Melacak Sanad Keilmuan Kiai Mahfuzh Termas

Muhammad Mahfuzh bin Abdullah bin Abdul Mannan, lahir pada 12 Jumadil Ula 1285 H, di Termas, Pacitan. Saat lahir, ayahnya, Abdullah sedang berada di Makkah dan banyak menghabiskan hidup di sana sebelum akhirnya disusul oleh putranya. Kakeknya merupakan pendiri pesantren Termas. Pesantren ini kini dilanjutkan oleh keturunan Kiai Dimyathi, paman Mahfuzh Termas.

Jalur keilmuan agama Kiai Abdul Manan didapat dari Kiai Muhammad Kasan Besari, keturunan dari Ki Ageng Besari, pengasuh Pesantren Tegalsari Ponorogo. Kiai yang sama juga menjadi guru dari Bagus Burhan, pujangga Kasunanan Surakarta yang lebih dikenal dengan sebutan Ronggowarsito (Solahudin, 2013).

Pada masa awal perkenalannya dengan agama, ia banyak belajar dari lingkungan keluarganya. Seperti biasa bacaan Quran serta Kitab-kitab dasar menjadi kitab wajib yang dia pelajari di masa kanak-kanak ini. Tidak ditemukan keterangan lebih lanjut mengenai bagaimana proses belajar Mahfuzh kecil serta apa saja kitab yang dia pelajari selama masa-masa ini.

Tapi bisa dipastikan Mahfuzh kecil belajar agama dari lingkungan keluarganya sendiri. Setelah dirasa cukup dengan pengetahuan Islam dasar, Mahfuzh muda memulai pengembaraan ilmiahnya.

Salah satu guru utama Mahfuzh muda selama masa pengembaraan ini adalah Kiai Sholeh bin Umar Darat Semarang (terkenal dengan sebutan Kiai Saleh Darat). Tokoh ini begitu populer di kalangan Kiai-Kiai di Indonesia karena memiliki banyak hubungan dengan mereka. Beberapa nama yang terlacak pernah berguru pada Kiai Saleh Darat misalnya, adalah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan lain-lain.

Zainul Milal Bizawie (2019) dalam bukunya berjudul “Jaringan Ulama Diponegoro” juga menambahkan nama Habib Ali, putra Habib Hasyim dalam daftar santri Kiai Saleh Darat.  Selain itu, Kiai ini juga masyhur karena pernah menuliskan sebuah terjemahan Qur’an untuk RA Kartini yang saat itu sedang ingin belajar agama.

Kembali pada Kiai Mahfuzh Termas, di samping karena hubungan guru-murid, Kiai Mahfuzh Termas dan Kiai Saleh Darat juga dihubungkan oleh kekerabatan. Paman Kiai Mahfuzh, Kiai Ahmad Dahlan, adalah menantu dari Kiai Saleh Darat.

Melalui jalur Kiai Saleh Darat, setidaknya terdapat empat kitab besar yang dihatamkan oleh Kiai Mahfuzh. Diantaranya adalah “Tafsir Jalalayn” yang dihatamkan Syekh Mahfuzh sampai dua kali secara sempurna (dari al Baqarah sampai an Nas). Ada juga “Syarah Hikam” karangan al-Syarqawi, “Wasilah al-Thulab”, dan “Syarah al Maradaini” (Maradini?) dalam bidang falak (Muhammad Mahfuzh Termas dalam Kifayat al Mustafiid).

“Tafsir Jalalyn” sendiri selama ini dikenal sebagai kitab tafsir dasar yang dipelajari oleh hampir semua pesantren di Indonesia. Selain melalui jalur kiai Saleh Darat, Kiai Mahfuzh Termas juga memiliki sanad “Tafsir Jalalayn” dari Sayyid Bakr Syatho. Tapi sayang, Kiai Mahfuzh hanya sempat mengaji kitab ini sampai awal surat al Mu’minun. Sayyid Bakr Syatho sendiri mendapatkan sanad tafsir ini dari Sayyid Zaini Dahlan.

Jalur Sayyid Bakr Syatho ini merupakan jalur istimewa dalam keilmuan kiai-kiai di pesantren. Hampir semua Kiai di pesantren memiliki sanad keilmuan melalui Sayyid Bakr Syatho. Dia, utamanya dikenal sebagai pengarang kitab “Kifayat al Atqiya’”, sebuah syarah (penjelas) atas “Hidayat al Adzkiya” karya Zainuddin al Malibari. Ulama asal Indonesia yang juga pernah memberi syarah atas karya al Malibari ini adalah Kiai Muhammad Bin Umar Nawawi Banten melalui “Salalim al Fudhola’”.

Selain “Kifayat al Atqiya’”, Sayyid Bakr Syatho juga banyak dikenal karena dia pernah menulis empat jilid syarah “Fath al Mu’in”, sebuah kitab fikih prestisius di dunia pesantren, “I’ana al-Thalibin”.

