3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

Santo Agustinus

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

Santo Agustinus merupakan orang pertama dalam instansi Gereja yang secara sistematis membangun filsafatnya dengan tujuan menyelaraskan kebenaran sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci.

Kata instansi Gereja perlu ditebalkan untuk memperjelas corak filsafat yang merupakan produksi suatu lembaga demi kepentingannya, dalam hal ini bersifat keagamaan.

Bagaimana pun juga sebuah konsepsi kekuasaan, apalagi berbasis legitimasi religius, membutuhkan seperangkat sistem pemikiran yang menyokong eksistensi dari kekuasaan lembaga tersebut.

Tak ayal, Santo Agustinus adalah seorang filsuf dan teolog paling berpengaruh dalam sejarah Abad Pertengahan. Ialah yang memberikan pijakan melalui konsep negara Tuhan yang berimplikasi bagaimana seharusnya ketundukan kaisar atau kekuasaan sekuler harus sepenuhnya mengekor terhadap kebijakan Gereja.

Dalam berbagai tulisannya, ia mengaku pengagum Plato dan Plotinus (pendiri mazhab neoplatonisme) sebagai sosok filsuf suci. Bahkan beberapa pemikirannya menunjukkan bagaimana Agustinus terpengaruh dua figur besar Yunani tersebut.

Sayangnya, Agustinus tidak bisa memberikan kepatuhan yang mutlak terhadap ajaran Platonisme. Terutama terkait dengan perdebatan asal mula terciptanya alam semesta, dimana Plotinus memilki sebuah pemahaman yang tidak selaras dengan Kitab Kejadian.

Alhasil, Santo Agustinus membangun ulang filsafat dan teologinya karena kebutuhan untuk menyesuaikan segala bentuk pemikiran Yunani sebagai dasar pembenaran Kitab Kejadian.

Ada tiga hal penting yang akan saya kemukakan terkait landasan dasar filsafat dan teologi Santo Agustinus. Tentu hanya memfokuskan pada tiga aspek saja merupakan reduksi yang besar bagi ajaran Agustinus yang luas, daripada itu, tiga hal ini menjadi semacam pengantar awal dan merupakan hal-hal yang sangat penting.

Materi dari tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell (2021) berjudul “Sejarah Filsafat Barat”, khususnya pada bab “Filsafat Teologi Santo Agustinus”.

  1. Dunia Berawal dari Ketiadaan dan Teori Waktu Santo Agustinus

Satu ajaran paling penting dalam filsafat murni Agustinus adalah mengajukan pandangan bahwa awal mula penciptaan alam semesta bermula dari ketiadaan, sebuah dogma yang sudah mengakar dalam pemahaman Kristen.

Kalau kita kembali menyimak pemikiran-pemikiran Yunani pada tulisan-tulisan sebelumnya, pernyataan bahwa alam semesta berawal dari ketiadaan adalah sebuah gagasan yang relatif asing bagi mereka.

Ketika berbicara tentang proses penciptaan alam semesta, Plato seakan-akan membayangkan ada sebuah materi purba yang kemudian dilimpahi forma Tuhan sebagai cikal bakal alam semesta. Gagasan ini juga sepadan dengan Aristoteles.

Filsuf-filsuf yang jauh ke belakang seperti Thales, Anaximenes, Heraklitus, Empedokles, Democritus hingga Epikurus dan Stoa masing-masing meyakini ada sebuah subtansi dasar yang menjadi cikal bakal terwujudnya alam semesta, entah air, tanah, udara, api, atom dan sebagainya.

Dalam alam pikir Yunani, Tuhan bukan semacam pencipta sebagaimana kita pahami, tapi layaknya arsitek yang merancang sebuah bangunan semesta berdasarkan bahan baku yang sudah tersedia.

Agustinus tidak menyepakati keseluruhan pemikiran tersebut dan berbalik berpandangan bahwa dunia ini tidak diciptakan oleh materi tertentu, melainkan tercipta dari ketiadaan. Tuhan adalah pencipta materi secara keseluruhan. Ia tidak hanya menyusun ulang atau menjaga ketertibannya saja.

Allah sebagai tuhan bersifat kekal dan terbebas dari belenggu ruang dan waktu. Kita semestinya menjauhkan diri dari berpikir untuk memahami ruang dan waktu sebelum dunia diciptakan. Tidak ada waktu sebelum dunia diciptakan, dan tidak ada pula tempat bagi dunia sebelum penciptaan.

Kaitan dengan ketiadaan dan eksistensi Tuhan tersebut mengantarkan Agustinus pada teori tentang waktu.

Ia menyatakan, waktu diciptakan bersamaan dengan dunia diciptakan, sedangkan Sang Pencipta (Tuhan) bersifat kekal sehingga berada di luar waktu. Konsekuensinya, bagi Allah, tidak ada yang namanya masa lalu dan masa depan, yang ada adalah kekinian yang kekal semata. Keseluruhan waktu adalah kehadiran saat ini bagi Dirinya yang Kekal.

Cara manusia berpikir tentang waktu adalah sebuah lintasan yang berada di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu adalah ingatan, apa yang terjadi sekarang adalah kekinian membuat pertimbangan, dan masa depan adalah sebuah harapan.

Kita coba langsung sederhanakan. Bagi Agustinus, apa yang kita sebut “waktu” sebenarnya bersifat sangat subjektif yang terletak di dalam pikiran manusia, yang mengingat, mempertimbangkan, dan mengharapkan sesuatu.

Maka, waktu itu muncul karena ada persepsi di dalam diri manusia. Kehadiran apa yang disebut waktu bersamaan dengan terciptanya makhluk. Dengan kata lain, tak mungkin ada waktu tanpa ada makhluk, dan memperdebatkan waktu sebelum terjadinya penciptaan dari Allah adalah sebuah hal yang sia-sia.

Pemikiran Agustinus tentang waktu bersifat subjektivisme yang sangat ekstrem dan melampaui subjektivisme kaum Stoa bahkan Aristoteles sendiri. Pemikiran manusia tentang waktu adalah proses subjektif yang berasal dari proses mental.

Intinya: alam semesta tercipta dari ketiadaan, Tuhan adalah yang menciptakan segala sesuatu. Dari situ, muncullah teori waktu untuk mendukung gagasan tersebut.

Santo Agustinus
(Santo Agustinus. Sumber Gambar: Kompasiana)
  1. City of God

Pada tahun 410, kekuasaan Roma diganyang orang-orang Goth. Kaum Pagan berpendapat bahwa malapetaka yang terjadi di Roma karena para penguasa telah menelantarkan Jupiter.

Mereka mengatakan bahwa dulu ketika Roma masih memuja Jupiter, kondisi negara senantiasa diberkati oleh dewa. Sedangkan setelah penguasa memalingkan perhatiannya dari Jupiter, maka dewa tidak lagi melindungi Kota Roma.

Argumen kaum Pagan menginspirasi Agustinus untuk menciptakan risalah berjudul “The City of God” (ditulis berangsur-angsur sejak tahun 412-427 Masehi). Buku tersebut merupakan bantahannya terhadap pendapat kaum pagan.

Salah satu pemikiran paling populer dalam buku tersebut adalah tentang keberadaan dua jenis kota di dunia: kota duniawi (Kota Manusia) dan kota ukhrowi (Kota Tuhan). Keberadaan dua kota ini memang tidak bisa dipilah dengan tegas dalam kehidupan duniawi ini, namun kelak di Akhirat, dua kota tersebut akan muncul secara jelas.

Pemahaman dalam “The City of God” Santo Agustinus sangat berpengaruh sepanjang Abad Pertengahan dan menginspirasi Gereja untuk berjuang melawan pangeran-pangeran sekuler. Konsepsi tentang pemisahan kekuasaan: negara sekuler dan negara teokrasi menjadi konsepsi turunannya.

