Memahami Dependensi, Industrialisasi, dan Pembangunan

(Sumber Gambar: Amazon)

Judul: Theories of Development: Capitalism, Colonialism and Dependency

Penulis: Jorge Larrain

Penerbit: Polity Press

Tahun Terbit: 1989

Tebal: 264 hlm.

Teori dependensi atau teori ketergantungan, jika dipandang melalui frame ide politk alternatif, merupakan suatu tatanan konsep yang digunakan oleh para ilmuwan politik dalam menganalisis kemajuan dan pembangunan serta perbandingan negara–negara Dunia ketiga atau negara berkembang seperti Asia, Afrika dan termasuk Amerika Latin. Dependensi dalam artian yang cukup sempit dapat dikatakan sebagai ketergantungan negara dunia ketiga atau negara berkembang, baik secara ekonomi maupun yang lain terhadap negara yang mereka anut (depend to). Negara–negara tersebut secara tidak langsung bergantung kepada negara yang lebih maju dalam konteks ekonomi, sebagai upaya guna membangun perekonomian mereka yang dirasa “terbelakang” atau belum cukup mandiri.

Dependensi berdasarkan definisinya menurut Dos Santos (1970), sebagaimana dikutip Jorge Larrain, dapat diartikan sebagai sebuah kondisi dimana perekonomian negara tertentu (negara terbelakang/berkembangan) terkondisikan oleh perkembangan dan ekspansi ekonomi lain yang bersifat eksternal (dari luar negara dependen) yang tidak lain menjadi tempat bergantung negara tersebut. Walaupun telah diketahui, bahwa negara–negara dominansi sebagai negara yang dianut, dapat pula melakukan ekspansi ekonomi kepada negara yang bergantung kepadanya. Ekspansi tersebut dapat memberikan dampak yang baik dan buruk/negatif bagi kelangsungan hidup serta perkembangan mereka (negara dependen).

Dalam buku yang ditulis Jorge Larrain berjudul “Theories of Development Capitalism, Colonialism and Dependency”, khususnya pada bagian “Dependency, Industrialization and Development”, mengulas permasalahan terkait dengan beragamnya teori dependensi yang dikemukakan oleh penulis, sehingga dalam buku ini mengindikasikan bahwa dalam memandang dependensi dapat pula melalui perspektif yang berbeda.

Dependensi dalam artian yang cukup sempit dapat dikatakan sebagai ketergantungan negara dunia ketiga atau negara berkembang, baik secara ekonomi maupun yang lain terhadap negara yang mereka anut (depend to).

Larrain membedakan dua bentuk teori dalam problematik pembahasan mengenai dependensi. Bentuk yang pertama, adanya suatu tatanan atau sistem perekonomian global yang secara eksplisit menjadi sistem yang dirasa paling menguntungkan yakni sistem ekonomi kapitalis dimana ia mempertentangkan antara negara pusat (centre) dengan periphery. (sekeliling/pinggir). Memiliki arti sekeliling yang dimaknai sebagai daerah atau wilayah “pinggir”. Wilayah pinggir yang dimaksud ialah negara-negara undevelopment.

Di sisi lain, adannya penggabungan atau masuknya daerah pinggir kepada sistem ekonomi kapitalis, yang terjadi dengan maksud melakuakan tukar menukar dan akhirnya pada waktu yang sama pula terjadilah suatu bentuk eksploitasi sumber daya sebagai bentuk pertukaran yang tidak seimbang atau tidak saling menguntungkan. Dampak negatif dari Dependensi, khususnya oleh negara terbelakang yang mencoba masuk dan bergabung dengan Sistem Ekonomi Kapitalis. Eksploitasi sistem kapital pada wilayah periphery.

Namun dalam bentuk teori yang pertama ini, tidaklah membuktikan bahwa ia relevan dan dapat dikatan sebagai teori yang “benar”, sebab pada dasarnya teori ini cenderung pada stagnansi dan tidak mengandung unsur yang kuat dalam menanggapi masalah pembangunan yang terdapat pada wilayah periphery. Situasi yang terjadi pada wilayah periphery merupakan persamaan dari kata poverty yang berarti kemelaratan dan ketidakmajuan/terbelakang. Dependensi berdasarkan pengertian dari pertukaran yang tidak seimbang merupakan penjelasan yang cukup dari undevelopment atau keterbelakangan.

Bentuk teori dependensi yang kedua, yang merupakan fokus bahasan bab dalam buku Theories of Development, telah menaruh sebuah pandangan baru dalam memahami dependensi dari perspektif lain. Dimana dalam hal ini tidak lah lagi membahas tentang persoalan undevelopment, namun berupaya memberikan penjelasan bagaimana mengkondisikan situasi tersebut. Pengkondisian tersebut dalam bab kali ini memberikan contoh studi kasus yang terjadi di Amerika Latin, bagaimana sistem ekonomi kapitalis dapat mempengaruhinya serta keadaan yang selalu berubah-ubah. Beberapa pendapat oleh para peneliti menyebutkan hal tersebut bisa saja menjadi suatu hal yang cenderung stagnansi, atau mungkin bersifat membangun.

