Baruch de Spinoza: Filsafat Monisme Logis dalam Metafisika

Spinoza

Baruch de Spinoza: Filsafat Monisme Logis dalam Metafisika

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Baruch de Spinoza (1632-1677) adalah keturunan Yahudi yang bermigrasi ke Belanda dari Spanyol (atau mungkin dari Portugal). Spinoza adalah filsuf yang paling dihormati dalam sejarah. Hal ini lantaran bagaimana kisahnya mempertahankan kebebasan berpikirnya dengan menolak tawaran sejumlah uang dan kerap mengalami ancaman pembunuhan.

Ia mengalami pengucilan dari komunitasnya sendiri, Yahudi, dan bahkan pernah mengalami percobaan pembunuhan karena dianggap menistakan Yahwe. Ia terkenal sangat jijik terhadap kejahatan.

Pengaruh cara pikir geometris sangat menonjol dalam filsafat Spinoza. Menurut Hardiman (2019) hal ini lantaran Spinoza meyakini bahwa filsafat bisa diperlakukan sebagaimana ilmu pasti (eksak).

Tidak heran karya terbesarnya berjudul “Ethics” menyiratkan semangat demikian. Pembahasan dalam buku tersebut runtut; mulai dari definisi, aksioma, teorema, dan segala sesuatu yang lebih rendah dari aksioma perlu pendemonstrasian.

“Ethics” karya Spinoza membahas tiga hal pokok. Pembukaan buku berisikan ulasan metafisika. Berikutnya tentang psikologi manusia dan ditutup dengan pembahasan etika.

Metafisika Spinoza mengandung pengaruh dari Descartes, psikologinya mengingatkan kita pada Thomas Hobbes, dan etikanya yang merupakan perpaduan dari metafisika dan psikologi. Ajaran etikanya ini adalah benar-benar orisinil dari Spinoza.

Tulisan ini fokus pada tiga hal di atas yang kemudian meruncing pada ajaran etis yang berlandaskan konsep monisme logis dalam metafisika Spinoza. Materi pembahasan disarihkan dari penjelasan Bertrand Russell dalam buku “Sejarah Filsafat Barat”, khususnya Bab “Spinoza”.

Metafisika Spinoza  

Hubungan Spinoza dengan Rene Descartes dalam beberapa segi sangat mirip dengan Plotinus (neoplatonisme) dengan Plato, bagaimana sang filsuf merekonstruksi ulang filsafat sang idola.

Metafisika Spinoza termasuk jenis metafisika rintisan Parmenides, dimana ia beranggapan Tuhan atau Alam pada dasarnya adalah zat tunggal yang sejati dan tidak mengalami perubahan.

Dalam tulisan sebelumnya, kita telah menyinggung adanya tiga zat menurut Descartes, yakni Tuhan, pikiran, dan materi. Descartes mengajukan gagasan bahwa pikiran adalah substansi inti, namun selanjutnya ia segera menyadari bahwa Tuhan ada substansi inti yang menciptakan pikiran maupun materi, dan bisa juga melenyapkan keduanya.

Pikiran (jiwa menurut Descartes) dan materi masing-masing bersifat independen yang bisa kita pahami melalui urutan pemikiran tertentu dan pengembangan (eksistensi) dalam dirinya.

Spinoza tidak menyepakati bahwa pikiran dan materi (alam semesta inderawi) adalah dua unsur independen yang terpisah. Baginya, pikiran dan subtansi adalah tunggal yang merupakan manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Descartes menekankan jiwa individu dan materi adalah terpisah. Bagi Spinoza, keduanya bukanlah benda namun aspek-aspek dari Yang Maha Suci.

Kaitannya dengan konsep substansi metafisika, Spinoza merumuskan konsep “attribute” dan “modus” (Hardiman, 2019). Attribute adalah sesuatu yang tangkap atau pahami sebagai subtstansi, sedangkan modus adalah pengembangan atau hal-hal yang berubah-ubah dalam subtansi.

Tuhan adalah attribute adalah substansi utama yang tak terhingga. Pikiran dan materi merupakan dua hal tunggal yang menyatu dalam attribute Tuhan. Di dalam turunan pikiran, sebagaimana materi atau perluasan, memiliki modus-modus, misalnya imajinasi. Tapi pikiran itu sendiri adalah bagian dari subtansi tunggal, yaitu Tuhan.

Kesan inderawi dalam dunia materi adalah penampakkan yang ingin ditunjukkan Tuhan atau adalah salah satu wujud Tuhan itu sendiri. Begitu pula dengan pikiran adalah kehendak Tuhan ketika sedang memikirkan sesuatu.

Segala sesuatu diatur oleh ketentuan logis yang absolut. Tidak ada namanya eksistensi mental maupun dunia fisik yang memiliki kehendak bebas. “Segala yang terjadi adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang Gaib, dan logikanya, suatu peristiwa tidak mungkin menjadi penyebab bagi peristiwa lain” (Russell, 2021: 749).

Karena segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan, maka keseluruhan adalah bersifat baik.

Pemikiran tersebut memancing gugatan serius tentang kebaikan dan keburukan yang berarti merupakan seluruh rangkaian ciptaan Tuhan. Apakah ketika Adam memakan Apel (Khuldi) adalah kehendak Tuhan? Atau Nero yang membunuh Tuhan adalah wujud kebaikan Tuhan?

Spinoza menjawab: kebaikan dan keburukan adalah persepsi yang tertanam dalam diri makhluk, tapi tidak bagi Tuhan. Bagi-Nya, tidak ada negasi, dan keseluruhan adalah baik. Keseluruhan peristiwa yang kita anggap buruk dan merupakan dosa jika dilihat dari rangkaian dari keseluruhan pasti adalah kebaikan. Semuanya ada hikmahnya.

Seandaianya memungkinkan penglihatan manusia sebagaimana penglihatan Tuhan dalam menyaksikan dunia, sebagai bagian dari keseluruhan, dan sebagai kebutuhan demi kebaikan sepenuhnya. Jika manusia menganggap sesuatu adalah kejahatan, itu adalah jenis pengetahuan yang tidak lengkap.

 

Hasrat, Kebebasan, dan Etika

Pemikiran Spinoza tentang makna kebebasan dan hasrat memiliki beberapa keserupaan dengan psikologi manusia menurut Thomas Hobbes yang mengalami rekonstruksi ulang seturut dengan konsep metafisika yang sudah kita bahas.

Pertama-tama, manusia pada dasarnya bergantung pada upaya mempertahankan diri. Akibatnya lahir percecokan, pertikaian, dan juga cinta. Hakikat manusia adalah cenderung egoistik seperti kata Hobbes.

Memikirkan diri sendiri, khususnya upaya menyelamatkan diri sendiri, adalah dasar yang paling menentukan seluruh tindakan manusia.

Selanjutnya, dalam sebuah kesadaran atas keseluruhan, manusia harus menyadari bahwa sifat-sifat mementingkan diri sendiri adalah tidak bijak. Alasan yang mampu mengubah peranan manusia dari perceraian menuju persatuan ketika kita sepenuhnya sadar bahwa yang nyata dan positif dari diri kita adalah sejumlah rangkaian peristiwa yang mengarah pada kebaikan semata.

Karena Spinoza berpandangan deterministik bahwa seluruh peristiwa ditentukan oleh Allah, maka tidak ada yang namanya kebebasan bagi manusia. Kebebasan sepenuhnya hanya milik Tuhan.

Arti manusia tidak bebas adalah karena manusia ditentukan oleh nafsu atau emosi. Di dalam emosi mengandung hasrat, kenikmatan, dan rasa sakit. Hasrat merupakan kecenderungan emosi yang pasif, artinya bersikap pasif pada kekuatan-kekuatan dari luar. “Emosi yang berupa hasrat berhenti menjadi hasrat segera setelah kita mempunyai ide yang jelas dan nyata tentangnya”, katanya.

Russell menjelaskan:

“Setiap peningkatan pemahaman atas apa yang menimpa diri kita dicapai dengan cara mengaitkan peristiwa-peristiwa dengan kehendak Tuhan, karena segala sesuatu merupakan bagian dari Tuhan. Pemahaman atas segala sesuatu sebagai bagian dari Tuhan adalah cinta Tuhan. Ketika semua objek dihubungkan dengan Tuhan, kehendaknya akan memenuhi pikiran” (Russell, 2021: 755).

Kembali pada makna kebebasan, kebebasan bukan berarti terbebasnya manusia dari rangkaian belenggu hubungan sebab-akibat, melainkankan kesadaran penuh terhadap adanya jalinan hubungan sebab-akibat tersebut. Pemahaman total atas hal tersebut membuat kita bisa mencapai cinta Tuhan.

Jika kita memiliki kecintaan besar terhadap Tuhan beserta manifestasi dari seluruh tindakannya melalui perwujudan alam semesta dan pikiran, kita akan mampu menguasai emosi diri kita. Ini adalah kesatuan emosi dan pikiran sekaligus yang mengandung pikiran yang benar dan kesenangan terhadap kebenaran. Dengan ini kita bisa mendapatkan obat mujarab bagi ketengan diri dan emosi.

Monisme Logis

Metafisika Spinoza memberikan contoh yang sistematis dalam membangun kerangka pemikiran “monisme logis”, yakni doktrin bahwa keseluruhan adalah zat tunggal, tidak ada yang terpisah satu sama lain. Subjek dan predikat adalah tunggal pluralitas atau partikularitas adalah ilusi semata. Dengan gagasan metafisika seperti itu dan psikologi hasrat manusia, etika Spinoza dibangun.

Serentetan gagasan demikian yang melahirkan pernyataan populer seperti “alam semesta adalah Tuhan” atau “Tuhan adalah alam semesta”. Sebuah pandangan yang menjiwai filsafat panteisme, alam semesta (termasuk manusia) adalah jelmaan dari Tuhan.

Pandangan ini memiliki kemiripan dengan emanasi yang dicetuskan oleh Plotinus dan diadopsi hingga Al-Farabi bahwa manusia adalah bagian dari Tuhan. Bedanya, monisme logis dan panteisme lebih menekankan aspek kesatuan tunggal tanpa pembagian hierarkis berlapis dari sinar Zat yang Esa sebagaimana pemahaman emanasi.

Monisme logis lebih dekat dengan filsafat Parmenides tentang kesatuan tunggal “Tuhan atau alam”.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Jika belum baca tentang Parmenides atau Plotinus, bisa klik tautan di bawah ini:

Filsafat Parmenides: Segala Sesuatu Tidak Ada yang Berubah

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments