Empat Skenario Masa Depan Politik Aceh

(Sumber Gambar: Bukalapak)

Judul: Shaping the Future of Aceh: an Academic Review of a Scenario Building

Penulis: Erna Ermawati & Siti Aminah

Penerbit: LabSosio UI & Yayasan Tifa, Jakarta

Tahun Terbit: 2009

Tebal: 155 hlm

Aceh menjadi daerah yang cukup menarik perhatian sebagian akademisi untuk meneliti perubahan sosial, politik, budaya, hukum dan sebagainya. Kita pasti tahu Aceh menjadi salah satu wilayah Indonesia yang pernah mendeklarasikan dirinya untuk berpisah dari wilayah Indonesia.

Salah satunya dipelopori oleh gerakan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan gerakan–gerakan lainnya yang memicu adanya pemberontakan massa. Beberapa faktor membuat Aceh menjadi daerah yang merasa ‘terdzalimi’ oleh kekuasaan dan ‘kengerian’ rezim yang berkuasa di pemerintahan pusat saat itu.

Sejarah Aceh jika dilihat melalui kacamata historis dalam ulasan konflik dimulai sejak pemberontakan DI/TII, Operasi Militer hingga Reformasi 1998. Semua kerangka-kerangka historis tersebut membawa Aceh pada masa–masa gentinngnya. Selain sebagai wilayah yang rentan mengalami konflik, Aceh menjadi salah satu titik eksplorasi minyak dan gas bumi pada 1970.

Pada 7 Januari 1999 Aceh menginginkan ke-otonomian mengingat 1999 adalah puncak ‘kebebasan’ dan demokrasi sebagai tuntutan yang wajib dipenuhi. Pada tahun itu pula muncul UU otonomi daerah Aceh No. 44/1999 hingga pada 9 Agustus 2011 Aceh secara resmi mendapatkan otonomi khusus dari sekian daerah yang ada di Indonesia.

Dari studi sejarah di Aceh ini, telah memberikan suatu pemaknaan tentang sejarah Aceh dan hal ini dapat digunakan untuk mengulas latar belakang dalam konteks Aceh di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Buku “Shaping the Future of Aceh an Academic Review of a Scenario Building” yang ditulis Erna Ermawati dan Siti Aminah memiliki semangat untuk memberikan semacam draf skenario masa depan Aceh yang berbeda dari berbagai penelitian lain yang pernah diciptakan. Urgensi untuk menciptakan sebuah draf skenario masa depan Aceh adalah untuk menciptakan sebuah perencanaan strategis dalam pembentukan Aceh yang akan datang.

Perencanaan strategis tersebut menjadi penting karena dapat menciptakan sebuah aksi pencegahan dalam pengambilan keputusan mana yang harus diambil dan mana yang harus dihindari untuk dapat mencapai masa depan Aceh yang lebih baik.  Hal ini tidak terlepas atas banyaknya keraguan yang muncul dari berbagai pihak tentang proses perubahan dan pembangunan berkelanjutan yang terjadi di Aceh.

Berangkat dari uraian di atas, Erna Ermawati dan Siti Aminah merasa penting untuk menciptakan prediksi atas skenario guna penggambaran atau pengonstruksian masa depan Aceh melalui konteks sosio-historis. Tujuannya, buku ini diharapkan menjadi sumbangsih bagi berbagai kalangan agar dapat memahami bagaimana arah masa depan Aceh, serta membantu Aceh itu sendiri untuk menentukan langkah tepat agar masa depan cerah dapat digenggam.

Adapun definisi mengenai apa itu scenario building berdasarkan apa yang dikemukakan Poter Michael, bahwa scenario building menjadi pandangan masa depan sebagaimana mestinya. Pandangan ini bukanlah sebuah ramalan belaka melainkan kemungkinan yang masih daat diraih. Rigland menjelaskan bahwa scenario building menjadi perencanaan strategis dan upaya pembangunan dan sebagai alat untuk dan teknologi dalam mengatur ketidakpastian (masa depan) yang akan datang.