Pemikiran yang digagas oleh Pinto, Sunkel dan Furtado membentuk tradisi intelektual ECLA, tetapi sepanjang pertengahan 1960-an memulai proses reformulasi prinsip ECLA dalam konteks menumbuhkan atau mengembangkan rasa pesimisme Amerika Latin tentang prospek mereka menuju pembangunan. Para penganalisis tesebut tidak ingin menggambarkan kesimpulan dari keberlangsungan sistem kapitalisme di negara dunia ketiga, tetapi kajian empiris dari tantangan menyatakan hal tersebut dapat membawanya kepada suatu kondisi yang stagnan dari proses pembangunan Amerika Latin.

Salah satu tulisan mengenai analisis ini dimulai melalui kecenderungan Pinto untuk menganalisa Chile. Tesis dasarnya dari pembahasan ini dapat semakin baik karena dimulai dari mempelajari keadaan dimana terdapat perpecahan dan kontradiksi antara laju perkembangan sosial dan ekspansi politik serta ditambah lagi dengan proses perkembangan perekonomian yang cukup lambat. Sebelum krisis pada tahun 1930, Chile dihadapkan pada suatu kondisi dimana terjadi suatu pertimbangan dalam menentukan masa depan Chile yakni melalui pertimbangan pola–pola klasik atau tradisi.

Termasuk pula modernisasi yang membuat tantangan Chile semakin besar dalam menghadapi arus global yang kian deras merubah kemajuan zaman. Di sisi lain, Pinto menyatakan sebuah fakta bahwa semenjak awal, Chile telah kehilangan ke-otonomian negaranya dalam mengolah sumber daya alamnya yang berupa tambang dan beberapa perusahan sehingga tidak dapat memberi pemasukan kepada kas negara. Seperti pada konsepsi dependensi, indikasi negara yang mulai terbelakang ialah negara yang kehilangan kedudukan dan fungsinya sebagai negara dalam mengolah, dan mengatur perekonomian domestiknya, sehingga secara gradual ia telah menjemput ajalnya sendiri yakni krisis.

Setelah krisis tahun 1930 dan mulai beredarnya industrialisasi, tidak membawa dampak perubahan bagi Chile. Pinto menyatakan kembali dalam argumen logisnya bahwa hal ini juga didasari oleh sesuatu. Pertama, ada kekurangan dan kelemahan dalam kebijkan – kebijakan.  Kedua, dan hal ini yang paling krusial yakni inflasi yang tinggi, dimana faktor inflasi ini disebabkan oleh lemahnya kebijkan moneter serta kesalahan faktor struktural. Chile dalam argumentasi Pinto telah mengalami ketergantungan terhadap bentuk tukar–menukar eksternal, karena Chile sendiri lemah dalam segala hal antara lain rendahnya hasil pertanian, pendapatan domestik yang begitu rendah, dan lain–lain.

Faktor ketiga, keterbelakangan sistem agraria. Keempat, nilai ekspor yang terbatas. Kelima, terjadinya kerugian besar dari hasil produksi dan bukan menambah pemasukan bagi negara. Keenam, kelemahan birokrasi yang membuat kinerja mereka tidak lah efisien dan ketujuh, adanya pola–pola pemungutan dalam distribusi pemasukan, dalam hal ini bisa saja semacam tindakan korupsi.

Di sisi lain, dalam prosesnya Amerika Latin telah atau pernah mengalami krisis sosial dan ekonomi yang menyebabkan mereka harus melakukan pemulihan yang masif, berbagai krisis tersebut banyak disebabkan oleh permasalahan hutang luar negeri dan kebijakan-kebijakan perekonomian global yang memperparah keadaan Amerika Latin. Maka pada akhirnya, Amerika Latin memutuskan untuk mengadakan kontrak kerjasama dengan pihak atau negara dominan dengan upaya membangun kembali perekonomian domestiknya. Namun proses ketergantungan secara finansial tersebut semakin memperburuk keadaan dikarenakan korupsi pada ranah internal negara sendiri.

Sehingga, bukan memperbaiki keadaan perekonomian Amerika Latin, permasalahannya menjadi begitu banyak dan kompleks. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan menurunnya taraf perekonomian Amerika Latin dalam kancah ekonomi internasional. Pertama, perubahan struktur perdagangan dunia, di mana bahan baku dan komoditas pertanian mulai menurun sementara barang-barang manufaktur semakin meningkat. Hal ini sangat tidak menguntungkan Amerika Latin karena mereka sangat lemah dalam pengolahan barang manufaktur sementara komoditas alamnya justru melimpah. Jadi elemen yang penting dalam transformasi ini adalah adanya revolusi teknologi yang mengambil alih pengolahan bahan baku dan komoditas pertanian (Castells dan Laserna, 1989:538).

Pada kenyataannya, Amerika Latin masih belum mampu bersaing dalam persaingan ekonomi internasional karena ia masih memiliki kinerja sektor teknologi yang lemah, padahal di era globalisasi, teknologi menjadi alat utama pendorong industrialisasi  (Castells dan Laserna, 1989:539). Pada masa ekspansi sistem kapitalis global, Amerika Latin telah berada dalam posisi “terpuruk” dalam ranah perekonomian internasional. Ia kehilangan daya saing dengan perekonomian internasionla sehingga menyebabkan ia terbelakang. Karena merasa terbelakang, Amerika Utara meluncurkkan solusi terbaru dengan merestrukturisasikan kembali pereknomian, sehingga secara tidak langsung Amerika Latin mengalami situasi ketergantungan yang baru, terutama terhadap OECD Organization for Economy Cooperation and Development.

Pada dasarnya, dependensi merupakan upaya dalam hal pembangunan perekonomian menuju perekonomian yang mandiri dalam suatu negara. Berbagai macam definisi yang menjadikan tatanan konsep bagi dependensi merupakan suatu hal yang mungkin sering mengundang sebuah pertanyaan. Ronald H. Chilcote menanyakan hal ini dalam bukunya “Teori Perbandingan Politik”, bahwa apakah ada suatu tatanan konsep yang disebut dengan dependensi. Keyataan empiris yang terjadi, ketika suatu negara bergantung pada negara lain baik dalam hal ekonomi atau pun hal lain, keduanya telah melakukan kontrak kerjasama yang tentunya dibalik kesepakatan mereka terdapat sebuah syarat dan ketentuan yang berlaku.

Berbagai macam pendekatan dalam memaknai dependensi semakin membuat keraguan atas konsep ini. Semisal pendekatan non-marxis dan pendekatan masrxis yang tentunya saling bertabrakan satu dengan yang lain. Pendekatan non-marxis beranggapan bahwa dependensi dipilih karena ia meruapakan upaya dalam pembangunan perekonomian domestik dalam suatu negara yang terbelakang. Menurut penganut paham non-marxis, hal ini di nilai wajar mengingat negara tidak dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai negara yang mandiri. Maka perlu dorongan dan bantuan dari negara lain yang dirasa mumpuni dan lebih maju darinya.

Hal ini tentunya berbeda dengan konsepsi dependensi melalui sudut pandang pendekatan marxis. Dimana para penganut paham ini mengaitkan antara dependensi dengan sistem kapitalisme yang sejatinya mengeksploitasi negara terbelakang. Bukan berujung pada pembangunan perekonomian negara yang terbelakang, justru dependensi berakibat fatal bagi perkembangan laju perekonomian negara terbelakang tersebut. Eksploitasi tersebut dapat berupa perjanjian tukar–menukar yang dinilai tidak seimbang.

Maka, menurut aliran marxis dependensi merupakan kesalahan fatal yang diambil oleh suatu negara yang berkembang, kerena bagaimana pun juga ketika negara itu telah melakukan kerjasama dan perjanjian yang dibingkai dalam konsep dependensi, maka secara tidak langsung negara tersebut telah menjemput ajalnya sendiri karena telah berhadapan dengan sistem kapitalisme yang cenderung pada eksploitasi demi kepentingan satu pihak. Namun pandangan atau pendekatan marxis tersebut tidak bisa dikatakan paling benar mengingat ia hanya bersifat spekulatif atau dugaan semata.

Dependensi selalu dikaitkan dengan sistem kapitalisme. Namun pada dasarnya kapitalisme bukan lah suatu sistem yang buruk. Negara yang paham atas konsepsi kesejahteraan memandang kapitalisme merupakan jalan keluar yang hanya berupa jembatan penyeberangan saja. Dari pada jembatan itu terdapat dua jalan yang berbeda, entah bagaimana negara tersebut mengolah dan mengaturnya, atau ia hanya sekedar pasrah dan mengikuti arus saja tanpa ada usaha melakuakan perkembangan dan pembangunan perekonomian guna meningkatkan taraf perekonomiannya dikancah internasional, memperkuat daya saing dan yang terpenting menjadi sebuah negara yang mandiri.

 

Penulis: Dimaz Lazuardy

Baca review buku menarik lainnya:

Kutukan Sumber Daya Alam dan Civil Society di Asia Tenggara

Budaya Populer di Indonesia: Sebuah Negosiasi Budaya Global dan Lokal

Desentralisasi, Globalisasi, dan Penerapan Prinsip Neo-Liberalisme