A Man Called Ahok dan Keberlanjutan Upaya Pencapaian Identitas Tionghoa

(Poster Film A Man Called Ahok)

Selama beberapa dekade di pertengahan abad ke-20, banyak kalangan di Indonesia memperdebatkan apakah warganegara dari etnis Cina harus menghapuskan ke-Cina-an mereka untuk  menjadi Indonesia, atau mempertahankan warisan budaya mereka secara setara dengan kelompok etnis lain (Heryanto, 2012: 130). Kebimbangan dan dialektika serta perdebatan inilah yang tidak berhenti dalam politik Indonesia hari ini. Telah banyak kasus yang mencapai sebuah kemutlakan terhadap adanya diskriminasi etnis Tionghoa dalam berbagai realitas di Indonesia.

Hadirnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mewakili warna baru dalam kajian politik etnis dan identitas di Indonesia. Muncul di panggung nasional sebagai Wakil Gubernur Jakarta, dan akhirnya dengan sukarela menggantikan Jokowi yang pada saat itu memenangkan kontestasi presiden 2014. Tidak henti-hentinya Ahok menuai kontroversi, baik dari segi kebijakan dan identitasnya sebagai Tionghoa yang mendapat serangan baik langsung atau tidak.

Satu sisi Ahok merupakan pemimpin ibu kota Jakarta dengan statusnya sebagai orang Tionghoa, dan kebanyakan orang Tionghoa pun merasa adanya representasi etnisitas dalam tataran pemimpin politik. Namun di satu sisi, hal tersebut memunculkan reaksi yang sangat aktif, dimana warga penduduk muslim Jakarta, terkhusus gerakan ini dimotori oleh Front Pembela Islam (FPI) menolak jika dipimpin oleh seorang yang berbeda agama, atau dalam bahasa lebih konkretnya disebutnya sebagai orang kafir.

Klimaks bagi perlawanan FPI ini muncul ketika Ahok menyampaikan pidatonya saat kunjungan kerja di pulau seribu, pidatonya dianggap telah melecehkan umat Islam. Hingga akhirnya Ahok dijebloskan penjara dengan kasus penistaan agama. Namun tidak sampai setahun pasca Ahok dijebloskan ke penjara, masyarakat kian rindu dengan sosok Ahok yang tegas.

Akhirnya perasaan publik terakomodir dengan adanya Film “A Man Called Ahok” (2018) yang tayang pada bulan November 2018, dimana hal tersebut menjadi momentum penting bagi perfilman Indonesia. Film yang ber-genre oto-biografi ini diangkat dari kisah nyata seorang Ahok, dan di adaptasi dari sebuah buku karangan Rudi Valinka. Film “A Man Called Ahok” merupakan hasil besutan sutradara Putrama Tuta, Seorang sutradara yang mengawali karier dengan film yang sempat laris yakni film Catatan Harian Si Boy.

Tuta menjelaskan secara detail dalam wawancaranya yang dimuat di portal berita online Dw.com pada tanggal 28 September 2018 terkait dengan maksud dan tujuan dalam menggarap film Ahok ini. Intinya, dia hanya ingin film ini dinilai terkait dengan pembentukan watak dan karakter keluarga Ahok sehingga Ahok bisa menjadi orang. Dan yang terpenting bukan pada ranah film yang memuat unsur politis tersendiri.

Film ini terhitung sukses meraup penonton yang jumlahnya tidak sedikit. Terbukti dari jumlah penonton mencapai mencapai 953.476. untuk hitungan film biografi, film “A Man Called Ahok” dikategorikan sebagai film tercepat untuk meraup hampir 1 juta penonton.

Menjadi sangat penting oleh karenanya proses telaah representasi keberlanjutan identitas kaum Tionghoa dalam persoalan Ahok tersebut, guna hal akan membentuk reproduksi pemikiran, dan telaah ulang kembali tentang konstruksi mainstream masyarakat yang mengangap etnis Tionghoa adalah orang yang tidak pantas masuk dalam dunia politik, dan sangat bertentangan dengan adat serta istiadat yang ada di Indonesia.

Film ini menceritakan terkait dengan kisah interaksi edukatif antara Kim Nam (ayah Ahok) dengan Ahok, dengan latar belakang kurang lebih tahun 1970an. Kim Nam yang merupakan keluarga terpandang dari etnis Tionghoa, memiliki resistensi dari pejabat pemerintah terkait degan bisnis yang ia coba untuk dibangun secara jujur.

Dimana kala itu seperti yang telah disampaikan sebelumnya era Orde Baru membuka peluang bisnis yang sangat pesat bagi kaum Tionghoa. Dengan bisnis batu bara yang digeluti ayahnya, hal ini membuat keluarga Ahok diperhitungkan bahkan menjadi keluarga terpandang di Belitung Timur.

Pada bagian awal film menceritakan kisah keluarga Ahok terkhusus ayahnya, yakni Kim Nam yang memiliki sifat dermawan. Masyarakat kala itu ketika ada dalam kondisi susah sering dipinjami uang untuk biaya pengobatan atau hal lainnya oleh Kim Nam. Bahkan di saat kondisi keluarga Ahok dalam keadaan tidak ada uang sama sekali, ayahnya diam-diam sering berhutang terlebih dahulu untuk meminjamkan uang kepada warga disekitarnya.

Adegan yang berulang-ulang disajikan terkait dengan kedermawanan ayah Ahok ini adalah bentuk penggambaran pembentukan identitas dan karakter Kim Nam kepada anak-anaknya. Hal ini mengonfirmasi bahwa fokus cerita yang ada dalam film ini adalah pada aspek ranah pendidikan keluarga Ahok.

Konflik kepentingan muncul ketika bisnis keluarganya tidak dalam keadaan yang sedang baik-baik saja. Para birokrat pemerintah kala itu memanfaatkan segala kecenderungan kecurangan dalam proses jalannya bisnis batu bara, ada hal yang secara tegas ditolak oleh Kim Nam yang menjadi pemilik perusahaan batu bara tersebut, ketika hal tersebut bertentangan dengan prinsipnya, yakni persoalan suap-menyuap.

Pada satu adegan dimana, Ahok kecil kala itu diberikan nasihat oleh ayahnya bahwa walaupun kita memiliki kekayaan, kekayaan tersebut tidak ada artinya untuk diperjuangkan demi kebaikan kalau kita tidak sama sekali menjadi penguasa.

Dan hal tersebutlah yang mendorong Ahok harus terjun ke dalam dunia politik. Karena ada nilai keyakinan mutlak dimana “orang miskin kalah oleh orang kaya dan orang kaya kalah oleh penguasa. Maka jadilah penguasa” diulang beberapa kali dalam scene film tersebut. Narasi besar film ini memuat nilai pembentukan karakter dalam keluarga dan pengenalan nilai nasionalisme etnis Tionghoa yang berusaha menunjukan kepeduliannya pada Indonesia tanpa mengenal terkait latar belakang suku dan agama.

Film ini tidak bercerita tentang kehidupan Ahok, namun menekankan pada aspek dimana keluarga etnis Tionghoa yang ‘berada’ mendidik dan membentuk karakter anak supaya bisa teguh dalam memperjuangkan prinsip.

Berdasarkan pengamatan saya yang menonton langsung film tersebut di bioskop tepatnya di Yogyakarta. Jumlah etnis Tionghoa atau masuk dalam kategori ‘China-Indonesia’ sangatlah banyak. Hal ini membawa pada keyakinan subyektif saya bahwa film “A Man Called Ahok” membawa pada representasi identitas Tionghoa dalam pertarungan dinamika layar sinematis di Indonesia.

Namun, hal tersebut juga sempat menjadi perdebatan, bahwa para etnis Tionghoa menonton Ahok karena memang sifat tegas, dan dermawan serta tulus dalam kehidupan berbangsa. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis ketika berdialog dengan keluarga etnis Tionghoa yang ada di Yogyakarta yang pada saat itu menonton film A Man Called Ahok di salah satu bioskop di Yogyakarta.

