Filsafat Skeptis di Era Hellenisme

Skeptis Arcesilaus

Kita telah membahas kaum Sinisme pada tulisan yang lalu, kini kita bergeser kepada filsafat besar lainnya di era Hellenisme: skeptis.

Perlu dikemukakan di muka bahwa makna skeptisisme di sini bukan sekadar keragu-raguan semata, namun sebuah keragu-raguan yang bersifat dogmatis. Sebagai penjelas, kita cermati sebuah perbandingan ungkapan berikut ini:

Ilmuwan: “saya menduga masalah ada di sini, dan sini, namun saya masih merasa kurang yakin”.

Seorang intelektual yang senang mencari kebenaran: “saya memang tidak memahami hal ini, namun saya yakin saya dapat memahaminya jika mempelajarinya kembali dengan tekun dan seksama”.

Orang skeptis: “tidak seorang pun mengetahui, dan tidak seorang pun dapat mengetahuinya”.

Dari ketiga ungkapan itu, kita bisa sedikit memilih gambaran bagaimana makna skeptisisme sebagai sebuah dogma yang melekat di dalam pengetahuan dan proses pencarian pengetahuan itu sendiri. Ia meyakini tidak ada yang tahu, dan tidak ada orang yang bisa tahu tentang sesuatu.

Ajaran skeptis zaman Hellenisme diajarkan pertama kali oleh Pyrrho, mantan serdadu Aleksander yang pernah sampai menjalankan tugas hingga India. Pemahaman skeptisisme yang ia ajarkan sebenarnya tidak ada hal baru, namun ia berusaha menyusun kerangka sistematisnya.

Kita telah menyaksikan bagaimana kaum sofis seperti Protagoras dan Gorgias menggiring pemahaman kebenaran alternatif dan menyepelekan tangkapan inderawi sebagai basis bagi filsafat skeptisisme.

Pyrrho telah menambahkan skeptisisme moral dan logis dalam pemahamannya. Bahkan ia mengatakan tidak ada serangkaian landasan rasional apa pun sebagai bahan mengambil keputusan tertentu. Skeptisisme ini akhirnya memberikan jaminan bahwa apa yang mereka jalankan tidak bisa keliru, dan ini adalah pemikiran yang menyenangkan.

Skeptisisme bisa jadi cocok dengan orang yang tidak suka bergelut dengan pemikiran filsafat, dimana kita akan menemui banyak pandangan berbeda yang masing-masing menyerukan kebenarannya masing-masing. Daripada ribet untuk mempertimbangkan percecokan dan perdebatan filsafat, lebih baik bersifat skeptis saja terhadap semua kebenaran.

Tentu hal di atas adalah dugaan, sebab salah satu murid Pyrrho bernama Timon membangun landasan filsafat skeptisisme yang berangkat dari kritiknya secara tajam terhadap pola pikir Yunani yang menonjol di era itu.

Sebagaimana kita tahu, seperti halnya Aristoteles, menekankan adanya premis mayor sebagai syarat mutlak lahirnya deduksi:

Semua manusia akan mati (premis mayor)

Socrates adalah manusia (premis minos)

Socrates akan mati (kesimpulan)

Timon mengkritik bagaimana kita bisa mencapai premis mayor tersebut? Bukankan setiap premis yang dianggap mayor adalah hasil dari premis-premis sebelumnya. Dengan demikian, silogisme memiliki cacat awal dari pembentukan premis mayornya.

Di sini nampak jelas bahwa skeptisisme menyerang ajaran Aristotelian.

Timon tinggal cukup lama di Athena, dan meninggal di sana pula pada tahun 235 SM. Selepas Pyrrho meninggal dan kematian Timon menyusul, ajaran skeptisisime ini turut terkubur bersama mereka.

Menariknya, kalangan Akademia yang mewarisi tradisi filsafat Plato mengambil alih pemikiran ini dan bisa merevolusinya.

Orang yang berjasa itu adalah Arcesilaus yang hidup sezaman dengan Timon dan meninggal pada tahun 240 SM.

Skeptis Arcesilaus
(Arcesilaus, tokoh Skeptis di Akademia. Sumber Gambar: Wikipedia)

Kaprah kita ketahui, Plato memiliki pandangan bahwa jiwa bersifat abadi. Ia adalah penghubung diri dengan dunia ide yang ada di dunia lain, dan merupakan realitas sesungguhnya. Sedangkan dunia yang setiap hari kita saksikan adalah tiruan tidak sempurna dari dunia ide yang abadi tersebut.

Pemahaman ini menempatkan pemikiran sangat unggul, dan konsekuensinya adalah memandang rendah segala pengetahuan yang berasal dari pengamatan empiris. Pemikiran ini tentu mendorong lahirnya skeptisisme terhadap kenyataan yang kita peroleh.

Dari berbagai kesempatan, sebagaimana diceritakan Plato, Socrates juga sering mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa, dan setiap dialog yang ia lakukan sering kali tidak sampai pada kesimpulan.

Tentu arti ungkapan “saya tidak tahu apa-apa” bukan berarti kalimat denotatif, dan mengindikasikan keragu-raguan pada setiap pengetahuan yang diperoleh beserta diskusi yang ia jalani.

Pemahaman seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa makna “tidak tahu apa-apa” tidak sama dengan keragu-raguan dogmatis, namun lebih mengarah pada sebuah metodologi dengan keragu-raguan untuk mencapai pengetahuan dan kebenaran.

Bekal filsafat Plato yang mendasari pemahaman skeptisisme yang berbeda mendasari Arcesilaus. Pola pikir demikian yang membuat Arcesilaus menggunakan metode serupa dalam mengajar murid-muridnya.

Terkadang ia tidak menyiapkan sebuah premis utama dalam suatu diskusi, dan terkadang menawarkan dua proposisi untuk didialogkan dengan para muridnya. Pada praktiknya, tidak ada pelajaran apa pun yang dapat diperoleh, dan hanya menyisahkan sikap tidak memedulikan kebenaran sebagai tujuan.

Begitu besar pengaruh yang dikembangkan Arcesilaus di Akademia yang mengakibatkan pemikiran berwatak skeptis mampu bertahan sekitar dua ratus tahun.

Sesudah Arcesilaus, pemimpin Akademia dilanjutkan oleh Carneades dan kemudian disusul oleh Clithomacus. Dua filsuf skeptis ini “mengembangkan ajaran yang konstruktif, mengenai derajat probalitas; meskipun mustahil kita meyakini suatu kepastian, beberapa hal berkemungkinan untuk benar daripada beberapa hal lainnya”.

Probalitas adalah sebuah hipotesis yang harusnya senantiasa memandu kita dalam memutuskan sesuatu berdasarkan tingkat kemungkinan keberhasilan yang lebih tinggi.

Selepas kepemimpinan Clithomacus, gagasan skeptis sudah mulai surut di di Akademia, dan semenjak zaman kepemimpinan Antiokhus (meninggal tahun 69 SM), Akademia lebih dekat dengan pemikiran Stoisisme.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Kaum Sinis dan Kaum Skeptis” hal. 312-327.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Protagoras, Pemimpin Kaum Sofis

Leucippus dan Demokritos, Pelopor Filsafat Atomis

Kebangkitan Athena dan Filsafat Anaxagoras

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments