lang="en-US"UTF-8"> Milenial dalam Lingkaran Istana - Pojokwacana.com
singlearticle

Milenial dalam Lingkaran Istana

Penduduk Indonesia berdasar data Bappenas saat ini memiliki sekitar 90 juta penduduk berkategori generasi milenial. Di samping itu, Indonesia pada tahun 2020-2035 akan menghadapi bonus demografi, yang tidak lain adalah ledakan penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 70 %. Sebuah angka  yang cukup besar dalam peningkatan jumlah penduduk.

Langkah pemerintah saat ini yang dipandang berani menggandeng generasi milenial masuk dalam lingkaran istana dinilai sebagian masyarakat merupakan sejarah baru dalam pemerintahan Indonesia. Meskipun, di sisi lain, langkah pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang begitu berani menggandeng generasi milenial masuk dalam lingkaran istana menimbulkan pro dan kontra dikalangan sebagian masyarakat.

Sebagaimana kita ketahui, Presiden Jokowi baru saja membuat gebrakan baru untuk membantu kerja dengan mengangkat tujuh orang staf khusus dari kalangan milenial. Mereka adalah: Adamas Belva Syah Devara (founder dan CEO Ruang Guru)_Putri Tanjung (Founder dan SEO Creativepreneur), Ayu Kartika Dewi (Perumus Gerakan Sabangmerauke), Andi Taufan Garuda Putra ( Founder dan SEO Amartha), Amiruddin Ma’ruf (aktivis kepemudaan ,mantan ketua umum PB PMII),Gracia Billy Mambrasar (Pendiri Yayasan Kitong Bisa, Duta Pembangunan Berkelanjutan Indonesia) ,dan Angkie Yudistia ( Pendiri Thisable Enterprise, Kader PKPI).

Belum lagi  ada tiga generasi milenial masuk ke  kabinet Indonesia maju, yaitu Nadiem Makarim (SEO Gojek) menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Angela Tanoesoedibyo seorang politisi Partai Persatuan Indonesia (Perindo) sebagai wakil  menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan  Jerry  Sambuga seorang politisi Partai  Golkar yang ditunjuk sebagai wakil menteri Perdagangan.

Sejumlah generasi milenial yang ada di lingkaran istana menjadi semangat baru membangun bangsa dengan memberi masukan baru yang kreatif dan inovatif segar kepada presiden terkait kebijakan-kebijakan pemerintah yang terjadi saat ini. Cara ini dipandang menjadi solusi yang tepat, inovatif dan lebih cepat tanpa harus terhambat peraturan birokrasi yang biasanya menghambat kemajuan.

Sisi lain dibalik masuknya generasi milenial dalam lingkaran istana dinilai adanya kaderisasi kepemimpinan bangsa yang mungkin belum pernah terjadi pemerintahan sebelumnya. Kaderisasi kepemimpinan bangsa oleh Presiden Jokowi tersebut tidak sembarangan dalam menunjuk generasi milenial yang membantu kerjanya.

Anak muda yang ditunjuk Jokowi itu bukan anak muda biasa, tetapi memiliki prestasi di dunia masing-masing. Tidak sedikit sebagian masyarakat yang berpendapat keberadaan generasi milenial tersebut efektif dalam arti pemikiran-pemikiran mereka nanti apakah didengar oleh Jokowi yang kemudian dimanifestasikan dalam kebijakan-kebijakan yang produktif .

Berbagai pendapat terus bermunculan, bahkan terus mendapat sorotan dari publik dan tidak sedikit keberadaan generasi milenial dalam lingkaran  istana menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Dan timbul pertanyaan kontribusi apa yang bisa dilakukan generasi milenial terhadap pemerintah.

Sementara pengalaman mereka di bidang pemerintahan dan politik masih dinilai belum memadai. Sisi lain keberadaan staf khusus Presiden perlu diappresiasi terlepas dari pro dan kontra bisa jadi pemerintah saat ini menempatkan mereka dalam lingkaran istana agar ikut ambil bagian dalam mengatasi persoalan bangsa.

Polemik keberadaan staf khusus Presiden hingga saat ini masih terjadi polemik dikalangan masyarakat, apalagi gaji mereka yang dinilai fantasis dengan gaji 51 juta per bulan yang kerjanya tak full time.

Ada sebagian masyarakat berpendapat staf khusus milenial perlu kerja secara full time dengan menunjukan kompetensi dan kinerja yang sesungguhna apalagi mereka diberi kesempatan masuk ke penentu kebijakan publik. Keberadaan milenial dalam lingkaran istana dapat mempengaruhi kebijakan presiden di bidang ekonomi .

Beragam pendapat dikalangan masyarakat atas keberadaan staf khusus presiden di lingkaran istana. Staf khusus presiden tersebut diharapkan tidak jadi komoditas pencitraan  semata dari presiden atau pengalihan isu-isu penting lainnya yang terjadi saat ini. Namun staf khusus milenial ini perlu diberi tugas dan fungsi yang jelas sehingga potensi yang mereka miliki dioptimalkan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Staf khusus milenial yang telah masuk dalam lingkaran istana saat ini tugasnya memberi masukan pendapat  terhadap kebijakan presiden, namun disisi lain pendapat berasal dari staf khusus ini belum tentu diterima oleh presiden, karena bisa jadi pendapat dari staf khusus presiden tersebut belum sesuai  dengan persoalan saat ini .

Staf khusus Presiden dari kalangan milenial masih diperlukan  dalam memberi ide-ide segar  dan kreatif ke presiden terutama menyangkut generasi milenial kapan saja dan dimana saja  tanpa terbatasi oleh kepentingan penguasa. Keberadaan milenial di dalam lingkaran istana ini diharapkan memberi atmosfir dan inovasi yang lebih segar terhadap presiden dalam mengambil kebijakan terhadap persoalan bangsa yang terjadi saat ini.

Staf khusus presiden dari milenial yang berjumlah tujuh orang tersebut diharapkan juga bisa melengkapi pembantu Presiden yang bekerja secara birokrasi di dalam kementerian. Mereka para milenial yang masuk dalam lingkaran istana bekerja sesuai latar belakang pendidikan dan keahlian yang mereka miliki dengan melihat area-area yang tidak dilihat oleh kementerian atau lembaga lain.

Namun keberadaan staf khusus milenial pilihan presiden tersebut  tidak  membebankan keuangan negara saja, tetapi mampu menunjukan kontribusi dan prestasi mereka yang inovasi dan kreatif sesuai keahlian yang mereka miliki. Hanya waktu yang bisa menjawabnya apakah keberadaan mereka benar-benar mampu memberi kontribusi kepada bangsa dan negara.Mereka bukanlah orang biasa, tetapi para milenial ini adalah orang-orang  berprestasi di bidangnya.

Milenial dalam lingkaran istana bisa menjadi amunisi dan sumber daya bagi presiden. Hal ini menjadi unik dan berbeda dari pemerintahan sebelumnya dan saat ini milenial tersebut dinanti gebrakan, kiprahnya serta inovasinya.

 

Penulis: Suryatiningsih, Alumni UIN Sunan Kalijaga

Baca juga:

Pemerintahan Jokowi dalam Kacamata Neo-Patrimonialisme

Pengertian dan Penyebab Korupsi Terjadi

Sejarah Perkembangan Teori Feminisme