Keimanan bulat agama menyatakan sebuah negara bisa menjadi bagian dari Kerajaan Tuhan jika pada Gereja. Kelemahan-kelemahan para kaisar dam sebagian monarki Barat di Abad Pertengahan membuat Gereja mampu mewujudkan keinginan idealnya tersebut. namun untuk beberapa wilayah Timur yang kekuasaan kaisar begitu kuat, dalam realitasnya gereja tetap tunduk pada negara.

Ulasan tentang negara teokrasi sudah pernah dibahas di website ini sebelumnya, sehingga saya tidak merasa perlu untuk mengulangi pembahasan serupa.

(Bagi yang belum baca, bisa klik di sini).

  1. Dosa Asal dan Penebusan

Muatan topik dalam teologi Agustinus banyak berkaitan dengan bantahan terhadap ajaran yang dianggap bidah dari Palgian, yang dipelopori oleh Peligius.

Ajaran tersebut menyerukan bahwa ia meyakini adanya kehendak bebas manusia, dan menggugat dosa asal dalam dogma Kristen. Peligius berpendapat pula bahwa jika ada orang yang berbuat kebaikan pada dasarnya ia bertindak seturut kehendak bebasnya sendiri.

Ganjaran karena perbuatan benar tersebut mengakibatkan dia otomatis akan dimasukkan surga karena pahala dan keutamaan mereka sendiri (dalam Islam mirip dengan teologi Qodariyah).

Pemikiran demikian agaknya di era sekarang biasa-biasa saja, namun di era Agustinus, pemahaman seperti itu menimbulkan keguncangan dahsyat terhadap tertib teologis keagamaan.

Agustinus yang keberatan menekankan bahwa awalnya Adam dan Hawa dikarunia kehendak bebas asali ketika bertempat tinggal di surga. Sayangnya ketika mereka lalai dengan memakan buah apel (khuldi) yang menjadi larangan Tuhan, maka kerusakan pun merasuki jiwa mereka.

Dosa itu berlangsung bukan di dalam jasmani, namun terdapat di dalam jasmani atau tubuh. Akibatnya jiwa setiap anak manusia turut menanggung warisan dosa universal ini.

Sekiranya pendahulu kita tidak melakukan perbuatan dosa, maka mereka dan termasuk kita semua tidak pernah mengalami mati alias abadi. Makan apel itu bukan hanya mengakibatkan kematian semata, namun kutukan besar bagi jiwa manusia.

Akibatnya manusia harus turun ke bumi dan menjalani kehidupan duniawi. Melorotlah derajat manusia dari jiwa menjadi jasmani. Senada dengan pendapat Plato, dunia inderawi tempat manusia sekarang hidup derajatnya lebih rendah dibanding dunia yang kekal.

Kita tidak usah mengeluhkan kenyataan tersebut karena pada dasarnya manusia itu jahat. Upaya apa pun yang dijalankan manusia tidak akan bisa menjadikan dirinya mencapai keutamaannya kembali. Hanya dengan rahmat Tuhan semata, manusia menjadi saleh kembali diberkati.

Pembabtisan adalah sebuah jalan bagi manusia mengakui dosa dan berusaha melakukan pemembasan diri dari kutukan. Setiap bayi yang lahir dan meninggal tanpa sempat dibabtis berpotensi besar masuk neraka dan menanggung siksa abadi.

Ketika pada akhirnya ada manusia yang kembali ke tempat asal nenek moyangnya dahulu, surga, itu bukanlah karena kehendak bebas manusia, tapi rahmat Tuhan yang dilimpahkan kepada orang-orang yang terpilih.

Tidak ada penjelasan lebih jauh atas dasar apa Tuhan memilih manusia-manusia tertentu menjadi kelompok yang terpilih dan sebagain terkutuk abadi. Hal ini sepenuhnya tergantung keputusan Allah yang adil. Penebusan dosa adalah wujud belas kasihan Tuhan. Keduanya mencirikan Tuhan yang Maha Baik.

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Filsafat dan Teologi Santo Agustinus” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Dunia Hellenistis” hal. 473-491.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

Filsafat Sinisme di Era Hellenisme, Ajaran Diogenes dan Antisthenes

Filsafat Skeptis di Era Hellenisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments