Filsafat Empirisme John Locke

Filsafat Empirisme John Locke

“No man’s knowledge here can go beyond his experience”

(Tidak ada pengetahuan seseorang yang dapat melampaui pengalamannya)

Penulis: Redaksi Pojok Wacana

John Locke yang dikenal sebagai tokoh filsuf besar era modern memiliki banyak julukan. Ia dikenal sebagai tokoh empirisme yang sangat berpengaruh. Bersama Francis Bacon, George Berkeley, dan David Hume, John Locke menduduki katalog sebagai para filsuf aliran empirisme.

Sebuah pandangan pengetahuan yang menekankan bahwa pengalaman indrawi adalah sumber kebenaran, yang sekaligus membantah tesis para rasionalisme seperti Rene Descartes. Dengan kata lain, Empirisme sendiri timbul sebagai reaksi dari paham rasionalisme “Rene Descartes”.

Selain dikenal sebagai tokoh filsafat empirisme dengan konsep “tabu larasa”nya, John Locke juga populer sebagai tokoh filsafat politik dengan konsep pembagian kekuasaan melalui kontrak sosial dan tokoh teoritis seputar kajian Hak Asasi Manusia (HAM).

Mengingat begitu banyak cakupan yang dibahas oleh Jhon Locke, tulisan ini akan memfokuskan pembahasannya terkait filsafat empirismenya saja. Untuk pembahasan pemikiran politiknya akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

 

Riwayat Singkat

(John Locke. Sumber Gambar: Wikipedia)

Merujuk pada Astutik (2015), John Locke lahir pada 29 Agustus 1632 di Wrington, Inggris Barat. Ayahnya seorang pengacara yang tidak begitu kaya. Pada tahun 1647, ia sekolah di Westminster School di London, dan pada 1652 ia melanjutkan studi di Universitas Oxford. Ia meninggal di Essex pada hari Minggu 28 Oktober 1704.

Karya-karyanya: A Letter Concerning Toleration (1689),  A Second Letter Concerning Toleration (1690),  A Third Letter for Toleration (1692),  Two Treatises of Government (1689),  An Essay Concerning Human Understanding (1689), Some Thoughts Concerning Education (1693), The Reasonableness of Christianity, as Delivered in the Scriptures (1695),  A Vindication of the Reasonableness of Christianity (1695).

 

Filsafat Empirisme John Locke

Merujuk Suseno dalam “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis”, terdapat dua pernyataan filsafat empisme John Locke yang memiliki kontribusi besar dalam pengetahuan modern hari ini.

Pertama, seluruh pengetahuan manusia berasal dari pengalamannya. Kedua, Pengetahuan dari pengalaman atas objek atau benda yang kita ingin ketahui bukanlah pengetahuan yang sebenarnya, namun hanya “kesan”nya yang kita ketahui melalui panca indra kita.

Dua pernyataan tersebut akan diurai lebih jauh karena merupakan pondasi filsafat empirisme John Locke.

 

Seluruh Pengetahuan Berasal Dari Pengalaman

Tidak ada pengetahuan seseorang yang dapat melampaui pengalamannya (“No man’s knowledge here can go beyond his experience”) adalah jargon kalangan empiris yang sekiranya mampu menggambarkan makna dari pengetahuan berasal dari pengalaman.

Pernyataan ini sekaligus membantah bahwa semenjak lahir, manusia sudah memiliki pengetahuan asali di dalam pikirannya. Sebagian filsuf, misalnya Plato, meyakini bahwa ada dunia idea yang sejak dari awal tertanam dalam setiap diri manusia.

Bagi Locke, jika memang demikian, harusnya semua orang bahkan orang idiot dan bodoh sekalipun harusnya tahu apa itu kebenaran universal. Kenyatannya, semua pengetahuan tentang apa pun senantiasa tercipta melalui pengalaman seseorang, baik pengalaman pergaulan, baca buku, perbincangan dan seterusnya.

Sebagaimana yang dikemukakan dalam “Essax Concerning Human Understanding”, seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi. Tanpa hidung, kita tidak bisa mencium bau, tanpa mata, kota tidak bisa melihat, tanpa telinga, kita tidak bisa mendengar.

Konsep yang kemudian secara epistemologis berasal dari pandangan “Tabu larasa” ini adalah suatu kondisi jiwa layaknya kertas putih, bersih, dan kosong tanpa catatan apa-apa. Tidak ada namanya ide bawaan di dalamnya. Ia akan mulai terisi seturut dengan pengalaman yang ditorehkan tinta ke dalamnya.

