Dua Karakter Utama Filsafat Modern

Descartes Filsuf Utama Era Modern

Dua Karakter Utama Filsafat Modern

Pada bagian sebelumnya, kita telah mendiskusikan secara singkat tiga ciri yang mendasari era modern. Kini kita beralih pada pembahasan karakter dari pemikiran filsafat modern.

Sudah dijelaskan sebelumnya, subjektivitas, kritik, dan kemajuan adalah pertalian dari tiga ciri yang menjiwai watak zaman modern (Hardiman, 2019).

Kaitannya dengan diskusi filsafat, sepenuhnya kita menyadari bahwa sebuah pemikiran tidak terlepas dari konteks zaman yang sedang berlangsung. Para filsuf adalah anak dari sebuah zaman dan pada gilirannya turut mempengaruhi perkembangan zaman dengan pemikirannya.

Dari pertautan zaman modern pula, Bertrand Russell dalam “Sejarah Filsafat Barat” mengemukakan dua karakter mendasari filsafat modern: “runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains”.

Runtuhnya otoritas gereja (menguatnya kekuasaan negara) dan menguatnya otoritas sains adalah dua ciri menonjol dari perkembangan filsafat di era modern. Mau dengan bahasa apa pun, dua hal ini adalah yang paling kentara sebagai ciri filsafat modern.

Zaman modern mencirikan mulai keroposnya kekuasaan Gereja, dimana kebudayaan dan politik tidak lagi bernuansa gerejawi. Di saat yang bersamaan, negara-negara semakin memiliki legitimasi bersamaan dengan melorotnya dominasi Abad Pertengahan.

Sedari tergerusnya tertib sosial yang senantiasa didekte oleh Gereja, maka terdapat ruang-ruang yang cukup lebar untuk manusia mengapresiasi karakter individualnya dalam menggapai ilmu pengetahuan, di luar doktrin keagamaan.

Kedua proses tersebut bukan berarti terjadi bersamaan, namun saling mendorong bagi karakter lainnya. Penolakan terhadap otoritas gereja berlangsung terlebih dahulu daripada penerimaan terhadap otoritas sains.

Bahkan dalam sejarahnya, sebagaimana kita lihat di Italia, pendobrakan terhadap otoritas gereja lebih memainkan peran krusial daripada kontribusi pengembangan sains yang relatif kecil.

Masih menurut Russell, serbuah sains bermula dari publikasi Copernican di tahun 1543, tetapi tidak kunjung menyebar dan memiliki pengaruh signifikan hingga kemudian dikembangkan oleh Kepler dan Galileo pada abad ke-17. Bersamaan dengan itu pula, muncul pertikaian sengit antara agama dan sains, pertarungan yang masih berlangsung hingga hari ini.

Apa yang membedakan otoritas Gereja dengan otoritas sains?

Keduanya sangat berbeda. lanjut Russell, otoritas sains dibangun atas dasar intelektualitas, sedangkan otoritas Gereja lebih bersifat politis. Jika sebuah pengetahuan dipublikasikan secara luas, maka sains tidak memiliki wewenang hingga sampai memaksa orang lain mengikuti temuannya, dan juga orang yang tidak sependapat tidak harus dipenjara atau bahkan dibunuh karena dianggap bidah.

Otoritas sains lebih bertumpuh pada nilai intrinsik dari akal yang rasional. Proses dalam pembentukan otorisasi berbasis rasio pun berjalan berangsur-angsur, tidak sekali waktu langsung dianggap final. Artinya dalam proses pengembaraan sains, senantiasa ada penyempurnaan lebih lanjut dan terbuka peluang atas kesalahan karena temuan di masa yang akan datang.

Karakter lain yang mungkin pula patut disebut adalah sifat dari sains yang parsial, ia tidak meliputi keseluruhan bidang sekaligus hingga tataran moral. Hal ini sekaligus membedakan pula dengan dogma agama yang mengesankan bahwa ajarannya final dan menyeluruh bagi seluruh aspek kehidupan.

Dua otoritas ini agaknya perlu ditekankan karena dengan hal itu kita bisa memahami bagaimana sebuah basis pemikiran sains yang berbeda dengan Gereja mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan kemajuan, sebagaimana sudah kita ulas sebelumnya.

Pada gilirannya, perbedaan karakter mendasar dari otoritas sains dan agama berbuah upaya visi pembebasan ilmu pengetahuan dari keseluruhan ajaran agama.

Tentu kita masih ingat bahwa doktrin teologi Gereja juga memiliki landasan filsafat: Agustinus dengan Plato dan neoplatonisme (Plotinus) dan Aquinas dengan Aristotelesnya. Kandungan-kandungan yang ada di dalam pemikiran Gereja tentu tidak seluruhnya dibersikan hingga rujukan kerangka pemikiran filsafat yang mereka gunakan.

Penyempitan filsafat karena kebutuhan mendukung doktrin keagamaan perlu kembali untuk dijernihkan, sebelum kemudian mendapatkan pemaknaan ulang.

Gamblangnya, logika, sebagaimana ajaran Aristoteles, tentu tidak begitu saja ditinggalkan karena telah dipergunakan Gereja, namun prinsip-prinsip dasar dari silogisme dimanfaatkan dengan pembaruan-pembaruan yang lebih cemerlang.

Pembebasan diri dari doktrin Gereje membuat kecenderungan filsuf awal era modern seperti Descartes sangat menonjolkan aspek subjektivitas dan individualnya.

Permulaan dari filsuf modernitas juga menunjukkan kecenderungan yang sama untuk menekankan subjektivitas diri dan sifat individualismenya. Memang dalam beberapa filsuf tidak menonjol, seperti kita saksikan dalam Spinoza.

Kecenderungan filsuf lain yang berwawasan empiris dan obyektif seperti Jhon Locke mengalami persoalan yang sama ketika dihadapkan pada corak individualisme dan subjektivisme filsafat.

Locke sebagai tokoh besar empirisme akhirnya berkenan untuk mengakui perihal ilmu pengetahuan, meski tentang gagasannya tentang pengaruh lingkungan, pada akhirnya berakhir pada subjek individu yang setuju atau tidak terhadap pengetahuan tersebut.

Namun berangsur-angsur ketika filsafat empirisme ada di tangah Hume, kebenaran obyektif dan bukan dari segi subjektif mencapai puncaknya.

Apa yang barusan kita bicarakan berkisar pada pengembangan sebuah sains yang sepenuhnya teoritis. Sebuah kejujuran untuk menyebut perkembangan sains adalah dalam unsur praktis terapan.

Terlepas dari semua itu, sebuah kemajuan sains yang bermula dari zaman modern tidaklah terjadi ketika kesempatan untuk menjalankan beragama eksperiman dan metode berpikir bebas lainnya tidak terwadahi.

Keroposnya otoritas gereja adalah fase penting bagi perkembangan sains. Mundurnya otoritas gereja dan kemajuan bagi otoritas sains adalah karakter dasar dari apa yang kita sebut filsafat modern.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Filsafat Empirisme John Locke

Filsafat Politik John Locke Tentang Kontrak Sosial, HAM, dan Pembagian Kekuasaan

Empat Mazhab Filsafat di Era Hellenisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments