Filsafat Sinisme di Era Hellenisme, Ajaran Diogenes dan Antisthenes

Diogenes, Sinisme

Mazhab sinisme merupakan satu di antara empat mazhab besar filsafat yang berlangsung di era Hellenisme. Tiga lainnya adalah Skeptisisme, Stoisisme, dan Epikureanisme.

Latar belakang yang memicu kelahiran perlbagai aliran filsafat itu tentu tidak bisa terlepas dari bekerjanya kekuasaan di era Hellenisme. Ketika kekuasaan, tentu beserta kekayaan, dari Athena berpindah ke Makedonia, sewajarnya pula para filsuf Yunani menyingkir dari kehidupan politik.

Mereka akhirnya tidak memiliki minat untuk mempelajari politik hingga era pengikut stoisisme ke Romawi. Itupun seputar politik Romawi, bukan Yunani lagi.

Mereka yang “kalah” secara kondisi sosial-politik lebih mencurahkan perhatian seputar bagaimana manusia tetap bisa luhur di tengah kehidupan yang kejam ini, atau hidup berbahagia di tengah pusaran penderitaan yang sedang berlangsung.

Pandangan muram para filsuf yang kian subjektif dan individualis pada kelanjutan sejarahnya selepas Romawi mengilhami ajaran Kristen tentang konsep penyelamatan diri.

Sebagai perbandingan, jika kita cermati karya-karya filsuf klasik seperti Plato dan Aristoteles, mereka tidak mengesankan sebuah kepasarahaan diri dan keputusasaan.

Toh, meski misalnya Plato yang sempat ingin berpolitik dan akhirnya tidak berhasil, atau tidak mau, adalah tipe aristokrasi yang kebetulan sedang kalah dalam percaturan politik, bukan karena mereka adalah individu-individu yang benar-benar berada di luar radar kekuasaan.

Latar belakang singkat sebagaimana di atas belum mendapat perhatian terlebih dahulu sebelum kita pada bagian ini, dan bagian-bagian selanjutnya, membicarakan corak mazhab filsafat di era Hellenisme. Menyadari konteks marjinalisasi filsuf secara sosio-politik mampu mengantarkan kita untuk memahami bagaimana kelompok semacam sinisme ini hadir.

Pendiri mazhab sinis adalah Diogenes yang mengambil ajaran dari Antisthenes, salah seorang murid Socrates yang usinya terpaut sekitar 20 tahun lebih tua dari Plato. Selepas kematian Socrates, Antisthenes tetap hidup layaknya bangsawan bersama murid-murid Plato lainnya dan tidak menunjukkan pemikiran konservatif apa pun.

Hal itu berubah ketika Makedonia berhasil menundukkan Athena, bisa juga karena memendam kekecewaan atas hukuman mati gurunya, atau sudah mulai jenuh dengan bantah-bantahan filsafat, Anthistehnes mengubah berbagai pandangannya selama ini yang sebelumnya sangat ia hargai.

Ia menggabungkan diri dengan para pekerja kasar, dan menyerupai mereka dalam berpakaian. Di tengah masyarakat kelas menengah ke bawah, ia kerap memberi khotbah dengan bahasa yang sederhana sehingga masyarakat kebanyakan mampu menyerap penjelasannya.

Ia mengatakan bahwa tidak ada gunanya berbagai berbincangan yang muluk-muluk dalam filsafat. Harusnya, pelajaran filsafat dapat dicerna oleh kaum awam sekalipun.

Dalam setiap kesempatan, ia senantiasa mengunggulkan keutamaan diri dan mengecam segala bentuk kenikmatan duniawi yang ia anggap semu.

Ajaran dari Antisthenes dilanjutkan oleh muridnya, Diogenes, yang membuat sinisme lebih populer. Seturut dengan kecamannya terhadap kehidupan duniawi, Diogenes bahkan bercita-cita merusak mata uang dan menyadarkan bahwa segala kehormatan, kejayaan kekayaan, hanyalah logam mentah yang diolah dan dicap dengan atribut tertentu tertentu dan bersifat menipu.

Dikisahkan Diogenes memilih hidup layaknya anjing, akibat perilakunya tersebut ia dijuluki “sinis” (cynic) yang artinya anjing. Ia menolak segala jenis otoritas, baik agama, adat-istiadat, sopan-santun, termasuk menolak konvensi apapun berupa sandang-pandang-papan dan sebagainya.

Diogenes memilih hidup sebagai pengemis dan mendeklarasikan bahwa dirinya bersaudara kepada setiap manusia dan bahkan binatang sekali pun.

Diogenes, Sinisme
(Ilustrasi Aleksander menemui Diogenes, tokoh mazhab sinisme. Sumber Gambar: Kosmos Society)

Perlu diperjelas bahwa watak filsafat sinisme yang sedang kita bicarakan berbeda dengan pemahaman sinisme di era sekarang. Sinisme Diogenes menitikberatkan pencapaian keutamaan manusia dengan cara menegasikannya terhadap segala sesuatu kehidupan duniawi yang dianggap rendah olehnya.

Meski mazhab ini berkembang bersamaan dengan era hidup Aristoteles, perbedaan yang tampak adalah bagaimana corak filsafat sinisme begitu muram, dan Aristoteles masih melihat dunia dengan riang. Sesudah Aristoteles, mazhab-mazhab filsafat lebih banyak didominasi bagaimana memalingkan diri dari kehidupan yang buruk, dan kita bebaskan diri kita darinya.

Sinisme Diogenes tentunya memiliki tempat bagi orang yang letih dan dipenuhi kekecewaan di dalam diri seseorang secara natural. Diogenes menfasilitasi kekecewaan-kekecewaan tersebut, dan tentunya semangat intelektual semacam ini tidak mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, kecuali hanya protes pada segala bentuk kemaksiatan belaka.

Ajaran ini tersebar hingga mencapai Kota Alexandria di Abad ke-3. Terdapat pelbagai selebaran yang disebarkan sebagai wujud ringkasan mazhab filsafat ini: betapa nikmatnya hidup dengan makanan seadanya, dan bahkan tanpa kekayaan material apa pun.

Sinisme memang tidak mengajarkan begitu beringas agar amal ma’ruf nahi munkar terhadap apa yang sudah dipandang baik, namun menganjurkan untuk bersikap tidak peduli. Parahnya lagi, kewajiban membayar hutang menjadi salah satu dari turunan ketidakpedulian tersebut sehingga menempati makna secara lazimnya pengertian sinis yang kita pahami sekarang.’

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Kaum Sinis dan Kaum Skeptis” hal. 312-327.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Filsafat Empedokles: Cinta dan Perselisihan Abadi, Alam Semesta yang Bersifat Kebetulan

Filsafat Parmenides: Segala Sesuatu Tidak Ada yang Berubah

Filsafat Heraklitus (Herakleitos): Api Adalah Substansi Segala Sesuatu

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments