Empat Mazhab Filsafat di Era Hellenisme

Hellenisme

Apa itu Hellenisme?

Cara paling mudah memahami apa itu Hellenisme adalah mengikuti pembagian sejarah di Yunani antik.

Periode sejarah dalam kawasan kebudayaan Yunani zaman antik terbagi menjadi tiga. Pertama, periode negara-kota yang merdeka. Periode ini diakhiri kisahnya oleh Raja Philip dan putranya Aleksander III dari Makedonia.

Periode kedua adalah kekuasaan Yunani dibawah Makedonia yang diakhiri riwayatnya oleh imperium Romawi, khususnya setelah Cleopatra (Mesir) berhasil ditundukkan.

Periode ketiga adalah era kekuasaan Imperium Romawi.

Hellenisme merujuk periode kedua dalam sejarah Yunani Klasik yang dikenal sebagai era kebudayaan Hellenistik.

Dikisahkan, kekuasaan Aleksander (Aleksander Agung atau Firaun Mesir) yang berlangsung singkat mampu mengubah halauan sejarah Barat. Hanya dalam waktu seputuh tahun (334-324 SM), ia berhasil menaklukan Asia Kecil, Siria, Mesir, Babilonia, Persia, Samarkand, Bactria, dan Punjab.

Hellenisme
(Kampanien 2013. Sumber Gambar: Wikipedia)

Imperium Persia yang telah memperoleh kekuasaan mapan dalam sejarah manusia berhasil diremukkan oleh ekspansi Aleksander melalui tiga gelombang pertempuran.

Mungkin muncul satu pertanyaan, mengapa ketika era Aleksander baru dapat membuktikan bahwa Yunani bisa begitu perkasa di dunia, bukan di periode-periode sebelumnya?

Salah satu jawaban yang bisa diajukan adalah karena negara-negara Yunani senantiasa diwarnai perang antar-negara kota yang menyulitkan terciptanya persatuan atas nama bangsa Yunani. Di tangan Aleksander kemudian hal tersebut dapat terwujud.

Kembali pada Hellenisme. Peradaban ini bermula dari integrasi wilayah kekuasaan Yunani dibawah Raja Aleksander dari Makedonia.

Konsekuensi dari meluasnya wilayah kekuasaan Aleksander adalah adanya pertukaran kebudayaan dari Yunani dan pelbagai negara lain. Akulturasi kebudayaan ini secara kaprah adalah sebuah deskripsi secara garis besar mengenai dunia hellenistik.

Di era Hellenistik ini, berbagai bidang ilmu pengetahuan tumbuh semakin pesat dan merupakan periode terbaik yang dicapai Yunani. Apalagi pencapaian kebudayaan yang terwujud di Kota Alexandria (Mesir), dimana para cendekiawan di abad ke-3 tersebut lebih memilih spesifikasi keilmuan daripada berbicara hal-hal secara universal layaknya para filsuf pendahulu.

Seperti halnya Euklides, Aristarchus, Archimedes, dan Apollonius yang membatasi bidangnya dalam studi matematika saja.

Sedangkan dalam bidang filsafat, mereka tidak menyumbangkan gagasan baru. Bisa dibilang era Hellenisme mengalami kemunduran dalam bidang filsafat dibanding perkembangan-perkembangan yang hampir menuju matang, seperti kita saksikan dimana Aristoteles adalah figur filsuf akhir terbesar di era Yunani Klasik.

Terlepas dari pernyataan di atas, filsafat sebagai cara pandang manusia terhadap dunia dan dirinya sendiri tetap menjadi sebuah kebutuhan. Meski tidak memberikan sumbangan signifikan  sebagaimana kata Bertrand Russell dalam”Sejarah Filsafat Barat, toh mazhab-mazhab filsafat tumbuh seiring dengan kebutuhan manusia di zamannya.

Di era Hellenisme paling tidak tercatat ada empat mazhab besar filsafat: aliran Skepstisme, Sinisme, Epikureanisme, dan Stoa (Stoisisme).

Garis besar dari uraian mereka adalah pengalihan bidang kajian yang sebelumnya berbicara tentang politik, astronomi, hingga sains dan matematika, menyempit hanya berbicara aspek individu seseorang, utamanya bagaimana manusia bisa terlepas dari penderitaan hidup (kecuali mazhab skeptisisme).

Selepas Abad ke-3 SM, tidak ada mazhab filsafat atau filsuf yang begitu menonjol hingga akhirnya muncul neoplatonisme. Di sisi lain, kejayaan Romawi setelahnya mengesankan sebuah persiapan bagi lahirnya dominasi Kristen di Abad Pertengahan dengan mengambil inspirasi dari gagasan neoplatonis.

Untuk pembahasan neoplatonisme akan kita uraikan pada tulisan-tulisan berikutnya. Sementara kita akan berkenalan secara singkat dengan empat mazhab era Hellenisme.

  1. Mazhab Sinisme

Mazhab ini didirikan oleh Diogenes yang sumber ajarannya berdasarkan dari Anthitenes, murid Socrates yang berusia lebih tua daripada Plato. Ia berpandangan bahwa segala ulasan filsafat yang begitu muluk-muluk sebenarnya tidak berguna, dan harusnya filsafat mampu dipahami oleh orang awam sekalipun. Ia mengajarkan untuk menganggap nista segala kemewahan yang bersifat semu belaka.

Ajaran Sinisme mendapatkan pengaruh lebih besar ketika dipegang sang murid Anthitenes bernama Diogenes.

Sinis di sini tidak sebagaimana kita pahami dati terminologi modern. Sinis merujuk ada “cynic” yang berarti anjing. Hal ini diperoleh oleh cara hidup Diogenes yang hidup mengemis seperti anjing; gelandangan.

Ia memiliki pandangan yang sama dengan gurunya, Anthitenes, bahwa barang duniawi tidak ada gunanya. Pokok ajaran filsafatnya adalah memperoleh keutamaan sebagai lawan balik dari ilusi duniawi yang dianggap hina.

  1. Mazhab Skeptisme

Ajaran ini dikemukakan oleh Pyrrho, mantan pasukan Aleksander yang pernah bertugas hingga ke India. Skepstisisme dalam ajaran Pyrrho bukan keragu-raguan semata, namun lebih pada keragu-raguan yang bersifat dogmatis.

Sebagai perbandingan untuk memperjelas:

Kalum ilmuwan akan mengatakan: “saya kira masalahnya di sini, tapi saya masih merasa kurang yakin.

Seorang intelektual yang semangat mencari pengetahuan mengatakan, “saya tidak tahu persis seperti apa masalahnya, namun saya akan berusaha keras memahaminya”.

Sedangkan kaum skeptis mengatakan, “tidak seorang pun yang mengetahui, dan tidak seorang pun pula yang bisa mengetahuinya”.

Timon, tokoh lain aliran skeptisime yang juga murid Pyrrho, mengecam cara pikir Yunani terutama silogisme Aristoteles yang menekankan metode deduksi berdasarkan premis mayor. Persoalannya adalah, sebuah premis awalan itu didapat darimana kalau bukan dari yang sebelum-sebelumnya. Sehingga premis mayor tidak bisa begitu saja dianggap sebagai kebenaran dengan sendirinya (self evident).

  1. Epikureanisme

Epikureanisme adalah aliran filsafat yang diambil dari pendirinya bernama Epicurus. Ia adalah tokoh pertama dalam filsafat, bukan kaum Stoa, yang mengatakan bahwa kita bisa bahagia meski di dalam penderitaan.

Epicurus menekankan bagaimana mencapai ketenangan batin. Ia berpandangan bahwa kenikmatan adalah baik. “Kenikmatan adalah awal dan akhir dari hidup yang penuh berkah”.

Diogenes Laertius, pengikut Epikureanisme, memperinci bahwa “permulaan dan akar semua adalah kenikmatan perut; bahkan kebijaksanaan dan kebudayaan pun harus dikembalikan pada hal ini”.

Pada gilirannya ajaran Epicurus terkenal sebagai filsafat hedonisme.

  1. Filsafat Stoa (Stoisisme)

Nama stoa merujuk pada lokasi perbincangan filsafatnya yang ada di pelataran depan rumah yang diliputi tiang-tiang penyangga. Mungkin kalau zaman sekarang layaknya teras, sehingga ada yang menyebut filsafat stoa adalah filsafat teras.

Ajaran stoa memiliki sejarah panjang dan banyak mengalami perubahan. Meski demikian, jika merujuk nama perintisnya adalah Zeno.

Socrates adalah nabi utama yang mengilhami mazhab filsafat ini. Utamanya bagaimana kisah sosok filsuf besar tersebut menghadapi kematian, dan menolak untuk melarikan diri. Sikap tenang dirinya dan percaya bahwa perilaku ketidakadilan akan melukai diri mereka sendiri menjadi pijak besar ajaran stoisisme.

Doktrin besar mereka adalah determinasi kosmik dan kebebasan manusia. Segala peristiwa semesta pasti memiliki maksud bagi manusia. Kebaikan individu yang ia pilih dalam kebebasan diri akan selalu baik ketika selaras dengan alam.

Uraian lebih jauh dari masing-masing mazhab di era Hellenisme akan dibahas dalam tulisan-tulisan berikutnya. intinya dalam tulisan ini kita mengetahui dulu adanya empat mazhab di era Hellenisme.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Dunia Hellenistis” hal. 297-348.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Protagoras, Pemimpin Kaum Sofis

Leucippus dan Demokritos, Pelopor Filsafat Atomis

Kebangkitan Athena dan Filsafat Anaxagoras

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments