Dari Urusan Makan, Ucapan Lebaran, Hingga Pakaian, Momen Apa Lebaran Bagi Kita?

Suasana lebaran salah satunya terwarnai oleh pelbagai makanan khas tiap daerah di Indonesia. Sekadar menyebutkan beberapa. Di Jakarta, ada makanan olahan daging sapi dibumbui dengan tumis dan pelumur yang dinamai Semur Betawi. Di Banjar, ada makanan olahan ikan gabus asap dimasak dengan santan dan dihidangkan bareng lontong atau ketupat yang dinamai Panggang Haruan.

Di Madura, ada makanan olahan ikan tenggiri dimasak dengan santan, belimbing wuluh, dan cabai yang dinamai Kellapate. Di Medan, ada makanan olahan nangka muda dipadukan dengan daging iga dan rempah-rempah yang dinamai Gulai Nangka.

Salah satu hal yang sangat mewarnai suasana lebaran yakni ucapan Selamat Idul Fitri. Prolog-prolognya seperti ini yang saya kutip dari Purwaningsih (2012):

  1. Bila kata merangkai dusta

Bila langkah membekas laran

Bila hati penuh prasangka

Dan bila ada langkah yang menoreh luka

….

  1. Sepuluh jari tersusun rapi

Bunga melati pengharum hati

Pesan dikirim pengganti diri

….

  1. Andai jemari tak sempat berjabat

Andai raga tak dapat bertatap

Seiring beduk yang menggema

Seruan takbir yang berkumandang

….

  1. Kata telah terucap

Tangan telah bergerak

Prasangka telah terungkap

….

  1. Mawar berseri di pagi hari

Pancaran putihnya menyapa nurani

Pesan dikirim pengganti diri

….

  1. Sebelum ramadhan pergi

Sebelum idul fitri datang

Sebelum operator sibuk

Sebelum pesan pending mulu

Sebelum pulsa habis

….

  1. Senandung asma Allah menghiasi malam

Menghampiri fajar menyambut hari kemenangan

Jabat tangan penuh kasih, eratkan tali silaturrahmi

Jiwa yang suci dari Sang Maha Suci, tapi sering kali

Ternoda oleh dosa pada insani

….

  1. Waktu mengalir bagaikan air

Ramadhan suci akan berakhir

Tuk salah yang pernah ada

Tuk khilaf yang pernah terucap

….

  1. Beningkan hati dengan dzikir

Cerahkan jiwa dengan cinta

Lalui hari dengan senyum

Tetapkan langkah dengan syukur

Kemudian diakhiri ucapan permohonan maaf lahir dan batin serta selamat Idul Fitri. Dari paragraph-paragraf sebagaimana ucapan diatas, adakah yang sering kamu dapati? Bagaimana kesanmu saat mendapat ucapan selamat Idul Fitri dari keluarga, kerabat, kawan, tetangga, atau lainnya? Lalu, apa ya makna dalam ucapan selamat Idul Fitri itu?

Pateda (2001: 78) membedakan kedudukan informasi, maksud, dan makna. Menurutnya, makna adalah gejala dalam ujaran. Sedangkan, maksud adalah gejala luar ujaran yang dilihat dari segi pengujar atau orang yang berbicara atau pihak subjeknya. Dan informasi adalah gejala luar ujaran yang dilihat dari segi objeknya.

Makna diklasifikasiksn menjadi tiga, yakni denotatif, konotatif, dan afektif. Afektif berhubungan dengan perasaan yang timbul pada mitra tutur atau penerima, contohnya senang, terharu, dan lainnya. Beranjak ke permukaan, bentuk ucapan selamat ini terbagi menjadi dua tipe, yakni formal dan non-formal.

Nonformal contohnya pantun sederhana, kisah pendek humor, dan seterusnya. Dalam analisis kebahasaan, ragam ucapan selamat ini terbentuk oleh faktor sosial, ras, tingkat pendidikan, usia, atau lainnya. Selain itu, faktor kepraktisan yang jadi penentu penutur memilih ucapan selamat tersebut (Jayanti, 2016), misal karena tinggal copy paste atau lainnya. Tetapi, bukan hal ini yang jadi focus utama tulisan ini.

Salah satu hal yang juga nampak dalam suasana lebaran adalah kebiasaan mengenakan baju baru. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam karyanya “Sejarah Nasional Indonesia” menjelaskan, bahwa dulu mayoritas penduduk dibawah Kerajaan Banten juga sibuk menyiapkan baju baru saat menyambut lebaran. Bagi para penjual, hal ini menjadi wujud keberkahan pada masa menjelang dan saat lebaran.

Stefanus Ridwan dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat rata-rata tiap tahunnya, omzet produsen pakaian meningkat dua sampai lima kali lipat saat ramadhan hingga Idul Fitri.

Biasanya, faktor psikologis konsumen yang memengaruhi kuantitas produk terjual, sebagaimana hasil analisis Kotler dan Amstrong (2009) dan Armawati et al. (2014). Faktor psikologis itu dicerminkan lewat persepsi kualitas merek, menurut Durianto (2004) dan Widjaja (2003). Tetapi, kita tidak bermaksud untuk berhenti di bahasan ini. Mari beranjak ke persoalan agak dalam. Mudah-mudahan masih bisa dinikmati walaupun mungkin disertai kernyitan dahi.

Makanan khas, ucapan selamat secara langsung atau virtual, dan baju baru tentu tidak semuanya bisa memperoleh itu, misal karena faktor ekonomi, kesehatan, dan lainnya. Kita ingat, bahwa Idul Fitri harus berdampak terhadap menangnya aspek lahir dan batin muslim.

Dalam Maqashid al-Syari’ah, hakikat kemenangan kaum muslim itu ditandai dengan hifzh ad-din, hifzh an-nafs, hifzh an-nasl, hifzh al-Mal, dan hifzh al-‘Aql. Bila menimbang situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, lantas hal apa yang tidak boleh lagi dipinggirkan dalam kehidupan kaum muslim?

Menilik aspek hifzh al-Mal, Wahbah Zuhayli dalam tafsirnya “al-Munir” menyampaikan, bahwa aspek ini berkaitan dengan keharusan untuk tidak menghambur-hamburkan harta atau berlebihan dalam mengelola harta kekayaan, melainkan menjalankan laku hidup sederhana. Dalam segala aspek, Wahbah Zuhayli juga mengingatkan lewat risalahnya yang lain terhadap pentingnya solidaritas kaum muslim yang dicirikan dengan keadaan ta’awun dalam al-birr.

Sehingga saat kaum muslim berada dalam masa krisis, maka paham terhadap hal apa yang harus difikirkan, dieksekusi, dan diharapkan bersama.

Memperhatikan nasib sesama kaum muslim justru jalan kebahagiaan. Energi yang kita curahkan dalam bahu-membahu meningkatkan kualitas hidup kaum muslim itu bukti cinta terhadap saudara seiman. L. Hendranata dalam “Kebahagiaan itu Dibuat, Bukan Dicari” menyatakan, bahwa kebahagiaan identik dengan keberadaan cinta. Erbe Sentanu dalam “Kwantum Ichlas”, menyampaikan bahwa cinta yang berasal dari sanubari akan menangkap kebahagiaan-kebahagiaan.

Coba kita ingat kembali, hal apa yang membahagiakan Rasulullah Saw? Apakah saat kaumnya sedang mengalami kesusahan? Atau apakah dengan memperjuangkan nasib kaumnya, Rasulullah Saw. justru tidak merasa bahagia? Pesan Syeikh Ali bin Hasan dalam “Ahkamul ‘Iedain”, bahwa kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru terdapat dalam kontinuitas pelbagai kebaikan.

Terakhir, patut kita renungi kembali, bahwa al-‘id sebagaimana penjelasan Dr. Ibrahim Anis dalam “al-Mu’jam al-Wasieth”, artinya apa yang kembali dari kesusahan atau penyakit atau kerinduan dan sebagainya. Al-‘id, setiap hari berkumpul dengan mengadakan peringatan terhadap sesuatu yang dianggap mulia atau sesuatu yang disayangi. Dan Islam, bagi Mohammad Abu Nimer, memiliki tiga makna, yakni kepatuhan diri, mendamaikan serta perdamaian dan kasih sayang (Muzammil, 2016)

 

Penulis: Taufik Hidayat, seorang mahasiswa sekaligus guru.

 

Baca juga:

Menggugat Paradigma Islam Universal, Refleksi Singkat “Islam Pasca-Kolonial” Ahmad Baso

Khotbah Idul Fitri 1441 H: Makna Idul Fitri dan Wabah Covid-19

Perubahan Tatanan Sosial Akibat Pandemi Virus Corona: Melihat dari Pengasinan Kecamatan Sawangan Kabupaten Depok Jawa Barat