Memaknai Hari Raya Istimewa di Tengah Pandemi Corona

Tidak terasa bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Berakhirnya bulan Ramadhan menjadi pertanda bagi umat muslim di seluruh belahan dunia untuk menyambut hari kemenangan Idul Fitri dengan suka cita dan kebahagiaan yang tiada tara. Setelah 30 hari menahan lapar dan dahaga serta menahan diri dari segala macam perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa.

Setiap orang berlomba-lomba untuk meraih pahala dan keberkahan selama bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu mulianya bulan Ramadhan yang hanya ada 30 hari saja selama satu tahun. Tetapi, bukan berarti pada bulan-bulan lainnya kita tidak melaksanakan ibadah dengan khusyuk sebagaimana di bulan suci Ramadhan ini. Karena sudah menjadi kewajiban bagi seorang mukallaf untuk melaksanakan segala perintah yang ada dalam aturan agama Islam dan menjauhi segala laranganNya.

Momen Idul Fitri biasanya disambut dengan penuh suka cita, tradisi mudik ke kampung halaman juga sudah menjadi suatu ritual yang telah ada sejak lama setiap datangnya hari raya. Saudara dan kerabat jauh akan dipertemukan pada momen lebaran, kemudian saling bertukar cerita dan pengalaman selama hidup di perantauan. Momen lebaran juga dijadikan kesempatan untuk saling meminta maaf kepada orang tua, kakek nenek, kakak adik dan lainnya.

Belum lagi berbagai macam hidangan yang tersaji di meja makan serta toples-toples jajanan juga berjejer rapi di ruang tamu sebagai suguhan bagi kerabat atau tetangga yang datang untuk bersilaturrahim sebagai pelengkap kebahagiaan dalam perayaan hari lebaran. Tak lupa juga setiap orang memakai baju terbaiknya yang sudah dipersiapkan jauh hari untuk dikenakan saat hari raya tiba.

Namun di tahun 2020 ini, kita semua sedang diberikan cobaan dengan adanya wabah virus corona atau Covid-19 yang merata di berbagai belahan, termasuk di Indonesia, membuat semua orang diselimuti perasaan was-was dan khawatir karena penyebarannya begitu cepat dan tidak terlihat secara kasat mata. Kehidupan dan aktifitas normal yang biasa dijalani setiap hari pun berubah.

Dengan adanya himbauan serta aturan dari pemerintah untuk melaksanakan social distancing dan physical distancing sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Bulan Ramadhan tahun ini pun terasa sangat berbeda, semua kegiatan ibadah di beberapa daerah dilakukan di rumah, tidak ada shalat tarawih berjamaah di masjid apalagi buka bersama di tempat makan favorit serta sahur on the road yang biasanya rutin dilakukan oleh berbagai macam kalangan dari berbagai usia setiap bulan puasa tiba.

Penyebaran virus Covid-19 di Indonesia juga menjadi pertimbangan dalam melaksanakan kegiatan ibadah selama bulan Ramadhan, dengan merujuk pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 14 Tahun 2020, Dewan Pertimbangan MUI menyebutkan bahwa pelaksanaan ibadah tarawih menyesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing. Begitu pula dengan pelaksanaan shalat Id, MUI mengeluarkan Fatwa No. 28 Tahun 2020 terkait dengan panduan tata cara takbir dan shalat Idul Fitri di tengah pandemi virus corona.

Fatwa tersebut mengatakan bahwa pelaksanaan shalat Idul Fitri boleh dilakukan di rumah secara berjamaah atau sendiri. Namun Fatwa tersebut walaupun menjadi pedoman tetapi tidak lantas dilaksanakan secara serentak, terbukti dengan adanya keputusan yang berbeda yang dikeluarkan oleh MUI di beberapa Provinsi yang memperbolehkan shalat Idul Fitri dengan berjamaah di masjid.

Keputusan atau Fatwa yang berbeda-beda dan tak serentak ini bukan berarti karena ketidak patuhan terhadap pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona, akan tetapi perbedaan ini dikarenakan tiap daerah memiliki jumlah kasus dan penularan virus corona yang berbeda-beda. Jadi, bagi daerah yang masih masuk dalam kategori zona hijau, pelaksanaan shalat Idul Fitri yang akan datang dapat dilakukan secara berjamaah tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Sedangkan bagi wilayah yang masuk dalam kategori zona merah, diwajibkan untuk mematuhi putusan MUI dengan melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah atau sendiri di rumah masing-masing, sehingga shalat Idul Fitri tidak menjadi cluster baru dalam penyebaran virus corona.

Bisa dikatakan bahwa momen Idul Fitri kali ini terasa “istimewa” bagi seluruh umat muslim di dunia dan Indonesia, karena benar-benar menjadi suatu pengalaman baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, akan tetapi walaupun keadaan yang mengharuskan seperti ini diharapkan shalat Idul Fitri tetap dilaksanakan dimanapun berada, baik secara berjamaah maupun di rumah saja tanpa harus kehilangan nilai spiritualitas dan kekhusyukannya. Tidak ada kumpul keluarga, tidak ada jabat tangan, apalagi tradisi sungkeman.

Hal ini dilakukan demi memperhatikan kesehatan dan keselamatan bersama agar terhindar dari penularan virus corona yang masih merajalela hingga menyentuh puncak penularannya pada hari Kamis, 21 Mei 2020. Tercatat hampir 1000 orang dinyatakan positif dalam satu hari saja, terjadi perlonjakan kasus baru sebanyak 973 orang yang dinyatakan positif. Lonjakan kasus yang cukup drastis ini terjadi karena masih rendahnya kesadaran masyarakat kita dalam mematuhi aturan pemerintah.

Terbukti dengan dipenuhinya pusat perbelanjaan yang menjadi penuh sesak oleh orang-orang yang ingin berburu baju lebaran, padahal sudah jelas bahwa lebaran kali ini akan “istimewa” yaitu tidak diperkenankan bagi siapapun untuk mengunjungi saudara, kerabat atau tetangga dimanapun berada, lantas untuk apakah mereka tetap melestarikan tradisi bahwa lebaran harus memakai baju baru? Hal inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua, sampai kapan kita akan terus dihantui oleh penyebaran virus corona?

Maka dari itu marilah kita merenung sejenak, mendalami hikmah dibalik semua yang terjadi di negeri ini. Semoga dengan momen lebaran yang “istimewa” pada tahun ini tidak menjadikan kita umat yang kufur akan segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Justru dengan keadaan ini kita lebih meningkatkan keimanan dan kekhusyukan dalam beribadah, serta lebih aware lagi untuk menjaga kesehatan dengan rajin mencuci tangan memakai sabun dan memakai masker setiap bepergian.

Sekali lagi penulis ingin sampaikan, mari kita patuhi aturan pemerintah dengan stay di rumah saja, merayakan lebaran di rumah saja, dan tidak melakukan aktifitas yang melibatkan perkumpulan banyak orang, bersabar sebentar saja dan juga tetap berdoa serta berikhtiar semoga kita semua dijauhkan dari virus corona dan senantiasa diberikan kekuatan untuk melalui keadaan ini demi kemashlahatan bersama.

Penulis: Hasna Afifah (Dosen UIN Walisongo Semarang)

 

Baca juga:

Khotbah Idul Fitri 1441 H: Makna Idul Fitri dan Wabah Covid-19

Realitas Puasa di Tengah Pandemi Corona

Melacak Sanad Keilmuan Kiai Mahfuzh Termas