Terlepas dari seluruh kepentingan politik yang coba dihadirkan dalam geliat film ini oleh masyarakat. Film ini mampu menghadirkan kerinduan bagi pendukungnya terhadap sosok Ahok tersendiri. Sikap idealis Ahok yang terpapar dalam film ini, membawa pada ranah keyakinan etnis Tionghoa dalam membela bangsa dan negara, walaupun kebanyakan orang mendiskriminasi etnis tersebut. Setidaknya figur Ahok mampu untuk membawa peluang yang sangat besar dalam ghirah perjuangan anak muda Tionghoa ke depannya.

Hal ini pun mengonfirmasi geliat anak muda Tionghoa dalam berpolitik, dan menjadikan Ahok sebagai basis percontohannya. Dimana titik tekan yang kemudian dijadikan sebagai basis perpolitikan Tionghoa, dan Ahok muncul sebagai orang yang mampu menghapus trauma sosial politik Tionghoa.

Ahok menjadi figur yang sangat kuat bagi masyarakat Tionghoa dan membentuk keberanian bertindak serta melangkahkan kakinya ke dunia politik. Hal ini sangatlah luar biasa, mengingat satu tokoh Ahok dalam lensa masyarakat bisa memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam ranah perjuangan identitas etnis untuk leluasa bersikap dalam masyarakat luas di Indonesia.

Film “A Man Called Ahok” (2018) bisa disebut sebagai salah satu film yang sukses bagi keberlanjutan pencapaian identitas etnis Tionghoa dalam pencapaian identitas ke-Indonesiaan-nya dikarenakan beberapa hal. Pertama, film ini memuat jati diri dan ruang lingkup pendidikan keluarga yang coba disampaikan oleh ayahnya Ahok, Kim Nam, dalam berlaku dan berbuat pada siapapun.

Sikap dermawan ini menjelaskan, setidaknya, bahwa keluarga Tionghoa sama sekali tidak memiliki penyikapan berbeda pada siapapun jika persoalan membantu. Tidak selalu terkesan pelit. Tidak ada karakter kontra disini, orang-orang Tionghoa dalam film ini lebih selaras dan memiliki sifat yang sama, yang pada intinya menunjukan nilai kebaikan.

Setidaknya film ini sangat bertentangan dengan film Pai Kau (2018) yang sangat memiliki nilai stereotipe klise, dimana hanya ada satu dimensi terkait dengan keluarga China di Indonesia: keturunan keluarga China-Indonesia dipotret sebagai gangster, dan merepresentasikan bahwa orang Tionghoa adalah kapitalis-tertutup.

Kedua, seperti yang sudah disinggung, film ini sukses untuk menghadirkan kerinduan publik terhadap Ahok, dan memicu geliat semangat etnis Tionghoa dalam ghirah berpolitik. Walaupun dalam film ini dengan jelas sutradara menyebutkan tidak bermaksud membawa nuansa politis, hanya ingin menyemai persoalan from zero to hero dengan aktor utamanya adalah Ahok.

Namun hal ini memunculkan semangat etnisitas untuk berbuat dan bersikap dalam perpolitikan, ataupun kehidupan bermasyarakat. Hal ini lah yang kemudian menjadi titik tolak kebangkitan etnis Tionghoa terutama dalam pembingkaian film layar lebar sehingga mendapatkan simpati publik yang cukup banyak.

Setidaknya persoalan identitas ini tidak akan kemudian bersifat tetap, akan ada penyikapan yang sangat fluid dari masyarakat tentang cara pandang dan penilaian terhadap satu etnis yang dikategorikan minoritas. Namun, upaya strategi dan pencapaian dalam persoalan pop-culture terlebih film layar lebar menunjukan akan adanya sikap yang tidak henti-hentinya bahwa persoalan etnisitas tidak menghambat pada proses untuk berbakti kepada bangsa.

 

Penulis: Alrdi Samsa, Mahasiswa S2 Politik dan Pemerintahan UGM

 

Baca Juga:

Aksi Bela Islam dan Reuni 212 dalam Tinjauan Politik Identitas

Tentang Post-truth dalam Film Spider-Man: Far From Home