Khotbah Idul Fitri 1441 H: Makna Idul Fitri dan Wabah Covid-19

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Kita wajib memuji syukur ke Hadirat Allah SWT. Berkat limpauhan taufik, rahmat, dan hidayah-Nya, kita dilepas takdir untuk dapat merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1441 H. Semoga seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadan kemarin diterima di sisi Allah SWT, sehingga kita benar-benar tegolong mukmin yang bertakwa dan akhirnya kita benar-benar bisa beridul fitri.

Khotbah singkat akan berusaha menjelaskan sedikit dari makna Idul Fitri, baik hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Termasuk juga menyinggung bagaimana agama memandang wabah coronavirus berbahaya yang sedang terjadi di seluruh muka bumi.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Idul Fitri berasal dari dua kata, yakni “idun”, dan “fithrun”. Secara bahasa, idun artinya kembali, yakni kembali ke tempat atau keadaan semula. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia berada di tempat tertentu, kemudian menjauh dari posisi semula. Dan, perayaan idul fitri menjadi peringatan bagi kita untuk kembali lagi ke tempat semula tersebut.

Bagaimana kondisi semula manusia? Hal ini dijelaskan dengan kata “fitrah”, yang memiliki arti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.

Dalam keyakinan Islam, manusia terlahir dalam keadaan suci tanpa dosa. Kemudian dosa-dosa yang kita lakukan membuat manusia menjauh dari kesuciannya, menjauh dari Allah, bahkan sesama umat manusia itu sendiri.

Kisah Adam dan Hawa dalam al-Quran dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana suatu dosa membuat manusia jauh dari fitrah dan sekaligus menjauh dari Allah.

Ketika Allah memperingatkan Adam bahwa: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim” (al-Baqarah Ayat 35).

Namun ketika Adam dan Hawa melanggar, firman Allah berbunyi: “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu” (al-A’raf Ayat 22).

Menurut pakar tafsir Prof. Quraish Shihab, ayat pertama Allah menggunakan kata “hadzihi” yang berarti “ini”, isyarat untuk menunjuk sesuatu yang dekat. Posisi awal manusia dengan Allah dekat. Sedangkan, ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, kalimat yang dipergunakan adalah kata “itu” (pohon itu). Ayat kedua menunjukkan bahwa dosa membuat baik Adam dan Allah sama-sama menjauh, padahal sebelumnya berada di posisi yang saling berdekatan. Namun, jika manusia mendekat kembali kepada Allah, maka Allah akan berada dekat pula dengan manusia tersebut.

Hal ini ditunjukkan misalnya melalui Surat al-Baqarah ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.

Dengan demikian, pada dasarnya Allah tidak pernah menjauh dari manusia. Namun, manusia itu sendiri karena melakukan dosa yang membuatnya jauh dari Allah. Kesadaran manusia terhadap kesalahan(dosa)nya tersebut akan membuat Allah kembali mendekat. Inilah salah satu fitrah manusia yang hubungannya dengan Tuhan, manusia dekat dengan Allah. Dan Hari Raya Idul Fitri adalah suatu hadiah dari Allah sebagai perayaan bagi umat manusia untuk bertobat dan kembali berdekat-dekatan dengan Allah SWT.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Fitrah atau hakikat diri manusia dapat juga kita ketahui dari Al-Quran yang menyebut manusia dengan beberapa panggilan, diantaranya adalah “basyar”, “bani adam”, “annas”, “insan”, yang masing-masing memiliki makna tersendiri tentang hakikat diri manusia. Kita akan fokus pada salah satunya, yakni adalah “insan” yang menunjuk makna manusia.

Ada yang berpendapat bahwa insan berasal dari “nisiyan” yang berarti lupa. Manusia memiliki sifat dasar mudah dan bisa lupa terhadap sesuatu. Hikmah lain dari lupa adalah kita perlu untuk bisa melupakan kesalahan-kesalahan orang lain dan akhirnya saling memaafkan.

Terkait dengan tingkatan memaafkan, para ulama membagi tingkatan memaafkan. Pertama, mau memaafkan kesalahan orang lain, namun masih belum bisa bertemu secara langsung. Tingkatan kedua adalah memaafkan kesalahan orang lain dan berkenan untuk bertemu atau menjalin silaturahmi kembali. Tingkatan memaafkan yang paling tinggi adalah bukan hanya memaafkan dan bertemu kembali, namun berhasil melupakan kesalahan orang lain.

Arti lain dari insan terambil dari kata “uns” yang bermakna harmonis. Hakikat manusia pada dasarnya adalah hidup harmonis atau hidup damai dengan manusia yang lain. Tentu hal ini berbeda dengan pemahaman filsafat Barat misalnya Thomas Hobbs yang mengatakan bahwa human nature hakikat manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Tidak! Manusia tidak menyukai pertikaian maupun konflik, namun lebih menghendaki hidup harmonis, hidup berdampingan secara damai adalah naluri manusia sebagai insan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Fitrah lain dari manusia adalah terbuat dari tanah. Sifat tanah adalah menghidupkan, menumbuhkan, dan memberikan manfaat kepada yang lain. Tanah bersifat stabil, tidak mudah bergejolak. Manusia tidak berasal dari api seperti Iblis. Tidak mudah membakar, membuat kekacauan. Memang api dibutuhkan manusia, tapi hewan dan tumbuhan tidak butuh api. Tapi tanah, senantiasa dibutuhkan manusia, hewan dan tumbuhan.

Hakikat manusia adalah memberikan manfaat bagi orang lain seperti tanah dan tidak suka membahayakan orang lain. Apalagi kaitannya dengan wabah corona yang sekarang sedang terjadi di seluruh dunia.

Seperti sama-sama diketahui, Word Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan new coronavirus atau Covid-19 sebagai pandemi, artinya penyakit ini telah menyebar begitu cepat di seluruh dunia. WHO juga telah menetapkan darurat internasional terhadap virus yang menyerang saluran pernapasan ini. Salah satu tanda bahaya dari virus ini adalah tingkat fatality rate atau angka kematian karena penyakit ini di seluruh dunia mencapai 7%, bahkan di beberapa negara seperti Amerika, Indonesia, dan sebagainya menunjukkan angka di atas rata-rata global.

Dan, bulan puasa dan Idul Fitri tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk memutus rantai penularan Virus Covid-19, sebagian dari kita tidak bisa mudik atau pulang kampung, atau tidak bisa berjumpa dengan keluarganya yang sedang ada dalam perantauan. Bahkan tradisi keliling-keliling Halal bi Halal juga mungkin tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Berkaitan dengan wabah corona yang berbahaya, para ulama kembali lagi meneguhkan prinsip utama dalam Islam yang bersumber dari hadis yang berbunyi “tidak boleh mencelekai diri sendiri dan orang lain”. Prinsip ini memunculkan satu kaidah penting dalam fikih yang mengatakan “menolak kerusakan itu lebih diutamakan daripada mengambil kemanfaatan”.

Lebih jauh, prinsip itu berkaitan dengan maqhosidu al-syariat, yakni tujuan-tujuan utama syariat, yang berisi menjaga harga diri, menjaga harta, menjaga keturunan, menjaga agama, dan menjaga nyawa atau keselamatan.

Jika kita terpaksa tidak bisa menjalankan aktifitas-aktifitas seperti tahun-tahun sebelumnya, bukan berarti kita tidak sedang menjalankan ibadah yang lain. Memang silaturahmi adalah satu amal ibadah yang bernilai tinggi, namun sesuai dengan prinsipnya bahwa menolak kerusakan atau bahaya lebih baik daripada mengambil kemanfataan, bahwa ketika kita terpaksa tidak silaturahmi, bersalam-salaman, gema takbir keliling, dan tradisi hari raya lainnya, kita sebenarnya sedang beralih dari satu amal ibadah ke amal ibadah yang lain.

Bahkan, bisa jadi, dengan menegakkan prinsip filsafat dasar hukum Islam tersebut, kita sedang menjalankan kewajiban syariat yang berarti kita menjalankan tingkatan ibadah yang lebih tinggi di atas kesunatan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Dalam khotbah kedua nanti, marilah kita bersungguh-sungguh memanjatkan doa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita, utamanya ibadah selama Ramadan yang sudah kita jalani. Semoga Allah SWT segera cukupkan pelajaran bagi manusia bahwa manusia tidak bisa sombong berpijak di atas bumi melalui Corona. Semoga Allah segera mengangkat Covid-19 dari muka bumi sehingga kita bisa menjalani kehidupan seperti sedia kala. Amin ya Rabbal Alamin.

24 Mei 2020

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Catatan: Sebagian materi khotbah ini diambil dari buku “Wawasan al-Quran” karya Prof. Quraish Shihab.

 

Baca juga:

Menelisik Pesantren: Dari “Mandala” Hingga Kontrol Pengetahuan Kolonial

Gerakan Modern Islam Abad 20 dan Respon Kalangan Pesantren

Peneguhan Prinsip “Neo-Sufisme” dalam Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII dan XVIII