Filsafat Parmenides: Segala Sesuatu Tidak Ada yang Berubah

Heraklitus mengemukakan bahwa segala sesuatu senantiasa berubah, seperti yang kita ulas pada tulisan sebelumnya. Pandangan tersebut mendapatkan kritik dari Parmenides yang beragumen sebaliknya: segala sesuatu pada dasarnya tidak ada yang berubah alias tetap.

Parmenides berasal dari Elea, Italia bagian selatan. Sudah cukup dewasa pada paruh awal abad ke-5 SM. Para filsuf Italia Selatan dan Sisilia memiliki corak pemikiran yang berhalauan religius, berbeda dengan kalangan Miletos yang kental dengan tradisi ilmiah.

Menurut penuturan Plato, Socrates muda pernah menemui Parmenides yang sudah berusia senja. Benar atau tidaknya cerita ini bisa ditelusuri lebih jauh. Poinnya adalah Parmenides memainkan peran penting bagi perkembangan pemikiran Plato, khususnya gagasan besarnya tentang dunia idea.

Lebih dari itu, Parmenides menempati posisi penting dalam sejarah filsafat Barat karena kontribusinya terkait metafisis yang berlandaskan logika. Parmenides memang terkenal sebagai batu peletak dasar logika dalam filsafat, tapi lebih tepatnya adalah metafisis yang bersandarkan pada argumen logis.

Kita mulai masuk pada beberapa pendirian utama filsafatnya, yang sebagian besar tertuang dalam bentuk syair berjudul “On Nature”. Ia mengungkapkan bahwa pada dasarnya pengetahuan kita secara keseluruhan dari indera adalah menipu. Apa yang ditangkap oleh indera sekadar ilusi semata. Satu hal yang sejati adalah apa yang “Tunggal” itu sendiri. Ia besifat mutlak dan tidak terbagi-bagi dan hadir dimanapun.

Terkait dengan bantahannya terhadap Heraklitus, yang Tunggal itu bukan hasil peniadaan dari unsur lain. Karena perselisihan antar unsur sebagai watak utama alam semesta tidak pernah terjadi. Dingin artinya tidak panas; gelap artinya tidak terang, bukan suatu yang menegasi satu sama lain.

Ia memberikan sumbangsi tentang keterkaitan metafisik dengan logika bahasa. Sesuatu yang sebenarnya ada itu ada dengan sendirinya, dan sesuatu yang tidak ada pula juga sebenarnya tidak ada. Pemahaman asali tentang apa yang ada dan apa yang tidak ada ini sekaligus menandaskan bahwa segala sesuatu adalah proses ala Heraklitus.

Poin pentingnya: Hakikat asali tentang ada dan tidak ada itu tidak bisa dipertentangkan dengan persepsi manusia beserta pernyataan bahasa yang mengikutinya.

Jika memang sesuatu itu ada, maka persepsi manusia menganggap atau mengatakan itu tidak ada, adalah sesuatu kalimat yang tidak memiliki makna. Begitu pula sebuah konsepsi hasil dari persepsi yang menyatakan bahwa ada suatu proses yang berlangsung terus-menerus hanyalah ungkapan yang tidak perlu dihiraukan.

Untuk memperjelas kaitan bahasa dan metafisis ini perlu dijabarkan contoh.

Orang dekat Bung Karno akan memiliki pengetahuan langsung atau persepsi kongkrit tentang sosok Bung Karno dari aktifitasnya yang mereka alami bersama. Ketika menyebut nama Bung Karno, nama itu adalah sosok yang eksis. Apa yang mereka bicarakan merujuk pada Bung Karno dalam pikiran saat ini bersamaan Bung Karno eksis.

Ketika Bung Karno wafat, maka yang tersisa bagi mereka adalah dari persepsi menjadi memori. Ketika menyebut nama Bung Karno yang berlangsung adalah proses olahan mental berdasarkan memori yang tertanam dalam diri mereka. Kata Bung Karno pun ketika diucapkan memiliki perubahan makna secara mendasar karena tidak mengacu pada ingatan hari ini. Siapa tahu Bung Karno mengacu pada nama lain yang bukan Bung Karno yang dimaksud.

Bagi kita yang tidak pernah berjumpa langsung dengan Bung Karno, mengalami kerumitan sendiri karena hanya mendasarkan diri dari cerita orang-orang yang menyimpan memori tersebut. Apa pun pemahaman kita tentang nama Bung Karno, yang tidak kenal secara langsung, adalah apa yang tampil pada indera, memori, dan persepsi kita.

Proses deskripsi dan dideskripsikan ini adalah cara manusia memahami suatu objek. Pikiran kita yang tertuang melalui bahasa bisa jadi adalah kesadaran yang salah. Apa yang kita pikirkan berdasarkan pikiran kita hari ini tidak bisa begitu saja berarti mendeskripsikan pikiran tentang Bung Karno di masa lalu, karena ucapan beserta pikirannya berlangsung sekarang.

Jika kita menarik ingatan pada hal yang berlangsung di masa lalu, maupun berdasarkan penuturan orang lain, ingatan itu terjadi sekarang dan tidak sama persis dengan kesejatian apa yang kita ingat.

Cara paling mudah memahami metafisis bahasa ini adalah menghilangkan segala bentuk kesan yang ditimbulkan dari ingatan, dan melepaskan diri dari problematika mana kesejatian deskripsi sesuatu yang asli, dan tinggalkan anggapan bagaimana sesuatu itu telah mengalami deskripsi ulang.

Dengan begitu, Bung Karno itu sendiri adalah seseorang yang tetap eksis dengan kenyataan dirinya sendiri, dan tidak mengalami perubahan sama sekali. Jika kita katakana Bung Karno, pikiran kita ketika menyebutnya haruslah Bung Karno yang eksis di hadapan pikiran kita saat ini. Dengan demikian, pengetahuan kita pada Bung Karno itu sebenarnya eksis dan tidak berubah (sebenarnya bisa lebih kompleks lagi penjelasan tentang ini, namun untuk sementara kita cukupkan saja).

(Parmenides. Sumber Gambar: Wikipedia)

Sekali lagi, apa yang ada dan tetap tidak bisa dibelokkan oleh hasil kesadaran persepsi pikiran manusia yang cenderung keliru memahami sesuatu eksis yang asalinya tanpa perubahan.

Jadi, tidak ada sesuatu yang berubah. Apa yang kita sebut berubah hanyalah hasil pikiran kita sendiri yang bertentang dengan “Kebenaran Yang Tunggal” yang mendasari sifat tetap bagi segala sesuatu. Semuanya itu tetap!

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Parmenides” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 65-71.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments