Mengapa Muhammad Menjadi Sosok Paling Berpengaruh di Dunia?

Pertanyaan Ibu masih sama dengan beberapa tahun yang lalu ketika mendapatkan kesempatan mengunjungi tanah suci. “Wong koyok opo Nabi Muhammad iku kok iso diparani wong sak mene akehe?” (orang seperti apa Nabi Muhammad itu sampai didatangi banyak orang seperti ini?).

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada buku berjudul “The 100 A Ranking of the Most Influential Persons in History” (terbit pertama tahun 1978) yang ditulis oleh M. Hart. Dalam buku fenomenal tersebut, yang belakangan banyak ditiru konsep penyusunannnya oleh buku-buku lain, Hart meletakkan sosok Muhammad menjadi orang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia.

Tentu bukan tanpa alasan, dan disertai perdebatan alot dan bahkan penolakan. Ratusan sejarawan mendiskusikannya dengan serius tentang siapa sosok yang pengaruhnya tidak lekang dan dasyat bagi keberlanjutan umat manusia selanjutnya. Pilihannya jatuh pada Nabi Muhammad. Apa alasannya?

Jika hanya melihat agama Islam sebagai peninggalannya, dari segi kuantitas, Kristiani lebih besar penganut di dunia daripada Islam. Mengapa bukan Isa/Yesus bin Maryam yang paling berpengaruh?
Hart berpendapat memang Kristiani, baik yang Protestan maupun Katolik, adalah agama terbesar di dunia. Namun perlu diingat, peletak dasar agama tersebut bukan hanya milik Isa semata, namun ada sumbangsih besar st Paulus yang turut merumuskan ajaran dasar dalam agama tersebut.

Sehingga, Isa harus berbagi peran dan saham dengan Paulus sebagai pembawa agama Kristen. Beda dengan Muhammad. Ia adalah sosok tunggal yang membawa ajaran Islam tanpa perlu berbagi peran dengan sosok lain. Teks dasar agama Islam bersandar pada Al-Quran dan Hadis. Keduanya sama-sama berasal dari satu sosok, yakni Muhammad. Sehingga, pengaruhnya lebih utuh dalam membawa agama Islam.

Alasan kedua mengapa Muhammad orang paling berpengaruh di dunia adalah faktor kesejarahan akibat peradabat Arab/Islam yang ia wariskan. Dan pengaruhnya tetap terasa hingga hari ini. Perlu dicatat, sebagaimana dijelaskan Hart, sebagian besar tokoh-tokoh yang masuk dalam kategori orang berpengaruh di dunia dalam buku itu lahir dan tumbuh dalam peradaban maju yang penuh keberuntungan. Berbeda dengan Muhammad. Ia lahir di Jazirah Arab. Sebuah kawasan yang ketika itu jauh dari pusat peradaban maupun kekuasaan sentral. Meski diuntungkan sebagai wilayah perlintasan dagang. Ada Romawi (Bezantium) dan Persia yang mengelilingi Jazirah Arab sebagai negara digdaya yang terus menerus berebut pengaruh.

Sedangkan bangsa Arab digambarkan sebagai masyarakat yang sangat terpolarisasi akibat fanatisme kesukuan yang begitu kuat. Masing-masing kelompok sering melakukan peperangan hanya untuk menunjukkan keunggulan kabilah mereka masing-masing, atau sekedar berebut rumput atau air guna keperluan ternak. Tidak ada identitas kuat yang dapat mengikat semua kelompok baik kabilah besar maupun kecil untuk menjadi satu kelompok besar. Hobi suka berperang tersebut kemudian dapat terikat dengan identitas keumatan sehingga membuat pasukan Islam begitu luar biasa melakukan ekspansi kekuasaan.

Dengan latar belakang kebudayaan semacam itu, bagaimana bisa masyarakat Arab (Islam) yang terbelakang dan suka melakukan peperangan antar kelompok bisa begitu brutal bersatu untuk menguasai sebagian kawasan di wilayah sekitar Arab hingga ke kawasan Eropa? Meskipun pada episode sejarah berikutnya mengalami kemunduran yang dramatis.

Ini adalah jejak sejarah pengaruh Muhammad yang berhasil mengubah masyarakat Arab yang terfragmentasi dan dianggap tidak beradab menjadi salah bangsa yang disegani dunia. Islam telah berhasil menciptakan, yang biasanya saya sering gunakan istilah “Imagined Ummah”, suatu komunitas yang berdasarkan pada imajinasi kesamaan identitas agama, yakni Islam. Islam telah menjadi menggeser identitas lainnya seperti kesukuan dan gender untuk menjadi identitas utama bangsa Arab atau orang yang sudah memeluk agama Islam.

Itu adalah alasan lain mengapa M. Hart menjadikan Muhammad menjadi sosok paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Dia telah berhasil menyulap sebuah peradaban dan berdampak hingga hari ini. Dan setiap tahun, ritual ibadah Haji yang menjadi kewajiban bagi setiap orang Islam dapat dibaca sebagai suatu usaha untuk menyandarkan kembali identitasnya menjadi umat Islam dengan menghubungkan dirinya dengan sejarah hidup Nabi Muhammad dan Nabi-nabi pendahulunya. Sehingga, menjadi umat Islam sebagai identitas utama tetap terpelihara.

Dalam konotasi berbeda misalnya, kita mengenal Islamisme ala Bassam Tibi, yakni suatu pandangan yang menggunakan Identitas Islam sebagai alat politik dengan tujuan menegakkan suatu tatanan politik berbasis ideologis. Entah dengan jalur yang lembut hingga dengan cara radikal seperti kelompok teroris. Semuanya sama-sama menggunakan sentimen warisan kekuatan identitas Islam yang dulu dibawah oleh Nabi Muhammad.

Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Hubungan Kesalehan dan Pilihan Politik di Indonesia

Tentang Post-truth dalam Film Spider-Man: Far From Home

Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, dan Ancaman bagi Demokrasi