Garis Besar Pemikiran Karl Marx

(Karl Marx. Sumber Gambar: Wikipedia)

Dalam perspektif ilmu sosial, analisis untuk memahami perubahan masyarakat sering menggunakan dua pendekatan utama, yakni pendekatan fungsional dan konflik. Pendekatan fungsional menganalogikan masyarakat sebagai organisme biologis. Dimana pendekatan ini mengandaikan kehidupan sosial masyarakat merupakan sebagai sebuah sistem teratur yang saling terhubung dan bahkan tergantung.

Terganggunya satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Meskipun demikian, secara natural rusaknya sistem pada titik tertentu akan kembali pada posisi keseimbangan. Tokoh utamanya adalah Talcott Parsons.

Di sisi lain, pendekatan konflik lebih menekankan pemahaman bahwa dalam masyarakat terdapat sekelompok orang yang menguasai alat produksi dan sebagian besar yang lain tidak. Dua kelompok ini sering dikatagorikan sebagai kelas borjuis dan yang terkahir disebut proletar. Pergerakan sejarah umat manusia senantiasa dipicu konfrontasi antar kelas tersebut. Dalam pendekatan ini sering menganggap konflik adalah kenyataan yang melekat dalam diri masyarakat sebagai faktor penting perubahan. Bahkan, di dalam diri manusia senantiasa mengandung potensi konflik itu sendiri.

Tokohnya adalah Karl Heinrich Marx atau lebih populer dengan sebutan Karl Marx, pemikir besar yang sampai hari ini gagasannya masih dikaji secara luas. Ia adalah dedengkot perumus pendekatan konflik dalam kehidupan sosial masyarakat.

Tulisan ringkas ini akan coba membicarakan tokoh besar Komunis yang meskipun sering menuai kritik, namun masih banyak yang mengikuti alur-alur gagasan yang ditawarkannya. Landasan filosofis pemikiran Karl Marx berangkat dari pengertian tradisional Jerman tentang idealisme dan sejarah. Kecenderungan ini hadir bersama dalam sistem filsafat Hegel. Dengan caranya sendiri, Karl Marx menemukan dan merperluas teori tentang masyarakat dan revolusioner.

Sebelum jauh membahas itu, kita akan mengenal secara singkat riwayat hidup Marx.

Riwayat Hidup

Pemaparan tentang riwayat hidup singkat dari Karl Marx ini sebagain besar dipandu oleh tulisan Stepen Gorman (2010) dalam “Marx dan Weber sebagai Pelopor” dan Schmandt (2015) dalam “Filsafat Politik : Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern”.

Karl Marx lahir 12 Mei 1818 di Trier, Propinsi Rhine Jerman wilyah Prusia. Ayahnya adalah seorang ahli hukum berpendidikan tinggi dan sejahtera, dan berharap anaknya mengikuti jejak sang Ayah. Sehingga pendidikan Karl Marx memulai studi jurisprudensinya di University of Bonn tahun 1835. Ia meneruskan studi hukumnya tahun 1836  di University of Berlin, dimana Hegel menjadi profesor hingga sampai akhir hayatnya tahaun 1831.

Atmosfer di University of Berlin selama periode ini adalah neo-Hegelian. Beragam faksi intelektual bersaing mengklaim diri sebagai pewaris filosofi hegelian. Marx sendiri menggabungkan diri dengan kelompok Young Hegelian sayap kiri. Tokoh di dalam kelompok ini adalah Arnold Ruge, Bruno Bauer,  dan Ludwig Feuerbach.

Young Hegelian beranggapan bahwa negara Prusia tidak mencerminkan suatu penjelmaan semangat dan pikiran yang memuaskan, sehingga dialektika sejarah perlu dibantu untuk menghasilkan suatu kemajuan lain dalam peradaban Jerman.

Mereka percaya suatu peradaban lebih baik bisa dicapai di Jerman. Young Hegelian mengambil peran mendampingi pemunculan antitesis, yang berbentuk satu kontradisi langsung dari keberadaan masyarakat Jerman. Cara-cara untuk mempercepat dialektika historis ini adalah melalui kritikan jurnalistik yang pedas dan pembangkangan politik. Di bawah satu pengaruh perkawanan intelektualnya, Marx mengubah spesialisasinya dari jurisprudensi menjadi filosofi dan memulai perkuliahan di University of Bonn sambil menyelesaikan progam doktornya di University of Jena.

Di tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filosofinya, namun University of Berlin menolak untuk menerima dirinya sebagai konsekuensi atas pandangan radikalnya. Ketika pandangan Young Hegelian digemari di dunia jurnalistik, Marx mengarahkan diri pada bidang tersebut ketika ia jelas-jelas tidak diperbolehkan menempuh karir akademik.

Pada tahun 1843 Marx berimigrasi ke Paris, dimana ia menerima posisi sebagai koeditor sebuah jurnal politik, Jahrbucher. Di paris, Marx menjadi akrab dengan sosialisme Perancis dan ekonomi politik Inggris. Di kota ini pula dia bersahabat baik seumur hidup dengan Engels.

Di tahun 1845 pemerintah Prusia menekan pihak berwenang Perancis untuk menurut kegiatan jurnalistik Marx, yang mengarahkan kritik politik kepada monarki Jerman dari tempat pembungannya yang aman. Pihak Perancis menerimanya dan Marx dipaksa pindah ke Inggris.

Antara tahun 1846-1849 Marx secara berturut-turut terlibat dalam pengorganisasian pekerja Jerman di Berussle. Sekitar Tahun 1850, Marx menarik dirinya ke London dimana ia menghabiskan sisa hidupnya.

Karya-karya Karl Marx

Dalam merangkum pembahasan tentang pemikiran Marx bukan sesuatu yang mudah. Sekadar untuk menyuederhanakan, marilah kita memetakan garis besar periode-periode utama serta karya-karya dan pemikiran seumur hidupnya. Garis besar berikut ditarik dari pendapat Louis Althusser (1970), Lucio Colleti (1972), dan Martin Nocolaus yang dirangkum dari Buku “Teori Perbandingan Politik” karya Ronald Chilcote (2010).

Periode awal (1840-1845): Ini adalah periode ideologis Marx, termasuk disertasi doktornya, “Economic And Philosophical Manuscripts of 1844”, dan “The Holy Family”. Dalam periode ini, Marx tidak lagi berkiblat pada Kant, dan cenderung sependapat dengan idealisme Hegel, dan memodifikasi materialisme Feurbach.

Periode Pemutusan : 1845-1846: Sebagai wakil karya periode ini adalah “The German Ideology” dan “Thesis on Feurbech” menandai pemutusan Marx dengan “filosofi ideologi” maupun pengembannya atas kesadaran teoritis baru yang merangkul konseptualisasi dialektika dan materialisme historis. Dengan menemukan teori sejarah (materliasme historis), Marx secara simultan memutuskan keterikatannya dengan filosofi ideologis dan menyusun sebuah filosofi baru (Meterialisme dialektika).

Periode Transisional (1846-1857): Transisi masa ideologis menjadi ilmiah dicerminkan oleh karya-karya seperti “Communist Manifesto”, “Eighteenth Brumaire”, dan “The Proverty of Philosophy”.

Peride Matang (1857-1883): Ini termasuk “Capital” dan “Grundrisse”

Materialisme Historis

Marx memahami pengucilan sebagai sebuah fenomena historis dan sosial yang berkaitan dengan kebangkitan pribadi dan pembagian kerja. Marx berpendapat kesadaran manusia terkondisikan oleh silang pengaruh dialektika antara subjek atau individu dalam masyarakat dan obyek atau dunia material dimana kita hidup. Dengan demikian sejarah adalah proses berkelanjutan dari penciptaan, kepuasaan, dan penciptaan ulang kebutuhan manusia.

Menurut analisis Marx, cara manusia memenuhi kebutuhannya menjadi pondasi masyarakat. Sistem sosial dan politiknya menjadi super struktur pondasi utama yang dibangun di atas pondasi ini. Materialisme historis berarti bahwa cara memproduksi kebutuhan hidup pada akhirnya menentukan ide-ide dan institusi-institusi sosial pada masanya (Gorman, 2010).

Pergolakan sejarah sering digambarkan terjadi antara demokrasi, aristokrasi dan monarki, namun bentuk sebenarnya adalah dari perjuangan-perjuangan kelas yang berbeda. Perjuangan ini meluas dari individu ke keluarga menuju komunitas dan negara, hingga akhirnya dunia seutuhnya.

Di bawah dunia kapitalisme, satu kelas hidup lewat kepemilikan, sementara yang lain lewat pekerjaan. Kepentingan kelas bourjuis dan proletar adalah bertentangan. Para pemilik mempertahankan properti mereka, dan para pekerja mempertahankan kemanusiaan.

Alienasi

Konsep keterasingan/keterkucilan cukup memiliki arti penting dalam tulisan-tulisan Marx. Yong Hegelian memberikan satu konsepsi idealistik terhadap penggunaan metafisis Hegel atas pengertian tersebut. Begitu juga dipengaruhi humanisme Feurbech, Marx meninggalkan idealisme dan memberikan pengertian kongkrit lewat pengakarannya ke dalam proses pekerja dan dengan demikian meneguhkan sebuah basis bagi kritik humanistik terhadap masyarakat kapitalis.

Menurut Marx, pekerja dan produknya menerima satu keberadaan yang terpisah dari individual segera setelah properti pribadi dan pembagian kerja berkembang. Pemisahan ini menghasilkan pengucilan pekerja (Gorman, 2010).

Dari Kapitalisme Menuju Komunisme

Terdapat beberapa tahap yang manandai peralihan Kapitalisme menuju komunisme : pencapaian dan konsolidasi supremasi politik oleh kaum proletariat, sosialisasi alat-alat produksi, dan akhirnya masyarakat komunis. Langkah pertama adalah membawa kaum proletariat pada kelas penguasa dan merampas kontrol negara. Pemerintahan oleh proletar harus menggantikan pemerintahan bourjuis.

Marx menyamakan negara dengan pemerintah, ia memandangnya sebagai instrumen yang digunakan oleh kelas dominan untuk mencapai tujuannya. Selama keadaan sosialisme, ia akan digunakan oleh masyarkat proletariat demi kepentingan semua orang. Dengan demikian, negara berfungsi sebagai penghancur kapitalisme. Setelah tugasnya tercapai, tidak lagi diperlukan negara atau pemerintah (Gorman, 2010).

Tahap final komunisme akan tercapai ketika semua pembagian kelas dan semua produksi dikonsentrasikan di tangan-tangan asosiasi semua bangsa. Ketika keadaan ini tercapai, maka tidak lagi dibutuhkan pemerintahan politik (Gorman, 2010).

Penutup

Dinamika intelektual dan problem filosofis dalam pengertian Karl Marx bukan sekedar untuk memahami dunia, tetapi untuk mengubahnya. Dalam hal ini, doktrin yang ditawarkan memiliki efek yang mengejutkan pada jalannya sejarah.

Karl Marx hidup di era ketimpangan ekonomi yang ditimbulkan oleh cara produksi. Dia melihat fase paling tidak manusiawi dari revolusi industri. Sehingga muncul utopi sosialis yang didambakan, meskipun sampai hari ini belum mewujud.

Meskipun pada tahap berikutnya pemikiran-pemikiran Karl Marx sering menuai kritik, tapi gagasannya tentang sosial-politik masih tetap dikaji dan bahkan digunakan sebagai alat analisa dalam ilmu-ilmu sosial.

 

Rujukan

Gorman, Stepen. 2010. “Marx dan Weber sebagai Pelopor”. Editor: Ronald Chilcote. Teori Perbandingan Politik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Schmandt, J. Henry. 2015. Filsafat Politik : Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

 

Penulis: Redaksi Kajian Politik Pojok Wacana

Baca juga:

Pengertian Gerakan Sosial Baru

Sejarah Perkembangan Teori Feminisme

Pengertian Politik Uang dalam Kajian Politik