Selain sebagaimana yang dikemukakan beberapa tokoh tersebut, scenario building juga menjadi bingkai pemikiran yang digunakan sebagai dasar analisa dan juga identifikasi terhadap fakta historis Aceh dan dikaitkan dengan apa yang akan datang berikutnya. Adapun pendekatan–pendekatan dalam scenario building antara lain pendekatan expert scenario, pendekatan morfologis dan pendekatan dampak/pengaruh yang bersilangan (cross impact approach).

Untuk menjadi sebuah gambaran dalam konteks scenario building setidaknya membutuhkan adanya variabel utama atau pun variabel pendukung sebagai faktor pendorong yang diharapakan menghasilkan gambaran (picture of map) Aceh di masa yang akan datang.

Dalam mengetahui hal itu, metode–metode yang digunakan sebagai alat penelitian ialah metode kualitatif dan kuantitatif. Bagaimana kualitatif menafsirkan permasalahan melalui identifikasi dan kuantitatiif menafsirkannya melalui angka–angka yang akurat.

Berkaitan dengan metode penelitian yang dilakukan dalam buku ini, yakni mengadopsi metode dan pendekatan dari Peter Schwartz yang menawarkan langkah pertama dalam metodenya yakni interviewing dengan memotret kondisi lingkungan makro dan mikro perihal hal politik, dan sosial-budaya.

Schwartz menanyakan beberapa hal tentang persoalan dikemudian hari, peluang yang tidak mampu diraih, atau peluang yang memungkinkan untuk diraih, hingga mempelajari kesuksesan dan kesalahan masa lalu sebagai pembelajaran di masa yang akan datang. Langkah kedua yang dikemukakan oleh Peter Schwartz ialah identifikasi (identification).

Dengan mengidentifikasi persoalan–persoalan yang terjadi, Schwartz mencoba untuk memotret gambaran dan mencoba memahami persoalan tersebut dari berbagai perspektif. Disamping semua hal tersebut, ada perdebatan tentang metodologi yang dirasa terlalu fokus terhadap sati sisi saja dan sisi itu ialah politik. Metode ini terkadang hanya memperhatikan faktor politis yang terjadi dan sedikit menghiraukan faktor lain.

Mengingat identifikasi akan permasalah tersebut, buku ini juga memberi kesempatan para pembaca dengan menyajikan timeline atau runtutan sejarah yang terjadi di Aceh sebagaimana yang telah disebutkan diawal tulisan ini. Peter Schwartz menggunakan alur sejarah sebagai alat untuk menganalisa dan dengan begitu buah dari analisa tersebut akan menjadikan suatu gambaran dan menjadi landasan berpikir untuk membentuk konsep kemajuan bagi Aceh dimasa yang akan datang.

 

Draf Skenario Masa Depan Aceh

Dengan berbagai hal tersebut, akhirnya melalui proses penelitian panjang yang bekerjasama dengan berbagai pihak ahli, para penulis berhasil menciptakan draf skenario masa depan Aceh yang ditawarkan dalam 4 bentuk skenario, yakni: (1) New Aceh; (2) Old Aceh 1; (3) Old Aceh 2; dan(4) Aceh in Chaos.

Pembentukan framework skenario tersebut berasal dari penjabaran penulis bersama para ahli (Aceh civil society, aktivis dan akademisi) melalui kerangka berfikir yang berdasar pada kondisi serta situasi tentang ‘Aceh lampau’, dan ‘Aceh sekarang’ sebagai basis formulasi skenario masa depan Aceh.

Berikut ini empat penjelasan skenario tentang Aceh ke depannya:

New Aceh

Dalam skenario pertama ini, penulis menggambarkan bahwa proses-proses sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang tergabung dalam kerangka proses reformasi disertai proses demokratisasi di Aceh berjalan secara mulus dan memberikan dampak esensial terhadap kehidupan masyarakat, yakni ditandai dengan hadirnya keadilan dan kesejahteraan sosial.

Setiap elemen masyarakat mendukung adanya proses reformasi yang terjadi di Aceh karena masyarakat merasakan perubahan yang jelas dan nyata dalam kehidupan mereka, khususnya dalam kehidupan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai salah satu contoh adalah regulasi pemerintah tentang bagi hasil kekayaan alam yang ada di Aceh.

Kesuksesan kebijakan pemerintah tersebut memberikan masyarakat Aceh dampak positif secara nyata dalam kehidupan perekonomian mereka. Lalu di bidang politik, elite baru yang memimpin Aceh memiliki kamampuan profesional dengan semangat perubahan menuju Aceh yang baru.

Sementara stabilitas dan keamanan Aceh terpantau cukup stabil karena kelompok konservatif mulai mundur, penggunaan senjata juga mulai menurun, dan konflik-konflik bernuansa kekerasan mulai jarang tampak. Itu semua tidak terlepas dari kesuksesan reformasi yang terjadi di Aceh dan sebagai dampaknya adalah masyarakat Aceh yang mulai merasakan perubahan positif yang signifikan dalam kehidupan mereka.

Kehidupan masyarakat Aceh yang demikian sejahtera juga tak terlepas dari adanya upaya saling memahami, dan saling mendukung agenda reformasi yang sedang berlangsung di Aceh antara pihak pemerintah dengan elite politik lokal lainnya di Aceh yang berhasil menciptakan berbagai kebijakan pro-rakyat dan mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sebagai dampak adanya kestabilan dalam bidang sosial, politik, keamanan, dan budaya, maka rakyat Aceh mulai merasakan adanya keadilan, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan mereka. Secara keseluruhan, kehidupan masyarakat Aceh digambarkan terus membaik secara signifikan.

Lalu pada bagian akhir, yakni gambaran apa yang akan terjadi dalam local elections 2017 adalah sebuah Aceh baru yang berada di tangan generasi pemimpin baru dengan visi dan misi agar Aceh dapat berpengaruh secara nyata, baik dalam level nasional maupun regional.

Old Aceh 1

Dalam skenario yang dibagun penulis kali ini, keadaan Aceh jauh berbeda dengan apa yang telah dijabarkan dalam pembangunan skenario New Aceh. Secara garis besar, Old Aceh 1 digambarkan dalam situasi dimana Aceh dipimpin dan dikuasi oleh para elite represif yang berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat Aceh.

Hal ini juga diperburuk oleh elite yang berkuasa dan bermain peran dalam DPRA tidak dapat menelurkan kebijakan yang notabennya dapat menyejahterakan rakyat. Hal tersebut terjadi karena adanya berbagai gesekan politik antara para elite yang saling berebut kekuasaan.

Secara lebih jauh, kondisi keamanan Aceh dalam skenario ini tidak cukup baik, hal tersebut ditandai dengan maraknya abduction, dan pencurian bersenjata. Aparat kepolisian gagal untuk menjaga keamanan masyarakat sipil karena mereka gagal untuk mengontrol sirkulasi persenjataan illegal di kalangan masyarakat.

Selain persasaan mencekam yang menimpa masyarakat, berbagai kebijakan yang berusaha untuk menyelesaikan kasus kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang lalu juga tidak dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut karena kurangnya dukungan politik dari berbagai elite, dan gagalnya Badan Reintegrasi Aceh untuk melakukan reintegrasi.

Nampaknya, gambaran skenario yang dibangun dalam Old Aceh 1 condong ke arah kesejahteraan masyarakat yang tidak dapat dicapai. Hal ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang gagal untuk menciptakan kesejahteraan, dan situasi kemanan yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya, belum lagi masalah elite kuasa yang duduk di bangku pemerintahan tidak menghasilkankebijakan pro rakyat.

Lalu dibagian akhir skenario, digambarkan bahwa dalam local elections 2017, gubernur baru yang terpilih memiliki visi untuk membangun perekonomian masyarakat. Namun keadaan menjadi tidak baik ketika gubernur baru ini ternyata tidak dapat bekerjasama dengan DPRA, yang terlalu sibuk dengan agendanya sendiri.

Oleh karenanya upaya penciptaan kedamaian dan pembangunan ekonomi di Aceh hanya berjalan ditempat, dan kelompok konservatif memanfaatkan keadaan tersebut untuk menguatkan posisinya.

Old Aceh 2

Skenario selanjutnya adalah Old Aceh 2, dimana keadaan Aceh digambarkan dalam keadaan yang lebih buruk daripada skenario yang sebelumnya. Secara garis besar, dalam skenario ini situasi dan kondisi yang terjadi di dalam arena politik memiliki intensitas gesekan politik tidak terlalu kuat seperti skenario sebelumnya. Tetapi, elite-elite kekuasaan dalam arena politik mulai memiliki keinginan untuk memperkaya diri sendiri, dimana hal ini berdampak pada kebijakan yang ada tidak pro rakyat, dan rakyat biasa hanyalah korban atas apa yang terjadi di arena suprastruktur pemerintah lokal.

Terlepas dari persoalan diatas, kita dapat melihat bahwa situasi dan kondisi keamanan Aceh dalam skenario kali ini cenderung lebih aman daripada yang skenario yang sebelumnya, karena keprofesionalan polisi berhasil mengontrol keamanan dan ketertiban. Hal tersebut juga didukung semangat rakyat untuk menciptakan kestabilan dan kedamaian.

Namun kondisi perekonomian masyarakat Aceh tidak digambarkan baik selayaknya situasi kemanannya. Kondisi perekonomian masyarakat Aceh dalam skenario kali ini tidak terlalu berbeda dengan skenario sebelumnya, dimana pasar yang berjalan belum sempurna karena walaupun produk-produk dihasilkan, orang-orang masih belum mempunyai daya beli yang kuat. Di sisi lain, masih marak ditemukan pengangguran, kemiskinan, dan anak-anak yang berhenti dari sekolah.

Situasi politik sebagai salah satu faktor penentu arah terbentuknya Aceh masa depan, dalam skenario kali ini digambarkan dengan para elite yang pemikirannya sangat kapitalistik dan tidak mementingkan rakyat. Oleh karenanya, berbagai kebijakan yang dihasilkan, tidak membawa perubahan yang nyata bagi rakyat Aceh, dan elite menggunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk tujuan politik mereka sendiri.

Dengan berbagai keadaan demikian, maka kondisi Aceh tahun 2017 digambarkan dengan terpilihnya seorang pemimpin yang dikawal oleh kekuatan militer dan investor, yang tidak mementingkan kesejahteraan rakyat Aceh, dimana nantinya arah kebijakan yang ditelurkantidak pro ekonomi rakyat dan pro kedamaian.

Aceh in Chaos

Skenario yang terakhir adalah pengkonstruksian dan pembangunan skenario dengan kemungkinan paling buruk diantara semua skenario yang ada, dimana hal ini digambarkan melalui keadaan kacau di scoop politik dan keamanan yang ada di Aceh. Dalam skenario ini, keadaan di Aceh sangat jauh dari kata damai dan aman, kekacauan hampir terjadi di setiap lini masyarakat. Berbagai kekacauan tersebut terjadi karena adanya kekacauan di arena politik yang mendahului, dan mengakibatkan adanya efek domino.

Arena politik sebagai titik sentral penentu masa depan Aceh, digambarkan sebagai arena yang sudah tak terkontrol dan didominasi oleh partai politik lokal yang ternyata hanyalah replika dari kekuatan partai politik lama atau hanya sekadar ciptaan elite politik lama. Tujuan alite-elite tersebut hanyalah untuk mencari kepentingan politik dan ekonomi melalui penguasaan atas Aceh, yang dengan hal tersebut berarti partai lokal gagal untuk menjalankan fungsi pemegang estafet upaya reformasi dan pembangunan di Aceh.

Sebagai akibat dari kekacauan yang terjadi di level suprastruktur, lagi-lagi korban yang mendapat efek buruk adalah rakyat biasa. Berbagai kebijakan tidak pro-rakyat, dan kewenangan pejabat publik diselewengkan sehingga berdampak secara struktural terhadap rakyat. Kemiskinan dan pengangguran yang ada di masyarakat memotivasi berbagai tindak kriminal dan kejahatan serta konflik antar kelompok.