Lebih jauh John Locke membagi sumber pengetahuan tersebut ke dalam dua bentuk. Yakni, Pengetahuan Lahiriah (sensation) dan pengetahuan Batiniah (Reflection). Pengetahuan Lahiriah . adalah guratan pengetahuan terjadi dalam kertas putih tersebut melalui panca indra yang bersifat spontan dan langsung.

Objek yang berasal dari realitas kongkrit ditangkap oleh panca indra yang akhirnya menimbulkan persepsi. Ide-ide ini misalnya warna, bentuk, tinggi, suara, dan seterusnya.

Sedangkan pengetahuan batiniah berasal dari perangkat kerja pikiran dan pergulatan perasaan. Hal ini timbul lantaran pengalaman yang berlangsung dan terjadilah proses berpikir, berkehendak, meragukan segala sesuatu. Pengalaman batiniah timbul kalau kita memberikan respon atas pengalam sesuatu yang diolah di dalam pikiran atau perasaan.

Untuk lebih memahami filsafat empirisme Locke, perlu dipahami tiga istilah penting didalamnya, yakni sensation, sense data, dan idea.

Sederhananya: sensation adalah kemampuan panca indra menangkap objek secara spontan, yang sudah kita bahas sebelumnya.

Sedangkan sense data terkait dengan kualitas objek yang ditangkap. Terdapat tiga hal yakni

A. Kualitas Primer (Kenyataan Objektif) yang dihasilan dari kenyatakan obyektif seperti kepadatan atau jumlah.

B. Kualitas Sekunder (Kenyataan Subjektif) yang sama-sama ditangkap oleh indra, namun seturut dengan persepsi subjek yang subjektif dan kondisi objek bisa berubah-ubah. Misalnya bau, ada yang merasakan, dan kalau ada yang terkena gejala Covid-19 tidak bisa mencium bau.

C. Kualitas Tersier (Hasil Pikiran) yang merupakan bagaimana pikiran mengolah data dari fakta empiris tersebut. Bisa memilah, memutuskan, memusatkan perhatian, menilai dan sebagainya. Hasilnya seperti kebaikan, kejahatan, dan seterusnya

Dan masih banyak lagi konsep lainnya seperti seperti complex idea dan seterusnya, yang saya kira juga tidak terlalu penting untuk lebih jauh dikemukakan. Berikutnya adalah penjelasan lebih penting tentang filsafat empirisme John Locke yang lebih kompleks dari pada premis pertama.

 

Kesan Yang Tertangkap Panca Indra

Menurut Jhon Locke, sebagaimana dijelaskan oleh Suseno, ketika kita melihat pohon atau mendengarkan suara burung, pada dasarnya kita tidak benar-benar melihat pohon atau mendengar suara burung, namun kita hanya menangkap kesan indrawi yang ditangkap retina atau gendang telinga sebagai pohon atau suara burung.

Lantas apa makna dari kesan yang ditangkap indra padahal kata Jhon Locke bahwa pengetahuan berasal dari fakta empirisme?

Sebenarnya pengetahuan kita terhadap sesuatu yang empiris mengalami penciutan atau subjektifisme manusia terhadap fakta empiris. Kita tidak benar-benar menangkap realitas objektif dari fakta empiris, namun hanya kesannya semata.

Kecenderungan berpikir demikian mengantarkan kita pada pemahaman berikutnya bahwa setiap manusia memiliki kesan sendiri-sendiri atas sesuatu, dan tidak suatu objektifitas empiris yang mengikat semua orang, tapi yang ada adalah relativisme umum yang terjadi.

Pemahaman demikian pada gilirannya disempurnakan secara ekstream oleh tokoh empirisme lainnya, yakni David Hume bahwa tidak ada pertautan peristiwa yang melahirkan sebab dan akibat.

Ketika anak kecil melempar batu ke candela, dan cendelanya pecah, tidak bisa disimpulkan bahwa lemparan batu itu menjadi penyebab kaca pecah. Kita hanya tahu bahwa ada batu yang terlempar sebagai fakta empiris, kedua ada kaca pecah tidak lebih. Tidak pula batu dan anak kecil sebagai penyebabnya.

Pada akhirnya pemahaman seperti ini memiliki implikasi bahwa manusia sebenarnya tidak dapat memahami apa-apa secara sempurna. Menurut Suseno, pandangan empirisme yang terkesan ekstrem ini akan mengantarkan pada proyek filsafat nihilism pengetahuan.

 

Sumber Referensi

Widyastutik, Dwi. 2015. “Pemikiran Politik Plato”. Bahan Ajar Pemikiran Politik Barat. FISIP Universitas Airlangga.

Suseno, Franz Magnis. 2016. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Jakarta: Kanisius.

 

Baca Juga:

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

MUNISPALISME LIBERTARIAN: TAWARAN RADIKAL DEMI RAKYAT YANG BERDAULAT

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments