Hijab dalam Komodifikasi Islam

(Sumber Gambar: Berita Tagar)

Penulis: Rina Rachmawati

Belakangan ini, komodifikasi Islam tampak tumbuh dan berkembang. Penggunaan simbol-simbol Islam di ruang publik juga semakin gencar, komodifikasi Islam memainkan perannya dalam memberikan pengaruh yang luas dan meranjak menjadi mode muslimah. Dimana simbol agama ini yaitu hijab pada dasarnya memiliki nilai yang sangat agamis, bahkan sangat dianjurkan dalam penggunaannya untuk perempuan khususnya yang sudah balig.

Di Indonesia, keberadaan hijab telah diterima secara luas di berbagai lingkungan dan status sosial. Secara sosio-kultural, hijab telah masuk dalam berbagai bidang seperti; sosial, budaya, seni, pendidikan, kesehatan, hukum, politik, dan lainnya. Penerimaan masyarakat di Indonesia mengenai penggunaan hijab sudah menjamur dan menjadi hal yang lumrah, mengingat mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Hijab telah mengalami perkembangan pesat di seluruh dunia, bahkan di Indonesia.

Pesatnya perkembangan tersebut juga merambah ke dalam seni visual. Ketika kehadiran hijab memasuki ruang-ruang penunjang budaya visual, maka berdampak pada bagaimana hijab direpresentaikan dalam budaya visual. Sebagai contoh dalam konten-konten youtube tren hijab mempengaruhi gaya hijab masyarakat di Indonesia, tutorial memakai kerudung yang trendi, unik, kekinian, khas, dll. Tingginya respons masyarakat Indonesia terhadap konten Youtube bernapas islami kemudian memberi ruang bagi hadirnya komodifikasi hijab.

Bagaimana penjelasan mengenai Komodifikasi?

Istilah ‘commodification’ itu sendiri menurut the Oxford English Dictionary, berarti “the action of turning something into, or treating something as, a (more) commodity; commercialization of an activity, and so on, that is not by nature commercial” (tindakan menjadikan sesuatu atau memperlakukan sesuatu sebatas sebagai komoditas, komersialisasi aktivitas dan segala sesuatu yang asalnya bukan benda komersil).

Sementara itu komodifikasi (commodification) menurut Piliang adalah sebuah proses menjadikan sesuatu yang sebelumnya bukan komoditi sehingga kini menjadi komoditi. Komoditi yaitu segala sesuatu yang diproduksi dan dipertukarkan dengan sesuatu yang lain, biasanya uang, dalam rangka memperoleh nilai lebih atau keuntungan.

Barker mendefinisikan komodifikasi sebagai proses asosiasi terhadap kapitalisme, yaitu objek, kualitas dan tanda dijadikan sebagai komoditas. Komoditas adalah sesuatu yang tujuan utamanya adalah untuk dijual ke pasar. Komodifikasi banyak bersinggungan dengan bidang lainnya, salah satunya bersentuhan dalam bidang komunikasi. (http://jurnal.isi-dps.ac.id).

Pada mulanya, hijab hanya digunakan untuk melaksanakan kewajiban menutup aurat terutama untuk wanita yang sudah balig sebagaimana yang tertuang dalam Surat Al Ahzab:59

“Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Lantas apakah itu komodisikasi agama?

Menutut Katiarsa, komodifikasi agama adalah hubungan interaktif antara agama dan pasar. Hubungan tersebut kemudian bisa mengidentifikasi agama yang ikut terlibat dalam pasar dan budaya konsumsi. Dengan catatan lain komodifikasi agama membicarakan keterlibatan agama dalam memberi pengaruh pada tumbuh-kembangnya budaya komersial, konsumsi dan proses pasar. Komodifikasi agama merupakan kontruksi historis dan kultural yang kompleks, sekalipun demikian ciri komersial mereka begitu nyata.

Mereka direproduksi dalam konteks kebudayaan tertentu dan kemudian mempersyaratkan kerangka kultural untuk mempertegas signifikasi simbolik sosio-ekonomi mereka. Komodifikasi merupakan sebuah proses yang benar-benar diciptakan dan disertakan dalam saluran ekonomi pasar lokal-global dan ledakan agama postmodern. Komodifikasi memang tidak bertujuan memproduksi bentuk dan gerakan agama baru yang berlawanan dengan keyakinan dan praktik agama sebelumnya, namun komodifikasi akan mendukudukan agama sebagai barang yang melaluinya fungsi spiritual agama menjadi komoditas yang layak dikonsumsi dalam masyarakat. (http://scholar.unand.ac.id).

Namun, seiring berjalannya waktu, dan pergeseran komodifikasi terutama agama, nilai-nilai keagamaan terus berjalan mengikuti arus globalisasi, seperti penggunaan hijab pada era modern ini. Bisnis menjamur, berbagai merk hijab dengan berbagai mode memasuki ranah ekonomi. Youtuber pun tak ingin kalah, menampilkan tayangan tentang tutorial hijab yang kekinian dengan berbagai macam dan aksesorisnya.

Perkembangan hijab terus mengalami transformasi dari masa ke masa. inilah mengapa Islam tidak hanya dilihat sebagai agama teoritik atau doktrin sebagaimana yang terdapat di dalam al-Qurían dan al-hadits semata, namun juga perlu dilihat pula sebagai gejala historis, sosial, budaya, ekonomi dan politik. (http://media.neliti.com).

Dalam perkembangannya, pemaknaan jilbab mengalami pergeseran makna signifikan. Fenomena kompleks tentang jilbab tidak hanya sebagai identitas keberagamaan tetapi juga sebagai identitas kultural, utamanya kultur masyarakat modern zaman now. (http://ejournal.kopertais4.or.id).

Bisnis menjamur, berbagai merk hijab dengan berbagai mode memasuki ranah ekonomi. Youtuber pun tak ingin kalah, menampilkan tayangan tentang tutorial hijab yang kekinian dengan berbagai macam dan aksesorisnya.

Adanya komodifikasi agama membuat pemeluk agama Islam mulai mengekspresikan keimanannya melalui berbagai komoditas yang berlabel Islam. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, kita melihat bagaimana suatu merek hijab menggunakan label halal seperti merek hijab Zoya. Maraknya komodifikasi Islam ini menjadi suatu konsumsi masyarakat bahwa produk Islam juga terkait dengan identitas individu. Konsumsi terhadap produk-produk islami seringkali menunjukkan status yang tinggi dalam masyarakat.

Komodifikasi hijab menggunakan media online adalah salah satu akses yang dikembangkan. Dalam konten youtube, terdapat beragam kegiatan “hijab tutorial” yang mengajarkan langkah demi langkah untuk menggunakan hijab. “Hijab tutorial” merupakan salah satu daya tarik dari perkembangan penggunaan hijab.

Pengaruh ini merupakan rangkaian yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan konten-konten youtube dan instagram seperti tutorial memakai hijab yang trandy. Konten seperti ini merupakan pencerminan kecenderungan pasar kelas menengah masyarakat Indonesia. Di mana kelas menengah ini mendominasi dalam hal budaya konsumtif. Melihat hijab berbagai mode menarik masyarakat pada kelas ini, toko-toko, pasar, swalayan, situs pembelanjaan online seperti Shopee, Lazada, Instagram, dll banyak menajajakan produknya.

Jika dahulu hijab hanya didominasi dengan warna polos dan berbentuk persegi, kini hijab telah bertransformasi dari segi mode, brand, bentuk, motif, jenis kain, dll. Transformasi ini lambat laun menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan semakin tingginya permintaan hijab di kalangan masyarakat luas. Sekarang dengan mudahnya melihat perempuan Muslimah di Indonesia yang mengenakan hijab. Hijab bukanlah penghalang melakukan aktivitas, semua instansi swasta dan pemerintahan memperbolehkan mengenakan hijab.

Namun, apakah hijab hanya sebatas penutup kepala? Bagaimana dengan perintah mengulurkan sampai menutup dada? Karena berbagai mode hijab pada masa kini, tak jarang yang mengabaikan hal-hal yang demikian. Menggunakan hijab dengan mode, seperti “cipol” membuat hijab menyerupai sanggul tinggi, aksesoris glamor, warna corak yang cerah, dan sebagainya.

Pertanyaannya, bolehkah demikian? Mengingat begitu mudahnya mendapatkan hijab dengan berbagai mode di pasaran sekarang ini, hijab sebagai penunjang karir seperti selebritas yang membutuhkan hiasan dan corak yang cerah dan menarik guna tuntutan profesi.

Apakah Islam dengan komodifikasi agama melarang hal tersebut. Hal yang demikian ini tentunya menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat dan berbagai kelompok agama Islam sendiri. Dan bagaimana dengan budaya konsumtif hijab yang marak menjamur pada masyarakat? Apakah hijab dipandang sebagai penutup aurat atau beralih ke fasion?

Karena jangan sampai yang awalnya hijab sebagai kewajiban menutup aurat untuk perempuan kemudian bergeser menjadi suatu nilai yang menunjukkan kelas, bahkan hanya sekadar ikut-ikutan tren. Apalagi mengikuti mode-mode hijab yang glamor dan tidak menutup dada. Bukankah Islam mengajarkan kesederhanaan dan mampu melawan hawa napsu dalam budaya konsumtif. Budaya konsumtif hijab inilah yang tentunya sangat tidak relevan dengan ajaran agama Islam itu sendiri, jika membeli hijab ingin menunjukkan kelas sosial dengan membeli suatu produk berlabel halal. Komodifikasi agama Islam dalam hijab seharusnya lebih ke arah penguatan nilai-nilai agama dan hijab sebagai identitas wanita Muslimah.

 

 

Daftar Pustaka

Anggrian, M. Dalam “Komodifikasi Hijab dalam Budaya Visual di Indonesia”. Diakses dari http://jurnal.isi-dps.ac.id. Pada tanggal 15 Januari 2021.

Farhan, Faisul Islamiyah. Dalam “Komodifikasi Agama dan Simbol Keagamaan ‘Jilbab’ Di Media Online Dalam Persepsi Netizen”. Diskses dari http://ejournal.kopertais4.or.id. Pada tanggal 15 Januari 2021.

Indhie, FH. Dalam “Bab pendahuluan I”. Diakses dari http://scholar.unand.ac.id. Pada tanggal 15 Januari 2021.

Rozaki, Abdur. Dalam “Komodifikasi Islam”. Diakses dari http://media.neliti.com. Pada tanggal 15 Januari 2021.