Sementara di sisi lain, media massa juga memanfaatkan momen tersebut untuk meraup keuntungan atas pemberitaan penderitaan yang dialami masyarakat. Pun di sisi lain, pemerintah tidak memberi perhatian lebih atas penderitaan masyarakat, justru membuat keadaan makin runyam dengan memasukkan kekuatan militer dalam upaya penstabilan masyarakat, dan mendukung berbagai kebijakan yang pro kapitalis dan pro investor asing untuk terus memeras kekayaan alam Aceh.

Lalu pada pada bagian akhir sub-bab pembangunan skenario Aceh in Chaos, digambarkan bahwa pada tahun 2017, gubernur dengan latar belakang militer akan ditunjuk oleh Presiden untuk memimpin Aceh. Dengan ditunjuknya gubernur berlatarbelakang militer tersebut, maka invasi kekuatan militer di tanah Aceh dalam upaya untuk menciptakan kestabilan akan semakin mudah.

Dan di sisi lain, gubernur baru tersebut juga dapat memonopoli roda perekonomian yang ada di Aceh. Sehingga melalui berbagai kejadian diatas, Aceh berada pada masa perang lagi. Ternyata kondisi yang terjadi di Aceh tersebut juga dapat berdampak pada kawasan regional, dimana massa yang kecewa mulai tersebar menuju negara-negara tetangga, baik Malaysia maupun Thailand.

 

Pandangan Para Ahli          

Dalam buku Shaping the Future of Aceh, dijelaskan bahwa pembangunan skenario yang ada adalah hasil proses panjang perdebatan ahli berdasarkan kondisi Aceh yang ada pada saat penelitian, dan kondisi historis Aceh itu sendiri. Namun pembangunan skenario itu dianggap gagal untuk menjelaskan lebih dalam mengenai data dan informasi tentang aspek ekonomi, sosial, dan budaya, sebagai konsekuensi logis dipilihnya ‘politik’ sebagai titik sentral asumsi dasar yang digunakan dalam pembangunan skenario (halaman 60).

Secara lebih jauh, perdebatan para ahli tersebut menghasilkan beberapa poin inti: Pertama, pembangunan perdamaian di Aceh adalah sebagai akibat dari produk politik, yang nantinya akan menentukan masa depan Aceh. Kedua, hal penting dan esensial dalam pembangunan Aceh adalah partisipasi politik, konsolidasi para elite, dan format institusi yang demokratis.

Ketiga, upaya dalam pelaksanaan dan pembangunan delapan faktor penggerak sangat berpengaruh pada arah yang akan ditempuh Aceh di masa depan, serta tidak lupa dua faktor dominan yang ikut berperan di dalamanya, masing-masing adalah momentum pemilu 2009 dan pemilihan kepala daerah.

Keempat, Perlu adanya upaya untuk memformulasikan lagi apa saja faktor lain yang berpotensi mempengaruhi arah masa depan Aceh (Halaman 61).

Terlepas dari berbagai hal diatas, walaupun masih tersisa banyak lagi hal yang dapat berpotensi menjadi faktor pengaruh terhadap skenario Aceh kedepannya, tetapi yang paling penting untuk dilakukan adalah untuk menciptakan kohesi sosial antara elite baru pro reformasi Aceh, dalam konteks ini adalah partai politik lokal, dan para pemimpin partai politik nasional.

Dimana dengan kesatupaduan pemikiran antara elite-elite tersebut dapat secara otomatis menciptakan sebuah kestabilan dan keharmonisasian politik yang nantinya dapat berdampak positif secara struktural dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah bagaimana menciptakan upaya agar para elite dan masyarakat dapat saling kerjasama untuk menciptakan Aceh baru yang damai dan sejahtera.

 

Socialisation of Aceh Scenarios Paper

Dalam sub-bab terakhir ini ada sebuah pertanyaan menarik yang terus mengiringi diskusi pada bab ini. Siapakah yang akan merealisasikan hal ini (the scenario)? Seperti halnya yang pernah diulas pada paragraf–paragraf sebelumnya bahwa the scenario building ini diharapkan mampu menjadi suatu hal yang nyata, berupa draft hingga direalisasikan menjadi kebijakan nasional atau kebijakan regional.

