Alat Penjilat Mahasiswa Bernama Paid Promote dan Sponsorship

Mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang mengenyam dan merasakan semerbak dinamika kampus. Berbagai dinamika kampus menuntut mahasiswa untuk menjadi kaum intelektual. Intelektualitas yang dimiliki mahasiswa menuntut untuk memunculkan beragam kreatifitas. Sebagai kaum muda sekaligus kaum intelektual, mahasiswa menjadi agen kreatifitas di tengah masyarakat.

Segala kreatifitas yang terorganisir secara kolektif ditampung dalam struktur organisasi mahasiswa. Organisasi menjadi wadah kreatifitas mahasiswa, sekaligus menjadi media pengembangan soft skill bagi mahasiswa. Berbagai kebermanfaatan yang di tawarkan oleh organisasi untuk mahasiswa.

Sehingga tidak sedikit mahasiswa tertarik untuk bergabung dalam organisasi. Entah itu organisasi HMP/HMJ, BEM, UKM, LDK, Ormek, dan lain sebagainya. Apapun label dan latar belakang yang dimiliki suatu organisasi mahasiswa, semuanya dapat menjadi ladang kreatifitas mahasiswa.

Beragama ide kreatif bermunculan dari mahasiswa melalui organisasi. Salah satu bentuk aktualisasinya yakni seperti mengadakan sebuah kegiatan. Beragam jenis kegiatan dalam organisasi mahasiswa, seperti seminar, lingkar diskusi, pengabdiaan, kompetisi lomba, dan lain sebagainya. Berbagai kegiatan tersebut dikemas secara kreatif oleh mahasiswa. Menggunakan tema-tema kreatif, prosedural acara yang unik, ataupun aspek-aspek lainnya yang menunjukkan identitas mereka sebsagai seorang mahasiswa.

Berbagai kegiatan tersebut juga merupakan ajang pengembangan soft skill bagi mahasiswa. Mahasiswa dituntut untuk mampu merancang sebuah kegiatan, mampu memanajemen segala tindak prosedural dalam kegiatan, bahkan dituntut untuk mampu memanajemen keuangan. Sehingga secara tidak langsung memiliki buah pengalaman dalam berorganisasi melalui pengadaan sebuah kegiatan.

Kegiatan mahasiswa secara independen dirancang oleh mahasiswa itu sendiri. Tanpa ada pihak otoritatif untuk mengaturnya. Kecuali jika kegiatan tersebut bersangkutan dengan pihak lain, seperti perizinan tempat atau bahkan penggalangan dana kegiatan. Jika berbicara perizinan tempat tentu saja mengikuti intruksi dari pemilik tempat tersebut, kecuali pihak organisasi memiliki tempat pribadi tersendiri untuk melakukan sebuah kegiatan.

Sedangkan penggalangan dana dilakukan dengan berbagai cara oleh organisasi. Ada penggalangan dana dengan metode patungan oleh setiap anggota organisasi. Metode ini biasa dilakukan oleh organisasi eksternal yang kegiatan tersebut tergolong dalam skala kecil. Sedangkan organisasi internal seperti HMP/HMJ, BEM, dan lain sebagainya, lebih menggunakan metode “mengemis pada birokrat”.

Pengemisan tersebut dilakukan guna menunjang keberlangsungan kegiatan. Namun, tidak selalu terpenuhi pengemisan yang dilakukan oleh mahasiswa ke birokrat. Pengasihan yang dilakukan oleh birokrat tidak sepenuhnya diberikan sesuai dengan pengemisan yang diminta oleh mahasiswa. Ketika hasil pengemisan mahasiswa terhadap birokrat dirasa kurang mampu menutupi biaya pengeluaran kegiatan, maka mahasiswa beralih menjilat pada pihak lain.

Salah satu pihak yang dijilat oleh mahasiswa selain birokrat adalah pihak industri atau pun pengusaha. Industri yang dijilat oleh mahasiswa tidak terukur skala perusahaannya. Selagi industri tersebut mampu mengasihi mahasiswa, maka mahasiswa akan nurut menjilat industri. Adapun metode mahasiswa menjilat kapitalis melalui media Paid Promote dan Sponsorship. Kedua media tersebut amat laris dikalangan mahasiswa untuk melakukan penggalangan dana.

Dititik inilah yang perlu dikritisi pada tindak laku mahasiswa. Ide paid promote dan sponsorship menunjukkan bagaimana mahasiswa telah didominasi oleh industri. Mahasiswa yang terkenal dengan idealitasnya pada akhirnya terbelenggu oleh realitas yang di reduksi oleh industri. Mahasiswa terkonstruksi untuk menjadi penjilat industri. Mahasiswa disetting untuk bergantung pada industri. Seolah-olah idealitas yang selalu dilontarkan dalam orator mahasiswa merupakan kesadaran semu yang dibangun oleh industri.

Mahasiswa yang merupakan pembela terdepan pada kaum proletar pada akhirnya hanya menjadi anjing peliharaan borjuis yang selalu menggonggong tetapi akan tetap nurut pada majikannya. Keterbelengguan mahasiswa dalam realitas kampus maupun masyarakat menjadi akar penyakit bagi mahasiswa.

Mari sejenak mendiagnosis penyakit mahasiswa yang terjadi saat ini. Penyakit yang pertama yakni sponsorship. Sponsorship menjadi media penjilatan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap industri kapitalis. Melalui sponsorship, mahasiswa mengajukan proposal kegiatannya kepada pihak borjuasi dengan harapan mendapat pengasihan borjuasi berupa bentuk apapun. Dalih yang ditawarkan oleh mahasiswa kepada borjuasi yakni dengan pengiklanan brand produk industri pada kegiatan mahasiswa.

Secara sederhana industri mengiklankan produknya melalui kegiatan mahasiswa. Namun, pengiklanan ini sedikit berbeda dengan pengiklanan yang ada di televisi ataupun perfilman. Perbedaannya yakni jika pengiklanan telivisi maka pihak borjuasi yang memohon untuk diiklankan dengan cara membayar biaya pengiklanan, sedangkan jika sponsorship mahasiswa maka mahasiswa yang datang ke borjuasi untuk memohon bantuan dana dengan dalih akan mengiklankan produk borjuasi tersebut.

Tindakan seperti sangat memperlihatkan bahwa idealitas yang dimiliki mahasiswa telah mati. Mahasiswa tidak memiliki kesadaran yang merdeka atas dirinya, yang ada hanyalah sebuah kesadaran semu yang dibangun oleh industri. Industri massa secara tidak langsung telah sukses menciptakan dominasi di masyarakat. Dominasi yang dibangun menciptakan sebuah ketergantung masyarakat pada industri, termasuk juga mahasiswa. Mahasiswa semakin tergantung dalam pendanaan yang diberikan oleh industri.

Penyakit mahasiswa yang kedua yakni paid promote. Secara sekilas paid promote juga merupakan bentuk penjilatan mahasiswa pada borjuasi melalui media pengiklanan. Alat paid promote mahasiswa yang paling utama yakni media sosial Instagram. Alasan menggunakan Instagram, karena dapat menjangkau massa yang lebih banyak. Instagram juga memiliki peminat yang lebih banyak dibadingkan dengan media sosial lainnya. Ditambah fitur yang ditawarkan Instagram mampu menyokong proses dominasi borjuasi pada masyarakat melalui paid promote yang diadakan mahasiswa.

Adapun kelebihan yang ditawarkan paid promote dari kegiatan mahasiswa yakni follower yang lebih banyak dan akun penyebar dominasi yang juga banyak. Tentunya hal tersebut tidak dimiliki oleh selebgram yang menawarkan jasa paid promote. Mahasiswa juga menawarkan tarif yang relatif lebih murah dibandingkan dengan tarif yang dipatok oleh selebgram. Dengan tarif yang murah ini, dapat menjadi strategi mahasiswa pada borjuasi agar mengiklankan produknya pada kegiatan mahasiswa.

Dapat terlihat bahwa tidak sedikit borjuasi yang tertarik, justru borjuasi amat sangat tertarik dengan penawaran yang diberikan mahasiswa. Dikarenakan tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut mampu memperlancar dominasi industri di masyarakat. Namun, untuk pengguna jasa paid promote cenderung dilakukan oleh para borjuasi  yang tergolong dalam industri kelas menengah kebawah.

Secara tidak langsung prilaku paid promote mahasiswa ini sebagai bentuk pelanggengan sistem dominasi yang dilakukan oleh industri kebudayaan. Industri kebudayaan sangat terbantu oleh mahasiswa untuk menggencarkan dominasi pada masyarakat. Saat ini dominasi tidak hanya melalui periklanan televisi, radio, atau perfilman, akan tetapi dominasi periklanan saat ini telah merambah pada media sosial.

Masyarakat pengguna instagram atau peserta dari kegiatan mahasiswa akan secara tidak langsung diperlihatkan berbagai produk industri. Bahkan masyarakat dapat menggenalisir bahwa kegiatan mahasiswa merupakan bentuk dukungan dari industri. Tanpa industri belum tentu keberlangsungan kegiatan mahasiswa dapat terlaksana. Berbagai dinamika taktik dominasi yang diluncurkan oleh industri massa ini, sangat memperlihatkan kesuksesannya. Industri mampu menciptakan kebutuhan palsu pada masyarakat melalui dominasi tersebut.

Masyarakat akan selalu berbondong-bondong membeli produk yang diperjualkan oleh industri tanpa menimbang kebermanfaatannya. Sebab masyarakat akan selalu disajikan berbagai bentuk produk industri melalui kegiatan mahasiswa yang begitu banyak.

Mahasiswa sebagai agen pemasok langgengnya proyeksi yang dibuat oleh industri. Mahasiswa menjadi agen penjilat industri dengan bungkus paid promote dan Sponsorship. Dapat dikatakan mahasiswa mengalami kematian dalam idealisnya, sehingga cenderung terbelenggu dalam realistas akademiknya. Mahasiswa memang BERDIKARI, berdiri diatas kaki sendiri.

Namun, mereka menelan air liur yang telah diludahkannya ketanah. Inilah cerminan mahasiswa saat ini. Mereka memang tetap berorasi dilapangan, menjunjung tinggi derajat kaum tertindas, bahkan mereka tetap merong-rong elit kuasa. Namun, atas berbagai tindakan tersebut, mahasiswa juga berpihak pada mereka yang menindas, bahkan mahasiswa mau menjadi penjilat para penindas. Inilah cerminan mahasiswa, anjing yang suka menggonggong, tapi juga peliharaan penurut majikan. Anjing yang sukanya menjilat-jilat majikan.

 

Penulis: Mohammad Maulana Iqbal, Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Surabaya.