Menggali Akar (Mitos) Inferioritas Perempuan

Judul: Mitos Inferioritas Perempuan

Penulis: Evelyn Reed

Penerbit: Penerbit Independen

Tahun Terbit: Oktober 2019, cetakan pertama

Tebal: 130 halaman

Setiap feminis pasti mengetahui, sekalipun ia tidak tahu apa-apa selain ketidakberdayaan perempuan, bahwa laki-laki nampaknya lebih kuat, lebih agresif, lebih unggul di hampir segala bidang bila dibandingkan dengan lawan jenisnya, kaum perempuan.

Mereka telah melihat dengan seluruh tubuh dan perasaan sendiri betapa malangnya terkurung dalam rumah, meski sering dikatakan bahwa mereka adalah intan berharga yang perlu selalu dijaga. Mereka telah menyadari keselamatan mereka sangat rentan terhadap segala bentuk kejahatan dan diskriminasi; pemerkosaan, manipulasi, eksploitasi seksual, perampokan, dan sebagainya; sehingga kebebasannya sebagai manusia sering dibenarkan untuk tetap terbelenggu dalam sangkar burung.

Kendati kondisi perempuan lebih menguntungkan dibanding zaman penjajahan dulu, di mana hari ini sebagian dari mereka dapat menikmati pendidikan tinggi, namun semua itu akan lenyap begitu saja setelah mereka mengandung dan harus merawat anak, ditambah kerja-kerja domestik yang menyertainya. Sambil meneteki bayinya, mereka termangu di beranda rumah dan berpikir, “apa gunanya pendidikanku selama ini; diajari aku berhitung, menulis, tata cara membaca peta dunia, menghafal rasi bintang, planet-planet, navigasi dan membangun menara tinggi, bila pada akhirnya dunia menyusut tinggal dapur dan sumur, dan kasur?”

Ketika kaum perempuan yang lebih muda mengkhawatirkan nasib serupa menghampiri mereka, maka usaha untuk menemukan jalan keluar atas sialnya hidup mereka mulai dilakukan. Akan tetapi, sebagaimana halnya memilih kekasih, penjelasan atas ketidakberdayaan kaum perempuan beserta jalan keluarnya tidak akan menjadi aktivitas yang gampang lantaran sekarang kita hidup di tengah comberan peradaban yang buthek ini.

Seringkali kita malah mendapati teori-teori yang telah tercemar dengan mencretan intelektual borjuis; bahwa perempuan harus bekerja di seputar rumah lantaran kodratnya, atau keadaan biologisnya, atau takdir Ilahi yang menjadikan-Nya diskriminatif terhadap perempuan, dengan mengalirkan takdir tersebut bersama dongeng penciptaan manusia pertama berjenis kelamin laki-laki. Maka di sinilah peran hadirnya Evelyn Reed melalui bukunya “Mitos Inferioritas Perempuan”, hasil terjemahan yang gigih dari para pekerja literasi Penerbit Independen.

Pada buku ini, Evelyn Reed mengawalinya dengan memberikan jawaban atas ‘pertanyaan perempuan’ mengenai asal mula inferioritas atau penempatan perempuan di posisi terbelakang. Melalui fakta-fakta penelitian antropologi yang lengkap, ia membantah bentuk-bentuk diskriminasi perempuan yang telah dilembagakan dalam masyarakat. Termasuk menempeleng jidat antropolog amplopan di abad ke-20 yang mencincang kelengkapan antropologi guna mencangkokannya pada kepentingan penguasa untuk menindas perempuan.

“Di tangan kaum revisionis ini, ilmu antropologi terperosok,” demikian keresahan yang diungkapkan Evelyn Reed tentang antropologi, “Dari awal mulanya sebagai ilmu yang terhormat dan begitu menjanjikan dalam menjelaskan evolusi sosial, kini dilucuti menjadi sekadar katalog deskriptif dari ‘ragam’ budaya.” imbuhnya.

