Mengenal Tasawuf Harmoni ala Syekh Ihsan Jampes

(Gambar Syekh Ihsan Jampes. Sumber: Wikipedia)

Salah satu disiplin ilmu yang dikaji di pesantren adalah tasawuf. Tasawuf menjadi kajian yang bermakna karena bermuatan keadaban, cinta kasih, ketentraman dan lain sebagainya. Ulama pesantren juga banyak yang membuat karya tasawuf  dan diabadikan hingga saat ini.

Salah satunya ialah Syekh Ihsan Jampes. Ulama Kediri ini membuat karya tasawuf dengan judul “Siraju Thalibin”, yang merupakan Syarah (penjelas) dari kitab “Minhaj Abidin” karya Imam Ghazali.

Kitab “Siraju Thalibin” terdiri dari dua jilid yang sampai saat ini tidak hanya dikaji di dunia pesantren, namun juga dikaji di institusi-institusi dunia Islam, seperti Maroko dan Mesir. Karya tasawuf ini difungsikan untuk membangkitkan spiritual Islam dan menata kehidupan manusia yang lebih baik.

Di era global saat ini, praktik-praktik tasawuf berfungsi membasahi jiwa-jiwa yang kering. Kekeringan spiritual harus segera dibasahi dengan penyucian hati, sebagai tindak lanjut praktik pembersihan nafsu.

Seperti diketahui, baju-baju ruhani para Sufi merupakan manifestasi peradaban yang bercahaya. Mereka berbaju dengan baju akhlak dan adab yang bergumul dengan jiwa mereka, bukan sebatas baju duniawi yang bergumul dengan jasad yang rapuh  oleh ketidakabadian dalam sejarah kemanusiaan.

Baju keabadian itu hadir sebagai pemberianNya, sehingga layak bertemu denganNya dengan jalur hadir berjumpa denganNya, berdialog saat duduk bersamaNya, tersingkapNya pintu Ilhai dan berintim ria denganNya.

Kajian tasawuf di samping berfungsi mendekatkan manusia kepada Tuhannya juga difungsikan mengembangkan aspek sosial masyarakat, sehingga keinklusifan menjadi niscaya. Inilah yang menjadi ladang garapan Syekh Ihsan Jampes. Tasawuf menjadi media pertemuan manusia dengan Tuhan, lokalitas yang mengitarinya dan bergumul dengan masyarakat yang majemuk.

Tasawuf harmoni yang ditampilkan oleh Syekh Ihsan Jampes merupakan perwujudan dari tradisi intelektual pesantren, agama dan kehidupan masyarakat lokal. Kiai Ihsan mengajak agar manusia yang menempuh jalan tasawuf menuju derajat makrifat Allah untuk terus meletakkan perdamaian dan kasih sayang sebagai dua entitas yang menyatu.

Tasawuf berkelindan dengan kehidupan sosial yang merupakan asas keluhuran yang penting untuk direalisasikan. Setiap personal mukallaf yang berkomitmen memelihara harmoni kepada Tuhannya dengan jalur ketaatan paripurna di hadapanNya, pada saat yang sama ia dituntut pula merawat harmoni dengan sesama. Hal ini sebagai upaya meniru sifat-sifatNya yang boleh dititu, yakni al-Rahman dan al-Rahim.

 

Relevansi Tasawuf Syekh Ihsan dengan Tasawuf Muhammad Fethullah Gulen

Konsepsi tasawuf harmoni Syekh Ihsan juga tercermin dalam agama cinta Muhammad Fethullah Gulen. Tokoh tasawuf ini mengembangkan agama cinta dengan jalur dialog dan pendidikan. Hal ini bermula dari kegelisahan Gulen saat itu, ketika terjadi tindakan tidak bermoral yang menyebabkan keruntuhan peradaban.

Sebagai penganut Nabi Muhammad, manusia diperintah untuk menebar kerahmatan di muka bumi. Bukankah ajaran Islam mengajarkan perdamaian dalam keanekaragaman. Allah Sang pencipta keragaman. Manusia diciptakan secara berbeda-beda, maka menjadi niscaya, jika Tuhan memberikan perlindungan kepada manusia dengan agama dianut dan keragaman tempat ibadah. Terkait hal ini, firman Allah tentang Nabi Muhammad diutus ke bumi, sebagai rahmat bagi semeseta alam menemukan signifikansinya.

Hidup berdampingan secara harmonis, saling menghargai dan menghormati keragaman—apalagi di Indonesia yang memiliki kergaman etnik, agama dan kultur yang berbeda-beda—keragaman jangan dimaknai sebagai perpecahan, namun sebagai media untuk menebarkan perdamaian dan kasih sayang.

Manusia yang bergelimang cahaya cinta meniscayakan kebahagiaan dan kecerahan. Wajahnya terpancar keceriaan dengan cinta, hatinya terlabuh kecintaan, tatapan matanya menunjukkan keteduhan, dan kata-katanya santun menimbulkan kesejukan. Kemarahan selalu diupayakan untuk diredam dan hidup untuk melayani masyarakat. Semua yang dikerjakan berlandaskan atas nama cinta, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad, sosok manusia mulia, panutan segala zaman.

Gulen berpendapat, tidak akan ada konflik antar peradaban dan kebudayaan, ketika ada seseorang yang merencanakan berlandaskan klaim kebenaran sepihak, maka sebelum terjadi, labuhkanlah cinta dan kasih sayang di atas apa yang direncanakan. Niscaya keindahan dan kedamaian yang terwujud.

Landasan utama adalah cinta, Karena ia adalah alasan dari semua perjumpaan. Cinta merupakan pengikat yang mampu meluluh-lantakkan kebencian dan segala hal yang mengitarinya. Motivasi utama dari landasan ini adalah, karena semua ini merupakan ciptaan Tuhan. Oleh karena itu mendekati manusia dengan perasaan cinta, merupakan keharusan.

Maka, sejatinya manusia harus berupaya membahagiakan manusia lain yang mencintai Tuhan dan dicintai oleh Tuhan. Melalui cara pandang ini, manusia akan selalu melakukan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Kebahagiaan bermuara dari cinta dan diterapkan dengan menebarkan rahmat. Seperti halnya ayat suci yang membahas tentang jihad, harusnya diinterpretasikan dengan upaya untuk melindungi diri yang sesuai dengan tujuan diberlakukannya syariat (maqasid al-shariah), maka arogansi dan radikal-ekstrimis harus dihilangkan, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Perintah perang, sejatinya terjadi dalam kondisi darurat dan jangan dipahami secara tekstual, apalagi dengan mereduksi maknanya. Manusia harus berhasil memahami bahwa perdamaian merupakan hal yang primer, sedangkan peperangan merupakan hal yang sekunder.

Dengan kerangka pikir ini, akhirnya dapat dipahami, betapa Islam mengajarkan manusia untuk berhubungan kepada Allah tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, manusia benar-benar tahu tasawuf harmoni Syekh Ihsan Jampes dengan Tasawuf agama cinta Muhammad Fethullah Gulen penting untuk dirilkan demi kemaslahatan bersama, dan demi terejewantahkannya kehidupan manusia yang harmonis-menyejukkan.

 

–Sidoarjo 12 Mei 2020

 

Penulis: Muhammad Solikhudin, Dosen IAIN Kediri, Jawa Timur

 

Baca juga:

Markas Besar Oelama (MBO), Resolusi Jihad dan Ulama NU

Melacak Sanad Keilmuan Kiai Mahfuzh Termas

Gerakan Modern Islam Abad 20 dan Respon Kalangan Pesantren