas pekerja dalam iktiarnya menumbangkan sistem kapitalisme.

Hubungan antara gerakan perjuangan kolektif dan kesadaran kelas pekerjalah yang memiliki kecendrungan untuk membuat politik alternatif sosialisme menjadi mungkin diwujudkan.

Sampai disini, kita mengetahui bahwa terdapat beragam cara yang dilakukan para penganut sistem pasar bebas berbasis relasi upahan dalam melanggengkan sistem dengan corak produksi kapitalistik yang mempunyai tujuan utama ialah profit yang didapatkan dari nilai lebih atau eksploitasi pekerja. Penting diketahui eksploitasi pekerja mempunya beragama cara, salah satu caranya adalah dengan mengeksploitasi sifat dasar manusia yang menubuh dalam kelas pekerja yang tercermin dalam konseptualisasi teoritis organizational citizenship behavior atau OCB.

Tetapi perlu diketahui bahwa dengan sifat dasar manusia jugalah yang akan menjadi basis penguatan kolektif pada gerakan kelas pekerja ditambah dengan kesadaran dan gerakan bersama untuk mewujudkan perjuangan revolusioner dalam menumbangkan sistem kapitalisme. Seperti disinggung sebelumnya bahwa setiap manusia termasuk kelas pekerja memiliki sifat dasar manusia yang berada dan tidak terpisah dalam dirinya.

Sifat dasar manusia seperti cinta kasih, empati, rasa saling tolong menolong, dan kepedulian kepada sesama umat manusia akan ketertindasannya dibawah sistem kapitalisme akan diwadahi untuk tujuan kolektif dengan sistem ekonomi politik sosialisme.

Daftar Pustaka

Auliana, S dan Nurasiah, I. (2017) Penerapan Organizational Citizenship Behavior Dosen di STIE Bina Bangsa, Manajerial, Vol. 2 No 2, pp. 149-162.

Hendrawan, A., Sucahyawati, H. Dan Indriyani (2017). Organizational Citizenship Behavior (OCB) Pada Karyawan Akademi Maritim Nusantara. Prosiding seminar nasional UNIMUS semarang, pp. 39–48.

Marx, K. “Kapital Buku I” (Penerjemah Hay Oen Djoen)

Musto, M. (2018, Agustus 1). Konsep Alienasi (Keterasingan) dan Sejarahnya. Diakses dari Indoprogress: https://indoprogress.com/2018/08/konsep-alienasi-keterasingan-dan-sejarahnya/

Robbins dan Judge (2008). Perilaku Organisasi, Buku 1, Cet. 12. Jakarta: Salemba Empat. https://books.google.co.id/books?id=IwrWupB1rC4C&pg=PA40&lpg=PA40&dq=perilaku+kewargaan+organisasional&source=bl&ots=i6ly5w997Y&sig=tVtvQ3E6Qyr32_PDigI2Donj2ko&hl=id&ei=QzFhS7ukDsqHkQWxr5HtCw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=2&ved=0CAkQ6AEwATgK#v=onepage&q=perilaku%20kewargaan%20organisasional&f=false

Usmaini, A. (2017, April 12). Why Socialists Should Believe in Human Nature. Diakses dari Jacobin Magazine: https://jacobinmag.com/2017/04/human-nature-socialism-capitalism-greed-morality-needs

 

Penulis: Muhammad Ifan Fadillah, Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Makassar Timur dan Komunal Nokturnal

 

Baca juga:

Memahami Dependensi, Industrialisasi, dan Pembangunan

Garis Besar Pemikiran Karl Marx

Kewarganegaraan, Kelas Sosial, dan Kapitalisme: Pandangan T.H. Marshall