Sebagai gantinya, Evelyn Reed mengajak kita menelusuri kembali kelengkapan antropologi yang telah dirintis ilmuwan-ilmuwan antropologi awal di abad ke-19. Salah satunya adalah seorang antropolog yang begitu berpengaruh, Lewis Morgan dari Amerika Serikat.

Adapun Morgan, sebagaimana yang diungkapkan Friederich Engels dalam “The Origin of the Family, Private Property and The State” (1884), dengan caranya sendiri telah dibimbing oleh konsepsi materialisme historis; sesuatu yang ditemukan oleh Karl Marx 40 tahun sebelum Engels menuliskan pengantar untuk edisi pertama bukunya tersebut. Sementara bagi Evelyn Reed sendiri, Morgan adalah “eksponen yang paling sukses dari metode evolusioner dan materialis.”

Sejauh ini, materialisme historis merupakan konsepsi paling progresif yang pernah ada. Merjan-merjan yang hilang dalam kesinambungan ilmu pengetahuan—karenanya sering membingungkan para ilmuwan—banyak ditemukan dan dirajut kembali dengan konsepsi materialisme historis. Tidak terkecuali antropologi.

Ketika para antropolog mengikuti logika idealis yang diambil dari dogma teologi, bahwa sejak permulaan perempuan telah berada dalam inferioritas, mereka dibingungkan dengan temuan baru fosil Viking di mana perempuan menempati posisi penting di medan perang. Fakta yang sangat bertolak belakang dengan anggapan bahwa perempuan ditakdirkan berada di posisi subordinat dari laki-laki. Demikian pula halnya dengan temuan masyarakat matriarkal di zaman purba.

Lebih jauh lagi, pada bagian “Mitos Inferioritas Perempuan”, Evelyn Reed mengungkapkan bahwa peran melahirkan perempuan tidak serta merta menjadikannya tersubordinat dari laki-laki. Malahan, perempuan purba kala itu memegang kontrol pasokan makanan dan mengembangkan banyak ilmu pengetahuan yang mampu menunjang kelangsungan hidup mereka di tengah kebuasan alam liar. Bahkan, penemuan tata cara mengendalikan api sebagai alat bertahan yang paling revolusioner dan jauh membedakan manusia dengan binatang, juga ternyata ditemukan oleh kaum perempuan purba.

Hanya ketika “penemuan pertanian dan domestikasi atas ternak serta hewan-hewan besar lainnya yang dilakukan oleh perempuan” memberikan surplus makanan yang dapat membebaskan laki-laki purba dari keharusan berburu, maka pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan menjadi kenyataan. Sebagai hasil akhirnya, perempuan mulai tersingkir dari peran sentralnya di dalam kolektif masyarakat suku. Dan dengan ini pula, menandai awal bentuk baru komunitas masyarakat komunal menjadi masyarakat berkelas.

(Ilustrasi gerakan feminisme. Sumber Gambar: Wikipedia)

(Ilustrasi gerakan feminisme. Sumber Gambar: Wikipedia)

Pengungkapan fakta-fakta antropologi itu penting sebagai pijakan awal untuk melihat fenomena-fenomena penindasan perempuan belakangan ini. Termasuk metode-metode perlawanan kaum perempuan untuk menentang diskriminasi yang mengikutinya. Buku berjudul asli “Problems of Women’s Liberation” ini tentu bukan hanya dimaksudkan Evelyn Reed untuk menempeleng kepala para antropolog borjuis, melainkan juga untuk membersihkan mata kaum feminis yang rabun lantaran tertutup selaput kotoran borjuis, serta membersihkan telinga para feminis yang telah tersumpal congek-congek teori dari kalangan borjuis.

