Markas Besar Oelama (MBO), Resolusi Jihad dan Ulama NU

(Napak Tilas Sejarah Markas Besar Oelama, 19/11. Sumber Gambar: LWPNU Jatim)

(Napak Tilas Sejarah Markas Besar Oelama, 19/11. Sumber Gambar: LWPNU Jatim)

Markas Besar Oelama (MBO), yang terletak di Jalan Satria No. 181 RT 17 RW  03 Kedungrejo Waru, merupakan gedung bersejarah yang dijadikan tempat berkumpulnya Ulama NU yang dipimpin oleh KH Bisri Syansuri sebagai kepala staf (Masdar, 2008: 35), sekaligus menjadi sentrum komando barisan mujahidin yang dipimpin KH Abd Wahab Chasbullah untuk perjuangan 10 November 1945.

Sebelum terjadi peristiwa dahsyat 10 November 1945 —yang sekarang dikenal dengan Hari Pahlawan— terjadi resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Ketika itu para santri dimotivasi KH Hasyim Asy’ari untuk berjuang melawan penjajah, khususnya bagi masyarakat muslim yang berada dalam radius 94 Kilometer dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan penjajah dan hukum memberla tanah air, fardhu ‘ain bagi setiap muslim.

Resolusi jihad merupakan salah satu buah pikiran KH Hasyim Asy’ari dan Ulama NU yang lain sebagai wujud perlawanan kepada penjajah. Hal ini berawal dari kedatangan pasukan Inggris di Jawa, mulai September 1945 sebagai sekutu Belanda yang berupaya menancapkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Beberapa kota telah ditaklukkan sekutu, yakni Jakarta, Bandung dan Semarang. Target selanjutnya adalah kota Surabaya. Setelah ulama NU mendapatkan informasi ini, mereka berkumpul pada 22 Oktober 1945 dan menyatakan jihad menaklukkan koalisi Inggris-Belanda.

Ulama NU bertemu di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya. Menindaklanjuti fatwa jihad yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945 yang isinya hampir sama dengn resolusi jihad, yakni mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945 dan Indonesia sebagai pemerintah yang sah harus dibela serta jihad melawan penjajah merupakan kewajiban bagi umat Islam.

KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan Ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya dan setelah itu teks resolusi jihad dikirim ke Presiden Soekarno dan Panglima Tentara Rakyat (TKR) Jenderal Soedirman. Sedangkan di Surabaya KH Hasyim Asy’ari memberikan amanah pelaksanaan resolusi jihad kepada Bung Tomo, karena Bung Tomo mempunyai kedekatan khusus dengan kelompok Islam.

Bung Tomo memiliki  dengan KH Hasyim Asy’ari, ketika Jepang menjajah Indonesia, Bung Tomo sering sowan ke  KH Hasyim Asy’ari untuk memperoleh  kemantapan hati dan kekuatan spiritual dalam masa perang (Listiyawan, 2017).

Kembali ke pembahasan MBO. Markas yang terletak di Waru Sidoarjo ini merupakan tindaklajut dari Markas Besar Oelama Djawa Timur (MBODT) yang terletak di Jalan Blauran Gang 1, Surabaya. Di depan Gang ini, menurut penuturan Des Alwi dan Hario Kecik, setiap malam dilakukan prosesi doa bersama dan pembagian air suwuk oleh para kiai yang diikuti para pejuang. MBODT menjelang akhir November dibom Sekutu, akhirnya para Ulama memindahkan MBODT di Waru Sidoarjo (Rijaz Mumazziq, 2020).

Pada 16 November 2019, Gedung MBO dinapaktilasi oleh Pengurus PW NU Jawa Timur. Napak tilas ini juga sebagai peringatan Hari Santri Nasional. Gedung ini lama tidak terawat. Bahkan plakat (papan nama) yang tertancap sudah hilang. Gedung ini merupakan saks sejarah yang sangat penting bagi perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, pada malam peresmian yang dihadiri oleh KH Marzuki Mustamar dan Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin yang biasa dipanggil Cak Nur, papan nama yang hilang diperbarui dan dipasang lagi di depan gedung bersejarah ini (Bangsa Online, 2019).

Lahan ini milik Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim yang diwakafkan kepada NU. Apa yang dilakukan beliau layak diapresiasi, yakni menyelematkan salah satu cagar budaya Indonesia dan mewakafkannya kepada NU. Pada saat orang-orang sibuk membangun gedung-gedung pencakar langit untuk memenuhi hasrat konsumtif dan hedonis.

Kiai Asep dan kiai-kiai yang lain masih memperhatikan gedung penuh historis dan menjadikannya sebagai cagar budaya untuk mengenang jasa para pahlawan dan mewariskannya kepada genera muda penerus berjuangan bangsa Indonesia.

Begitu dahsyatnya cerita heroik, kiai dan santri menaklukkan penjajah membuat kita berkontemplasi dan melakukan jihad dalam konteks kekinian. Yakni jihad melawan kesewenang-wenangan, kekuasaan yang korup, ketidak adilan, serta perbaikan pendidikan dan ekonomi sehingga terealisasi peradaban luhur, sebagai wujud masyarakat madani yang bercirikan Islam ahlus Sunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyyah dan mengharmoniskan Islam dan Indonesia yang berorientasi kepada kemaslahatan bersama.

 

Sidoarjo, 29 April 2020

 

Sumber Rujukan

Bangsa Online. 2019. “PWNU Napaktilasi Markas Besar Oelama (MBO), Tiga Hari Setelah Kiai Asep Serahkan ke PBNU”. dalam https://m.bangsaonline.com/berita/65292/pwnu-napaktilasi-markas-besar-oelama-mbo-tiga-hari-setelah-kiai-asep-serahkan-ke-pbnu?browsefrom=mobile diakses pada tanggal 29 April 2020

Irfantoni Listiyawan, “Mengenang Pencetus Resolusi Jihad dan Lahirnya Momentum Hari Santri Nasional”. dalam https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/25/mengenang-kh-hasyim-asyari-pencetus-resolusi-jihad-1945 diakses tanggal 29 April 2020

Masdar, Umaruddin. 2008. Pemikiran Politik 9 Ulama Besar NU: Tradisi NU, Jalan PKB. Jakarta: DPP PKB.

Rijaz Mumazziq Z., “Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya”. dalam https://alif.id/read/rijal-mumazziq-z/kiai-ghufron-faqih-dan-jejaring-tebuireng-di-surabaya-b227631p/ diaskes tanggal 29 April 2020.

 

Penulis: Muhammad Solikhudin, Dosen IAIN Kediri, Jawa Timur

 

Baca juga:

Melacak Sanad Keilmuan Kiai Mahfuzh Termas

Peneguhan Prinsip “Neo-Sufisme” dalam Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII dan XVIII

Nahdlatut Tujjar: Gerakan dan Etos Kerja Ekonomi Nahdliyin dalam Menghadapi Kolonialisme-Kapitalisme