Sementara dalam hal hadis, bidang keilmuan yang mengangkat nama besar Mahfuzh Termas, dia mengambil sanad dari Bakr Syatho dari Zaini Dahlan hingga Muhammad bin Ali al- Syinwani. Sanad ini banyak dinilai Kiai-Kiai di Indonesia sebagai sanad ‘ali (utama) dalam mata rantai ilmu hadis pada masa-masa akhir kejayaan pengajaran di Masjidil Haram (sebelum dikoyak Wahabi).

Dari al-Syinwani sanad ini bersambung hingga nama-nama besar guru utama di Masjidil Haram seperti Syekh Muhammad ‘Alauddin al Babili, Syekh Zakariya al Anshori hingga Ibnu Hajar al ‘Asqalani. Sanad inilah yang mengantarkan Mahfuzh Termas pada “Shahih Imam Bukhari”. Sanad lain Mahfuzh, namun kurang dikenal adalah melalui Sayyid Husain bin Muhammad al Habsyi. Sanad ini menyambungkan Mahfuzh dengan nama-nama seperti Syekh Umar bin Abdul Karim al ‘Aththar, Abdul Kadir bin Muhammad al-Andalusi. Sayangnya, jalur ini jarang disebutkan oleh para pengkaji Mahfuzh Termas sehingga kurang familiar di telinga para perawi hadis yang melalui jalur Mahfuzh Termas.

Sedikit berbeda dengan sanadnya dalam mempelajari “Shahih Bukhori”, Mahfuzh Termas memiliki jalur lain dalam meriwayatkan “Shahih Muslim”. Meskipun sama-sama melalui jalur Bakr Syatho, tapi tidak lagi melalui guru-guru yang sama dengan yang ia dapatkan dalam sanad “Shahih Bukhori”. Sanad “Shahih Muslim” Mahfuzh menyebut nama-nama Isa al Barawi, Ahmad bin Abdul Fattah al Malawi, Ibrahim bin Hasan al Kurdi, Ahmad bin Muhammad al Qusyasyi,  Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar Ramli, hingga Zakariya al Anshari (Muhammad Mahfuzh Termas. Kifayat al Mustafiid).

Sekedar catatan tambahan, Zakariya al Anshari merupakan tokoh utama dalam kurikulum pendidikan di pesantren. Beberapa kitabnya masyhur dipelajari di banyak pesantren. Diantaranya adalah “Minhaj al-Thullab”. Kitab fikih yang masuk dalam kategori diajarkan untuk santri kelas atas (‘Aliyah). Ada juga “Tahrir Tanqih al Lubab”, “Lub al Ushul Mukhtashar Jam’ul Jawami’” serta “Ghayah al Wushul (Bruinessen, 2010). Kitab terakhir, juga menjadi kitab pokok bagi santri di banyak pesantren di Indonesia yang sedang belajar tentang Ushul Fikih dasar.

Hal yang sama dengan Zakariya al Anshori adalah Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Dia dikenal, terutama sebagai penyusun kitab “Bulugh al-Maram”. Sebuah kumpulan hadis yang ia susun berdasarkan bab-bab yang biasa terdaftar dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyyah. Kitab ini juga masyhur digunakan di kalangan pesantren. Biasanya diajarkan untuk santri tingkat menengah (tsanawiyah).

Beberapa murid Mahfuzh Termas yang cukup masyhur selain Kiai Hasyim Asy’ari adalah Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Abdul Muhith bin Ya’qub (Sidoarjo), Kiai Muhaimin dan Kiai Baidlawi bin Abdul Aziz (Lasem), Kiai Ma’sum bin Ahmad (Lasem), Kiai Baqir bin Nur (Jogja) dan masih banyak yang lain.

Nama besar Mahfuzh Termas bukan tidak mungkin, selain karena murid-muridnya yang berhasil menjadi juru dakwah utama di Nusantara dan banyaknya kitab karyanya, juga karena didorong oleh sanad keilmuan yang unggul. Sanad yang unggul inilah yang membuat para muridnya lebih senang menyebut namanya sebagai guru karena merasa lebih aman saat meriwayatkan keilmuan darinya.

 

Rujukan:

  1. Solahudin, 2013. Napak Tilas Masyayikh: Biografi 15 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura. Kediri: Nous Pustaka.
  2. Bruinessen, Martin van. 2010. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Pustaka.
  3. Muhammad Mahfuzh Termas. Kifayat al Mustafiid. Tanpa Tahun.
  4. Bizawie, Zainul Milal . 2019. Jaringan Ulama Diponegoro. Jakarta: Pustaka Compass.

Penulis: Hamdani Mubarak, Alumni Pesantren Tambakberas Jombang dan Mahasiswa UIN Yogyakarta.

 

Baca juga:

Peneguhan Prinsip “Neo-Sufisme” dalam Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII dan XVIII

Nahdlatut Tujjar: Gerakan dan Etos Kerja Ekonomi Nahdliyin dalam Menghadapi Kolonialisme-Kapitalisme

Sufisme, Salafisme, dan Islam Nusantara sebagai Sebuah Deskripsi