Tujuan tersebut jelas kita temui pada bagian “Seks Melawan Seks atau Kelas Melawan Kelas” dalam buku ini. Evelyn Reed menyadari terdapat dua pendekatan yang berbeda dalam upaya pembebasan perempuan; pendekatan yang pertama adalah pendekatan marxis, yang berpijak pada analisis kelas dan; yang kedua adalah pendekatan “bahwa semua perempuan, sebagai satu jenis kelamin, berada di kapal yang sama dan memiliki minat serta tujuan yang sama pula”. Atau mari kita sebut ini sebagai pendekatan teori patriarki, sebagaimana Sandra Bloodworth menegaskannya dalam sebuah artikel panjang “The Poverty of Patriarchy Theory” (1990).

Pada persimpangan jalan pembebasan perempuan ini, Evelyn Reed tetap konsisten dengan marxisme yang dianutnya. Secara langsung, ia menunjukkan kelemahan-kelemahan teori patriarki bila dihadapkan dengan analisis kelas. Sebab, menurut Evelyn Reed sendiri, “penindasan perempuan itu berakar pada struktur kelas yang ada di masyarakat.” Ini sejalan dengan penelusuran antropologis yang telah duraikannya di bagian awal. Lagipula, berbicara tentang perempuan, Hilarry Clinton juga seorang perempuan. Tetapi semua perempuan kelas pekerja dan perempuan berkulit hitam di Amerika tahu, Clinton adalah penindas rakyat.

Bagian akhir buku ini adalah penentangan Evelyn Reed terhadap The Feminime Mistique, ditulis oleh Betty Friedan, seorang perempuan “pembuat mitos mata duitan” yang bersembunyi di balik kedok studi sosiologis untuk meredam gerakan perempuan agar kembali menjadi ‘istri yang baik’ di rumah. Pada bagian ini, kita sekaligus ditunjukkan bahwa tidak semua perempuan memiliki minat serta tujuan yang sama. Betty Friedan, kendati memiliki vagina, namun ia justru bertolak belakang dengan minat serta tujuan perempuan untuk bebas dari belenggu rumah tangga.

Kita mungkin juga tidak asing dengan fungsi ibu-ibu PKK buatan rezim militer Orde Baru guna meninabobokan ingatan kaum perempuan terhadap hak-hak perempuan yang telah mereka menangkan lewat perjuangan kelas bersama organisasi politik mereka: Gerwani. Juga peran media yang selalu mengajarkan nilai-nilai “mistik” perempuan sebagai ibu rumah tangga yang baik, entah itu adalah istri yang sukarela bekerja di rumah tanpa upah sepersenpun atau sebagai objek pemasaran produk-produk yang akan memberikan keuntungan besar bagi para kapitalis melalui barang-barang rumah tangga, kecantikan dan semacamnya.

Akhirnya, buku ini sangat bagus untuk mengantarkan kita pada analisis yang mendalam tentang asal-usul dan metode yang tepat untuk pembebasan perempuan. Sebuah pertanyaan penting mengenai kepastian bagi pembebasan perempuan—yang seringkali membuat para feminis liberal berkelit pada subjektivisme dan obskuritas kata-kata untuk menjawabnya—telah dijawab secara baik dan ilmiah oleh Evelyn Reed dengan berpijak pada analisis kelas ala Marxis.
Melalui buku ini, para feminis tidak perlu lagi merasa tidakberdaya atas ketertindasan mereka. Sebab, titik balik kesetaraan jenis kelamin antara laki dan perempuan telah ditemukan, tinggal soalnya adalah: apakah kita mau membalikkan kembali keadaan hidup yang setara antara laki dan perempuan sebagaimana pernah ada dalam masyarakat komunal? Itu berarti juga berjuang untuk menghapus kelas-kelas dalam masyarakat. Panduan untuk melakukannya telah disediakan oleh marxisme ilmiah.

 

Penulis: Bangkit I. Darojad (Pembaca buku dan seorang buruh di kota ber-UMR terendah se-Indonesia).

 

Baca juga tulisan terkait:

Sejarah Perkembangan Teori Feminisme

Epistemologi Feminisme Pasca Reformasi

Pengertian Gerakan Sosial Baru