Gambaran akan pembangunan aceh di masa yang akan datang bergantung pada who’s the actors. Mereka ini adalah aktor–aktor yang memang mengharapkan terealisasinya kemajuan di Aceh. Berkaitan dengan hal ini, kembali lagi Schwartz menawaran tahapan–tahapan dari skenario tersebut berupa perumusan–perumusan formatnya dan lain sebagainya sehingga skenario ini dapat diterima dan dipahami.

Hal menarik yang menjadi perhatian pada akhir bab ini adalah konsep dari skenario itu sendiri akan menjadi sulit dalam hal mengkoordinasikan dan mengimplementasikannya. Sebenarnya metode mengkomunikasikan dan mengimplementasikan konsep ini terletak pada siapakah yang akan melaksanakan skenario ini (siapa yang ingin menggunakannya/ who’s going to use the scenario) dan apa yang menjadi maksud & tujuannya (dalam menggunakan skenario tersebut).

Jika diklasifikasi berdasarkan yang dikemukakan oleh Heijden terdapat 5 tujuan dalam menggunakan konsep (scenario) ini. Semisal dalam melakukan penaksiran akan resiko.

Selanjutnya strategi evaluasi, strategi pembangunan namun tanpa ada pertimbangan khusus, dan terakhir meningkatkan kemampuan dalam menafsirkan ketidakpastian, meminimalisir ras pesimis terhadap masa yang akan datang dan juga sebagai instrumen dalam mengindentifikasi kemampuan pembangunan yang membutuhkan kelompok– kelompok strategis (Heijden dalam Ringland, 2004: 111-112 dalam Ermawati & Aminah, 2010).

Dalam konteks ini (Aceh scenarios buiding) tim peneliti dan penulis mengidentifikasi apa yang menjadi dasar dalam penggunaan skenario ini sebagaimana mengadopsi klasifikasi Heijden diatas.

Pertanyaan selanjutnya ialah apakah skenario ini akan digunakan sebagai perhitungan terhadap resiko–resiko atau  hanya akan digunakan sebagai pengevaluasi strategi pembangunan Aceh dimasa lalu dan menjadikan hal itu sebagai dasar sebagai strategi pembangunan dimasa yang akan datang. Orientasi ini menjadi suatu pembahasan yang tak ternilai dalam buku ini sebagimana yang penulis uraikan dalam buku ini khususya diakhir bab empat ini.

Dari pembahasan tersebut membuka wacana bagi penulis dan juga pembaca dalam hal analisa, identifikasi arah dan tujuan strategis sampai dari semua identifikasi, dan analisa tersebut kemudian dikemas dan di satukan menjadi draft yang dapat digunakan utuk membuat kebijakan baru yakni kebijakan di Aceh dalam level nasional maupun kebijakan dalam level daerah/Aceh itu sendiri, mengingat judul utama dalam buku ini ialah Shaping the Future of Aceh.

 

Penutup

Dalam percobaan pembangunan skenario masa depan Aceh ini, disadari bahwa evaluasi atas hasil penelitian yang ada serta memperbaharui data yang ada sangat penting dilakukan agar gambar masa depan Aceh dapat lebih jelas dilihat. Oleh karenanya, penulis juga merekomendasikan pada pihak-pihak lain yang ingin turut serta andil dalam upaya pembangunan skenario masa depan Aceh untuk mempertimbangkan beberapa hal.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan cukup penting adalah mengenai data, studi, dan informasi lanjutan yang mendukung analisis pembangunan skenario Aceh, agar dapat terus diperdalam dan diperbanyak untuk menciptakan keakuratan data yang dapat menuntun pada pola-pola skenario yang lebih jelas dan tegas. Apalagi mengingat buku ini ditulis pada tahun 2009. Telah banyak perubahan yang terjadi di Aceh.

 

Penulis: Redaksi Pojok Wacana

 

Baca review buku menarik lainnya:

Hubungan Kesalehan dan Pilihan Politik di Indonesia

Bagaimana Demokrasi Mati? Suatu Lonceng Peringatan!

Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, dan Ancaman bagi Demokrasi